Kawasan Kota Tua Masih Dipinggirkan

Kompas.com - 19/08/2013, 15:38 WIB
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Warga beraktivitas di depan Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik di kawasan wisata kota tua Jakarta, Minggu (27/3/2011). Gedung yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1870 tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1972 dan sekarang dijadikan Museum Seni Rupa dan Keramik.
JAKARTA, KOMPAS — Pembangunan kawasan perkotaan di Indonesia masih meminggirkan keberadaan kota tua. Padahal, jika dikelola baik, kota tua bisa mendatangkan nilai tambah.

”Di Indonesia banyak sekali bangunan lama yang berpotensi dikembangkan menjadi ruang publik dan ruang bisnis di perkotaan, bukan hanya museum,” kata Wakil Duta Besar Belanda di Indonesia Wouter Plomp pada diskusi bertema ”Kota Layak Tinggal” dalam rangkaian Kongres Ke-2 Diaspora Indonesia, Minggu (18/8/2013), di Jakarta Convention Centre. Diskusi melibatkan pakar dan pegiat pelestarian warisan budaya, arsitek, peneliti, tamu kedutaan besar, dan para wali kota di Indonesia.

Di Belanda, kata Plomp, bangunan tua yang telah kehilangan fungsi dihidupkan lagi menjadi kafe, toko buku, dan ruang kreatif lainnya. Pengelolaan kota tua meningkatkan nilai sosial ekonomi kota-kota di Eropa.

Selain mengingatkan penduduk kota akan nilai sejarah sebuah kota, kawasan kota lama juga menarik wisatawan. Kota-kota di Eropa yang masih melestarikan kawasan kota lama, kata Plomp, menyedot minat wisatawan. ”Mereka tak hanya berlibur, tetapi juga mengadakan pertemuan bisnis di kota,” ujarnya.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Pasangan turis dari Belanda memanfaatkan waktu singgah kapal pesiar yang membawa mereka dengan berjalan-jalan di Kawasan Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/1/2012).
Laretna Adishakti dari Badan Pelestarian Pusaka Indonesia mengatakan, banyak wali kota belum paham kekayaan warisan budaya kota sehingga mereka tak pernah mendata kekayaan pusakanya, baik berupa benda maupun tak benda.

Dalam merencanakan pembangunan kota, kata Laretna, keberadaan kawasan kota lama sering kali tidak diikutsertakan. Tata ruang kota cenderung menghancurkan kawasan kota lama. (IND)

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorI Made Asdhiana

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X