Kompas.com - 15/08/2013, 09:42 WIB
Rumah yang pernah dihuni Haji Samanhoedi, pengusaha batik Laweyan dan juga pendiri Serikat Dagang Islam, terletak di lorong sempit khas Laweyan. KOMPAS/WAWAN H PRABOWORumah yang pernah dihuni Haji Samanhoedi, pengusaha batik Laweyan dan juga pendiri Serikat Dagang Islam, terletak di lorong sempit khas Laweyan.
EditorI Made Asdhiana

Alpha Febela Priyatmanto, yang pernah meneliti morfologi kawasan Laweyan, menyebutkan, pada masa Kesultanan Pajang di Sungai Kabanaran terdapat bandar. Selain itu, juga terdapat pasar yang kini ditandai dengan tugu.

Laweyan lantas tumbuh sebagai pusat perdagangan, terutama perdagangan lawe atau benang untuk bahan tenun. Lawe dan tenun dijual dengan rakit sebagai angkutan sungai melalui Bandar Kabanaran menuju Bengawan Solo, lantas menyebar ke sejumlah daerah di Jawa.

Dari industri perdagangan tenun itu, terjadi pergeseran ke pembuatan batik. ”Batik diproduksi di sebelah utara sungai. Lalu dibawa ke selatan atau ke sungai untuk dicuci, dan dijemur di tepi sungai,” kata Alpha, Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan yang juga dosen Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Morfologi kawasan Laweyan berubah ketika transportasi darat berkembang dan transportasi sungai menyurut. Seiring dengan itu, produksi batik mulai menggunakan air sumur yang digali di rumah warga. Begitu juga proses penjemuran dilakukan tak lagi di tepi sungai. Pembuat batik menjemur batik dengan membangun loteng-loteng yang terletak di samping atau di belakang rumah para pengusaha batik. ”Perkembangan itu memengaruhi morfologi kawasan menjadi kluster-kluster,” kata Alpha.

Pada masa kejayaan batik di awal era 1900-an tumbuhlah kluster-kluster dengan tembok setinggi 3 sampai 5 meter. Di balik tembok terdapat rumah gedongan mirip istana kecil plus pabrik batik. Itulah bagian dari sisa-sisa kejayaan batik Laweyan yang kini bisa dilihat antara lain di Roemahku atau Ndalem Tjokrosoemartan.

”Drajat, semat, dan pangkat”

Soedarmono, sejarawan dari Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, menyebutkan rumah gedongan milik saudagar Laweyan itu merupakan simbol status, identitas sosial pemiliknya. Dalam tesis S-2-nya Soedarmono menyebutkan para saudagar Laweyan sebagai orang Jawa yang telah mendapatkan apa yang dicita-citakan sesuai falsafah orang Jawa, yaitu drajat, semat, dan pangkat atau status, kekayaan, dan kedudukan. Kekayaan telah mengangkat status sosial mereka, sejajar dengan status priayi atau bangsawan.

”Menurut mereka, hanya dengan kerja keras, hemat, dan disiplin tinggi, kedudukan dan kekayaan itu akan diperoleh tanpa mengorbankan harga diri, di bawah perintah orang lain...” kata Soedarmono.

Sebuah modal sosial bagi bangsa bermartabat. (Mawar Kusuma & Frans Sartono)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X