Kompas.com - 24/08/2013, 11:34 WIB
EditorI Made Asdhiana

Maka dari itu Cagar Budaya Cangkuang yang terletak di Kecamatan Leles,  Garut  menjadi  pilihan  utama  yang akan kami kunjungi. Kompleks peninggalan sejarah  yang  berada  di sebuah  pulau yang bernama Pulo Panjang itu berada di tengah Situ Cangkuang. Situ yang  dalam bahasa Sunda berati danau kecil.

Nama Cangkuang sendiri diambil karena di lokasi tersebut dahulu banyak ditumbuhi pohon cangkuang yaitu pohon yang daunnya panjang-panjang seperti pandan dan buahnya mirip buah cempedak.

Dalam komplek cagar budaya tersebut kita bisa melihat sebuah candi  Hindu kuno yang di dalamnya terdapat sebuah patung Dewa Syiwa yang  diperkirakan merupakan peninggalan abad ke-7.

Candi kecil yang juga dinamakan Candi Cangkuang itu selesai dipugar tahun 1976 hanya memiliki ukuran 4,5 x 4,5 m dengan tinggi 8,5 m.  Terletak di atas bukit kecil, candi ini merupakan satu dari sedikit  candi yang ditemukan di tatar Sunda, hingga saat ini belum jelas benar siapa yang mendirikan.

Candi-candi yang ditemukan di Jawa Barat, seperti  Candi Batujaya, Candi Bojongmenje, dan Candi Cibuaya umumnya lebih tua di banding candi yang ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

ERISTO SUBYANDONO Makan Eyang Dalem Arief Muhammad, penyebar agama Islam di daerah Leles, Garut yang terletak di sebelah Candi Cangkuang.
Candi Cangkuang ditemukan tahun 1966 oleh Tim  Sejarah Leles  berdasarkan  tulisan Vorderman  dalam buku notulen  Bataviaasch Genootshap (1893).

Dalam notulen itu Vorderman menulis tentang adanya makam tua dan patung Dewa Syiwa di sana. Saat pertama ditemukan kembali, kondisi  Candi Cangkuang dalam bentuk reruntuhan, batu candi yang tersisa  dan berserakan hanya tinggal sekitar 40 persen saja. Pasalnya banyak batu-batu candi diambil oleh  warga sekitar untuk digunakan sebagai batu nisan. Jadi yang kita lihat saat ini adalah hasil rekonstruksi  para ahli dan dibangun kembali menggunakan batu-batu yang sebagian  besar bukan aslinya lagi.

Hanya berjarak kurang dari empat meter di sebelah kanan candi  terdapat makam tua yang dipercaya sebagai kuburan Mbah Eyang Dalem Arief Muhammad yaitu tokoh penyebar agama Islam di daerah Leles dan sekitarnya.

Menurut keterangan petugas di sana, tokoh Arief Muhammad berasal dari Kerajaan Mataram Islam sekitar Abad 17 yang menurut ceritanya merupakan utusan kerajaan untuk menyerang Belanda ke Batavia. Namun, karena gagal dalam tugas dan  malu bila harus pulang ke Mataram maka dia memilih untuk menetap di sekitar Situ Cangkuang.

Keturunan asli garis perempuan Arief Muhammad sampai saat ini  masih menetap tidak jauh dari makam tua dan candi tersebut yaitu di Desa Adat Kampung Pulo. Mereka  sangat  taat dalam menjaga tradisi yang diwariskan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.