Kompas.com - 05/08/2013, 10:52 WIB
EditorI Made Asdhiana
PERJALANAN yang telah usai selalu menanggalkan kepenatan. Yang tersisa hanyalah kerinduan dan kenangan indah nan tak tercerai zaman. Kerinduan terhadap kawan seperjalanan, kepada mereka yang dijumpai, tentang alam dan budaya yang ditemukan dalam pelintasan.

Itulah yang terbawa pulang saat pesawat berbaling-baling tunggal maskapai Susi Air lepas landas dari Bandara Nabire, Papua. Pesawat mungil Cessna Grand Caravan penampung 12 penumpang itu membubung, meninggalkan Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) yang semakin jauh di belakang.

Kulit yang tak terang pun semakin legam, ”buah tangan” yang Kompas bawa dari berlayar selama tujuh hari, menyusuri lepas pantai Teluk Cendrawasih. Semua itu bermula dari ajakan Dewi Satriani, Manajer Komunikasi Kelautan dan Spesies Kelautan WWF Indonesia. ”Gue mau jalan, bikin film potensi wisata di Teluk Cendrawasih. Lu mau ikut enggak?” tanya sarjana komunikasi lulusan UI yang sudah sejak 20 tahun silam punya hobi menyelam tersebut.

Mengapa harus ditolak? Apalagi dalam agenda tercantum kegiatan pemantauan lokasi pemijahan ikan-ikan karang dan pengambilan footage (petikan film) hiu paus. Tak usah dibaca saksama. Makna sederhana semua aktivitas itu adalah menyelam. Tidak setiap saat kita bisa menyelam di lokasi eksotis yang bukan dive spot wisata, bukan? Menggiurkan.

Gurano bintang

Hari keenam pelayaran. Kapal lunas ganda Tuturuga sudah membawa kami sejauh hampir 400 kilometer. Jika mengingatnya, kapal bercat putih milik WWF Indonesia dengan panjang geladak 12 meter itu selalu menerbitkan senyum. Inilah kapal dengan nama kura-kura (tuturuga bermakna penyu atau kura-kura laut), tetapi bergambar panda di lambungnya. Tuturuga punya dua mesin berkekuatan 500 tenaga kuda. Betapa banyak ”satwa” di kapal sekecil itu.

Namun, sedang tidak ada senyum di bibir banyak penumpang Tuturuga. Sudah sekian lama kami berlayar, sudah hampir 20 perahu bagan penjaring ikan puri (teri) yang kami sambangi, tak seorang nelayan pun yang mengaku melihat gurano bintang hari itu. ”Hari ini tidak ada,” kata salah satu nelayan bagan, menjawab pertanyaan Casandra ”Cassie” Tania, si peneliti dari WWF Indonesia yang berkantor di Wasior, Papua Barat.

”Anak” Jakarta yang sudah dua tahun bekerja di Teluk Cendrawasih ini memang jadi andalan tim Tuturuga untuk berkomunikasi dengan warga atau nelayan lokal. Wajar diandalkan. Cassie hapal arah kampung, pulau, atau tanjung kecil di TNTC.

Ah, gurano bintang. Nama yang cantik. Nama dari bahasa Papua itu terdengar jauh lebih indah dari terjemahan Indonesia untuk whale shark, hiu paus (Rhincodon typus). Inilah spesies ikan terbesar di bumi dan banyak dijumpai di TNTC. Panjang gurano bintang mencapai 12 meter.

KOMPAS/YUNAS SANTHANI AZIS Meski bersifat selalu bermigrasi, gurano bintang diduga selalu hadir di Teluk Cendrawasih, Papua.
Hiu kelewat bongsor tak bergigi pemakan kril dan teri inilah yang jadi puncak ”atraksi” perjalanan kami. Kini, harapan tinggal tertuju pada satu perahu bagan tersisa, di lepas pantai resor kecil Kalilemon yang terletak di sisi timur Tanjung Mangguar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Syarat Terbaru Pendakian Gunung Slamet via Bambangan, Siapkan Surat Dokter

Syarat Terbaru Pendakian Gunung Slamet via Bambangan, Siapkan Surat Dokter

Travel Tips
Pasar Seni Desa Kenalan Borobudur, Satukan Air Suci dari 3 Sumber Berbeda

Pasar Seni Desa Kenalan Borobudur, Satukan Air Suci dari 3 Sumber Berbeda

Travel Update
Pemegang Paspor RI yang Akan ke Jerman Bisa Ajukan Pengesahan Tanda Tangan di Kanim

Pemegang Paspor RI yang Akan ke Jerman Bisa Ajukan Pengesahan Tanda Tangan di Kanim

Travel Update
18 Pelanggaran pada Pendakian Gunung Prau, Ada yang Sanksinya Pidana

18 Pelanggaran pada Pendakian Gunung Prau, Ada yang Sanksinya Pidana

Travel Tips
Tour 6 Hari 5 Malam di Pulau Flores, Kunjungi Kampung Tradisional

Tour 6 Hari 5 Malam di Pulau Flores, Kunjungi Kampung Tradisional

Jalan Jalan
Hotel Artotel Batam Dibuka, Tawarkan Tarif Menginap Mulai Rp 598.000

Hotel Artotel Batam Dibuka, Tawarkan Tarif Menginap Mulai Rp 598.000

Travel Update
Travelin Fest Digelar di Bandara Soekarno-Hatta, Tawarkan Aneka Promo

Travelin Fest Digelar di Bandara Soekarno-Hatta, Tawarkan Aneka Promo

Travel Promo
Apa Bedanya Paspor Biasa dan Paspor Elektronik?

Apa Bedanya Paspor Biasa dan Paspor Elektronik?

Travel Tips
HUT Ke-77 RI, TikTok Ajak 4 Kreator Promosi Wisata Indonesia Selama 77 Jam

HUT Ke-77 RI, TikTok Ajak 4 Kreator Promosi Wisata Indonesia Selama 77 Jam

Travel Update
Panduan Wisata Jakarnaval 2022 di Ancol, Cara Pesan Tiket dan Rutenya

Panduan Wisata Jakarnaval 2022 di Ancol, Cara Pesan Tiket dan Rutenya

Travel Tips
Jelang HUT Ke-77 RI, Kuota Pendakian Gunung Binaiya Maluku Penuh

Jelang HUT Ke-77 RI, Kuota Pendakian Gunung Binaiya Maluku Penuh

Travel Update
Mengenal Desa Wisata Undisan Bali yang Berbasis Komunitas Adat

Mengenal Desa Wisata Undisan Bali yang Berbasis Komunitas Adat

Jalan Jalan
Jadi Lokasi Wahana Kereta Zombie, LRT Jakarta Tetap Beroperasi Normal

Jadi Lokasi Wahana Kereta Zombie, LRT Jakarta Tetap Beroperasi Normal

Travel Update
Sensasi Train to Apocalypse Jakarta, Kabur dari Zombie di Stasiun LRT

Sensasi Train to Apocalypse Jakarta, Kabur dari Zombie di Stasiun LRT

Jalan Jalan
Pop Art Jakarta 2022 di Senayan Park Dibuka Gratis untuk Umum

Pop Art Jakarta 2022 di Senayan Park Dibuka Gratis untuk Umum

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.