Balong, Lumbung Pangan Priangan

Kompas.com - 27/07/2013, 12:36 WIB
Balong atau kolam ikan menjadi pekarangan rumah warga di Desa Kurnia Bakti, Ciawi, Jawa Barat, Rabu (19/6/2013). Tempat itu juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sunda. KOMPAS/PRIYOMBODOBalong atau kolam ikan menjadi pekarangan rumah warga di Desa Kurnia Bakti, Ciawi, Jawa Barat, Rabu (19/6/2013). Tempat itu juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sunda.
EditorI Made Asdhiana

Turun temurun

Kebiasaan warga memelihara ikan juga masih bisa dilacak di Desa Ciawi atau desa Pakemitan yang saling bertetangga di Kabupaten Tasikmalaya. Suami-istri, Ending Zainuddin dan Cucu, serta Agus dan Euis Holilah, adalah beberapa contoh saja. Persis di belakang rumah mereka, terdapat kulah seluas rumah. Di rumah Agus-Holilah, kulah atau balong bahkan ada di belakang dan depan rumah mereka karena air sungai mengalir deras tanpa pernah kering.

”Seingat saya, kakek saya sudah terbiasa memelihara ikan di kulah di belakang rumah, hanya untuk lauk-pauk saja,” kata Ending saat kami temui beberapa waktu lalu. ”Ini kebiasaan orang tua dan karuhun, saya tidak pernah menjual ikan peliharaan selain untuk menyantapnya,” ungkap Euis mengenai keberadaan kulah atau balong miliknya.

Ikan air tawar adalah menu utama masyarakat Priangan Timur. Bila balong mereka gunakan untuk mencari uang dengan menjual ikan kepada pedagang keliling menggunakan kojang, untuk lauk-pauk sehari-hari mereka memanfaatkan kulah yang lebih kecil. Caranya dengan menggunakan ayakan atau sair bongkok. Sementara mengambil ikan di balong yang lebih luas menggunakan alat memancing yang disebut useup dilengkapi jeujeur dengan umpan terkait di mata kail. Kalau dengan nguseup ikan sulit didapat, maka dilakukan nyirib atau ngecrik menggunakan jaring yang dianyam.

Ngabedahkeun adalah cara menangkap ikan dengan membuang air kolam tempat memelihara ikan. Kebiasaan ini dilakukan jika menghadapi hajatan besar seperti khitanan atau menikahkan. Gelondongan bambu yang disebut kuluwung di mana penyekat bukunya sudah dijebol biasa diletakkan di dasar kolam. Tujuannya untuk dijadikan tempat persembunyian ikan sehingga saat ngabedahkeun tiba kuluwung itu tinggal diangkat. Ikan yang terperangkap di dalam kuluwung itu tidak bisa melarikan diri.

Memelihara ikan gurami wajib hukumnya, sebab ikan yang beratnya bisa mencapai 10 sampai 15 kilogram ini akan menjadi ”pajangan” wajib sahibul hajat. Pada masa lalu, setelah digoreng kering, gurami besar dihiasi sebagaimana kaum perempuan menghiasi kue bolu. Sekarang masyarakat tetap memelihara gurami baik untuk dikonsumsi maupun dijual.

Selain gurami, jenis ikan yang mereka pelihara antara lain ikan mas, nilem, sepat, rambak, tawes, nila, dan mujair. Belakangan ikan sepat, rambak, dan tawes sudah tidak dipelihara lagi. Ikan nila baru satu dekade lalu dipelihara dan dibudidayakan. Mujair biasa disebut ikan haram karena tanpa memelihara pun ia hidup dengan sendirinya sebagaimana jenis ikan yang lebih kecil seperti beunteur, burayak, berenyit, jeler, lele, dan betok. Sekarang masyarakat terbiasa memelihara lele dumbo, kakap tawar, dan patin, yang tidak termasuk ”ikan asli” Jawa Barat. Bukan untuk dimakan, tetapi untuk dijual.

Siap santap

Namanya juga untuk lauk-pauk, tidak sulit bagi masyarakat Jawa Barat mengolah ikan dari balong sehingga menjadi makanan siap santap. Pada masa lalu tatkala keletik (minyak goreng) masih dianggap barang mahal, ibu-ibu biasa mais atau membuat pepes ikan. Ikan yang telah diberi bumbu dibungkus daun pisang untuk kemudian dibubuy atau dibenamkan ke dalam bara api dari hawu (tungku). Untuk menjaga bara tetap menyala, biasa digunakan songsong untuk mengalirkan udara yang berasal dari tiupan mulut. Songsong terbuat dari buluh bambu sepanjang 30 sentimeter.

Sekarang tatkala hawu sudah tergeser kompor gas, kebiasaan mais sudah tidak ada lagi, tetapi ikan diseupan atau dikukus. Mau lebih praktis lagi, ikan digoreng saja. Selain dipais (dipepes) atau diseupan (dikukus), ketiadaan minyak goreng diakali dengan cara mindang, yakni merebus ikan menggunakan kastrol sampai kering tak berkuah dan tulang-belulang ikan benar-benar menjadi lunak.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wisata di Kawasan Konservasi, Ini 4 Hal yang Perlu Diperhatikan

Wisata di Kawasan Konservasi, Ini 4 Hal yang Perlu Diperhatikan

Travel Tips
Daftar Lengkap TN, TWA, dan Suaka Margasatwa di Indonesia

Daftar Lengkap TN, TWA, dan Suaka Margasatwa di Indonesia

Jalan Jalan
Wisatawan ke Gunungkidul yang Tak Bawa Hasil Rapid Tes Antigen Diminta Pulang

Wisatawan ke Gunungkidul yang Tak Bawa Hasil Rapid Tes Antigen Diminta Pulang

Whats Hot
Indonesia Punya 556 Kawasan Konservasi, Mana yang Boleh Dikunjungi?

Indonesia Punya 556 Kawasan Konservasi, Mana yang Boleh Dikunjungi?

Jalan Jalan
Selama PTKM DIY, Kunjungan Wisatawan ke Bantul Turun 50 Persen

Selama PTKM DIY, Kunjungan Wisatawan ke Bantul Turun 50 Persen

Whats Hot
Promo Harga Tiket Masuk Sea World Januari 2021, Mulai dari Rp 115.000

Promo Harga Tiket Masuk Sea World Januari 2021, Mulai dari Rp 115.000

Promo Diskon
Air Terjun Tumpak Sewu Aman Dikunjungi meski Gunung Semeru Keluarkan Awan Panas Guguran

Air Terjun Tumpak Sewu Aman Dikunjungi meski Gunung Semeru Keluarkan Awan Panas Guguran

Whats Hot
Qatar Airways Pensiunkan Setengah Armada Pesawat A380

Qatar Airways Pensiunkan Setengah Armada Pesawat A380

Whats Hot
Homestay Desa Wisata Gerupuk, Penginapan Terjangkau Saat MotoGP Mandalika

Homestay Desa Wisata Gerupuk, Penginapan Terjangkau Saat MotoGP Mandalika

Whats Hot
3 Rental Campervan di Yogyakarta untuk Sensasi Camping yang Beda

3 Rental Campervan di Yogyakarta untuk Sensasi Camping yang Beda

Jalan Jalan
Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Tetap Buka Zona 2 Selama PPKM

Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Tetap Buka Zona 2 Selama PPKM

Whats Hot
BPCB Yogyakarta Tutup Obyek Wisata Cagar Budaya Selama PPKM

BPCB Yogyakarta Tutup Obyek Wisata Cagar Budaya Selama PPKM

Whats Hot
Aturan ke Bali Saat PPKM, Catat Sebelum Berangkat

Aturan ke Bali Saat PPKM, Catat Sebelum Berangkat

Travel Tips
6 Tempat Wisata Sekitar Kebun Buah Mangunan, Puas Nikmati Negeri di Atas Awan

6 Tempat Wisata Sekitar Kebun Buah Mangunan, Puas Nikmati Negeri di Atas Awan

Jalan Jalan
Wisata Cagar Budaya di Jawa Tengah Tutup Sementara, Mana Saja?

Wisata Cagar Budaya di Jawa Tengah Tutup Sementara, Mana Saja?

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X