Angkat Derajat Peuyeum

Kompas.com - 30/07/2013, 16:22 WIB
Peuyeum  ditawarkan dengan cara digantung di toko pusat jajanan dekat Terminal Leuwi Panjang, Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/7/2013). KOMPAS/PRIYOMBODOPeuyeum ditawarkan dengan cara digantung di toko pusat jajanan dekat Terminal Leuwi Panjang, Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/7/2013).
EditorI Made Asdhiana

Peuyeum selalu punya tempat tersendiri di hati warga Jawa Barat. Tiap kali menyantap peuyeum, mereka akan terkenang suasana rumah di pedesaan. Peuyeum singkong biasa dimakan sebagai camilan, sedangkan peuyeum ketan baru akan dibuat menjelang Lebaran atau pada saat menggelar pesta hajatan. ”Waktu kecil, camilan saya, ya, peuyeum itu,” kata Popon.

Jika sedang jauh dari rumah, Popon sering kali merasa rindu untuk kembali mencicipi peuyeum. Nostalgia pada peuyeum yang sarat kenangan itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa Sentral Peuyeum tak pernah sepi pelanggan. Dalam sehari, Sentral Peuyeum memproduksi lebih kurang 1 kuintal peuyeum singkong dan 50 kilogram peuyeum ketan. Jumlah itu berlipat hingga tiga kali pada akhir pekan.

Sentral Peuyeum mulai berinovasi dengan wadah besek dari sebelumnya menggunakan keranjang berlapis daun sejak Gunung Galunggung meletus pada tahun 1982. Debu vulkanik yang menyelimuti Tasikmalaya kala itu membuat warga kesulitan mencari daun pisang sebagai pelapis peuyeum. Wadah besek terbukti digemari karena tingkat higienitasnya lebih tinggi dibandingkan jika peuyeum digantung di udara terbuka.

Dicocol enak

Peuyeum singkong juga bermetamorfosis menjadi salah satu oleh-oleh khas Bandung. Tak hanya dinikmati utuh (singkong yang diberi ragi hingga matang), peuyeum juga bisa dinikmati setelah diolah menjadi penganan lain. Colenak salah satunya.

Kudapan yang namanya merupakan kependekan dari ”dicocol enak” ini terbuat dari peuyeum yang dibakar. Cara menikmatinya adalah dengan dicocol pada gula merah yang dicairkan bersama kelapa. Rasanya, tentu saja manis legit, cocok diminum dengan teh pahit.

Di Bandung, Colenak Murdi Putra bisa dikatakan sebagai pelopor. Colenak yang namanya diambil dari nama penjualnya ini sudah ada sejak tahun 1930. Lokasi jualannya pun masih sama seperti ketika Aki (kakek) Murdi berjualan, yaitu di Jalan Ahmad Yani, Bandung. Bedanya, dulu Aki Murdi berjualan di toko kecil dan membakar sendiri peuyeum di bagian depan toko.

Saat ini, Bety Nuraety (41), generasi ketiga, berjualan colenak di toko yang telah dilengkapi beberapa meja dan kursi sebagai tempat makan. Merujuk pada kebiasaan zaman baheula, kata Bety, colenak cocok dimakan dengan kerupuk aci.

Kemasan juga menjadi pembeda Colenak Murdi Putra zaman dahulu dan sekarang. ”Dulu, colenak dibungkus daun yang direkatkan dengan biting. Bitingnya dibuat sendiri oleh nenek dari bambu,” tutur Bety yang pada saat ini mengemas colenak dengan kertas berwarna coklat pembungkus nasi.

Munculnya variasi aroma, yaitu nangka dan durian, pada gula menjadi perbedaan lain. Aroma nangka muncul berkat ide Supiah (74), ibunda Bety. Adapun durian adalah ide dari Bety. Meski telah mengalami beberapa perkembangan, resep dan bahan baku utama tidak berubah selama puluhan tahun.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X