Kompas.com - 17/08/2013, 09:32 WIB
EditorI Made Asdhiana

Cagar arkeologi dan etnologi di Ubirr dan Nourlangie telah dihuni selama lebih dari 40.000 tahun. Lukisan goa, pahatan batu, dan situs arkeologi menunjukkan keahlian dan cara hidup masyarakat, mulai dari pemburu-pengumpul zaman prasejarah hingga orang Aborigin yang tinggal di sana.

Gambar-gambar di batu itu membawa kami ke masa 50.000 tahun silam hingga kedatangan bangsa Eropa. Dahulu, keluarga Aborigin tinggal di goa batu di sekitar Ubirr sebelah timur laut Kakadu. Dari lukisan di bebatuan itu bisa terlacak apa saja makhluk dan binatang yang ada di sekitarnya, hingga tradisi mereka.

Lukisan di batu terasa unik dan fantastis, utamanya seni sinar X. Laksana kehebatan sinar X, Aborigin tidak hanya melukis organ luar, tetapi juga tulang dan organ internal binatang. Kami melihat lukisan ikan dan binatang yang diburu.

Kangguru, barramundi, buaya, ikan berkumis, biawak, kura-kura (penyu), posum, dan walabi berjajar di dinding galeri utama. Tulang dan organ tubuh binatang terlihat jelas seperti bagian tubuh luarnya.

Ada pula lukisan Namarrgarn Sisters—roh licik yang tinggal di bintang dan dapat membuat orang sakit dengan seutas tali. Lukisan Rainbow Serpent yang berusia lebih dari 23.000 tahun menggambarkan ”Nyonya Bos”, yang berkuasa tetapi diam, dikenal sebagai Garranga’rrelito bagi suku Gagudju.

Di Nourlangie Rock, sebuah formasi luar di Arnhem Land Escarpment, terlihat retakan yang dibuat para leluhur Dreamtime dalam bentuk walabi batu bertelinga pendek. Retakan dan walabi batu sering terlihat saat fajar dan petang hari.

Di Anbangbang Gallery, kami melihat lukisan manusia petir, leluhur Dreamtime. Manusia petir diyakini masih mengatur badai petir dahsyat yang terjadi di setiap musim hujan.

Lukisan lain menggambarkan hubungan dengan ”orang kulit putih pertama” di kawasan ini, yang diduga para pemburu banteng awal tahun 1880-an. Satu orang menaruh tangannya di saku celana, yang lain berkacak pinggang dan ”sedang memerintah orang Aborigin”.

Kedatangan orang Eropa digambarkan dengan kapal layar dua tiang dengan rantai jangkar dan sampan di belakangnya. Pengaruh Eropa dan perubahan gaya hidup orang Aborigin membuat sebagian tradisi seni cadas diganti dengan melukis pada kulit kayu, kertas, dan kanvas.

Seni cadas Kakadu terbaru dilukis pada tahun 1986. Karya fenomenal terakhir dibuat Najombolmi pada tahun 1960-an, Nanguluwu, yang melukis figur roh Dreamtime Mimi yang melempar tombak.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.