Kompas.com - 15/08/2013, 09:42 WIB
Nina Akbar Tandjung mengubah rumah saudagar batik Laweyan menjadi Roemahkoe Heritage Hotel. Ia mempertahankan otentisitas dan atmosfer rumah Jawa. KOMPAS/WAWAN H PRABOWONina Akbar Tandjung mengubah rumah saudagar batik Laweyan menjadi Roemahkoe Heritage Hotel. Ia mempertahankan otentisitas dan atmosfer rumah Jawa.
EditorI Made Asdhiana

Dari jumlah tersebut, 236 merupakan pengusaha pribumi, 60 China, 88 Arab, dan 3 Eropa. Dari jumlah 236 pengusaha batik pribumi tersebut, sebanyak 205 pengusaha alias 85 persen berada di Laweyan. Pada masa tersebut, sebuah perusahaan batik saja bisa menghasilkan sekitar 60.000 helai batik per tahun.

Industri batik mulai menyurut akhir 1960-an. Pemetaan yang dilakukan Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan menunjukkan, pada September 2004 ”hanya” tersisa 18 pedagang batik. Mereka telah membuka usaha 10 sampai 30 tahun. Dengan pemain-pemain baru itulah Laweyan kini tampil dengan konsep baru sebagai Kampoeng Batik Laweyan yang digagas Forum Kampoeng Batik Laweyan.

Semangat usaha keturunan pedagang batik Laweyan memang belum surut. Purnomo Warasto (39), keturunan dari saudagar batik Tjokrosoemarto, mengakui banyak anak- anak dari keluarga pedagang batik Laweyan yang menjadi pegawai negeri atau menggeluti profesi di luar batik. ”Tapi, sebagian besar jiwa kami (orang Laweyan) tetap berwiraswasta. Itu sudah menjadi darah dari mbah-mbah canggah kami,” kata Purnomo yang juga berwiraswasta.

Jiwa dagang itu tampak pada Achmad Sulaiman (64), pemilik Batik Halus Puspa Kencana di Jalan Sidoluhur, Laweyan. Ia menjadi pelopor ekspor batik Laweyan ke Malaysia sejak 1992. Setiap bulan, Sulaiman mengekspor satu kontainer kain mori putih sebagai bahan baku batik serta 1-2 kontainer lain berisi produk jadi, seperti baju batik.

Awalnya, Sulaiman ke Malaysia untuk menawarkan kain mori putih di Pulau Langkawi. Karena permintaan terus mengalir, ia merambah ke Semenanjung Malaya, Kelantan, dan Kuala Lumpur. Batik sengaja dibuat sesuai selera konsumen Malaysia yang umumnya menyukai batik painting (lukis) dengan motif bunga berukuran besar.

Sulaiman adalah generasi keenam keturunan juragan batik Akrom yang memulai usaha sejak awal era 1850. Sempat jatuh bangun dalam usaha batik, Sulaiman dan kerabatnya melestarikan batik Laweyan. Mereka belajar fleksibel dengan memproduksi beragam motif batik, seperti batik Papua, batik Riau, hingga batik Malaysia.

Inovasi, menurut Sulaiman, menjadi kunci utama bangkitnya batik Laweyan. Pengusaha batik di Laweyan seperti Sulaiman kini tak lagi menutup diri seperti pada masa nenek moyang. ”Perusahaan batik harus belajar terbuka. Generasi muda harus dianggap sebagai mitra. Order ekspor harus dibagi juga kepada mereka, jangan jadi rahasia perusahaan,” kata Sulaiman.

Selain Sulaiman, kini juga cukup banyak pengusaha batik Laweyan yang menembus pasar ekspor. Pemilik Batik Pria Tampan H Nuruddin Ardani menjadi salah satu pengusaha batik Laweyan yang menembus pasar Amerika.

Dari sungai ke rumah juragan

Laweyan merupakan wilayah permukiman tua. Sungai Kabanaran yang terletak di bagian selatan Kampoeng Batik menjadi saksi bisu keberadaan Laweyan sebagai salah satu pusat ekonomi sejak masa Kesultanan Pajang (1568-1586).

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X