Kompas.com - 23/07/2013, 15:06 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

MYANMAR, KOMPAS.com - Beberapa warga lokal sempat bertanya kepada saya, “Anda wartawan?” Saya tegas menjawab, ”Bukan, saya turis”. Namun, jika melihat tatapan mata mereka, saya yakin mereka tak percaya dengan jawaban saya itu. Meski, saya tidak tahu apa yang akan terjadi kalau saya mengaku sebagai wartawan.

Di depan pintu gerbang yang tertutup rapat terdapat tenda-tenda kecil. Mereka adalah para aktivis dan pengurus partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi, Liga Nasional Demokrat yang membagikan makanan bagi masyarakat yang lewat, dan para mahasiswa yang berorasi.

Saya mendekat dan mencoba masuk ke dalam rumah itu, tapi beberapa penjaga dengan sigap mencegah. “Tidak boleh masuk, dia (Aung San Suu Kyi, red) tidak ada di sini, lagi di Jepang”, ucap salah satu penjaga.

Alhasil, saya hanya bisa melongok ke dalam rumah. Terlihat halaman luas nan asri dengan bangunan tua yang terurus rapi. Sekilas mengingatkan saya pada adegan film Hollywood, the Lady, yang mengisahkan perjuangan Aung San Suu Kyi untuk demokrasi di Myanmar.

Di luar dugaan, rumah kediaman Aung San Suu Kyi di Yangon, Myanmar ternyata tidaklah terlalu populer di kalangan supir taksi dan masyarakat pada umumnya. Saya harus menunjukkan alamat jelas dari buku panduan Lonely Planet dan Wikipedia, 54 University Avenue.

Lokasinya agak jauh dari pusat kota. Taksi biasanya meminta harga sekitar 3000-4000 Kyat. Secara umum memang tidak ada yang spesial dan unik dari rumah ini. Namun, rasanya akan berbeda ketika tahu latar belakang dan cerita di balik bangunan tersebut.

Di rumah ini, Aung San Suu Kyi menyaksikan perjuangan sang ayah, Aung San, untuk mewujudkan negara Myanmar yang lebih baik. Di rumah ini pula Aung San ditangkap oleh penguasa saat itu, dengan disaksikan sang putri, Aung San Suu Kyi.

Diberitakan, sampai Februari 2013 lalu, rumah ini masih ditutup untuk umum. Di depannya dipasangi barikade kawat berduri. Namun saat ini para turis, masyarakat lokal, dan aktivis partai bebas berkunjung ke rumah ini.

“Dia adalah pimpinan kami karena kami ingin demokrasi di Myanmar”, ujar salah seorang mahasiwa yang ikut berorasi di depan rumah Aung San Suu Kyi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.