Kompas.com - 27/08/2013, 11:10 WIB
Istana Siak Sri Indrapura di Pekanbaru, Riau. BARRY KUSUMAIstana Siak Sri Indrapura di Pekanbaru, Riau.
EditorI Made Asdhiana
KOMPAS.com - Provinsi Riau mempunyai banyak kekayaan alam dan budayanya. Saat ini Riau dikenal sebagai Kepulauan Riau dan Riau Daratan. Kali ini kita akan berkeliling Siak Indrapura dan sekitarnya untuk berburu foto alam, budaya dan arsitektur Melayu.

Siak adalah sebuah kabupaten di Provinsi Riau yang dulunya merupakan pusat kesultanan Islam terbesar di Riau yaitu Siak Sri Indrapura. Warisan kebesarannya pun hingga kini masih nampak di berbagai sudut kota. Sejarahnya yang panjang telah meninggalkan warisan peradaban Melayu yang mengagumkan dan pantas dibanggakan Indonesia.

Untuk menuju ke Siak membutuhkan waktu 3-4 jam dari kota Pekanbaru. Kabupaten Siak Riau ini memiliki beberapa bangunan megah bersejarah, sekarang difungsikan sebagai perkantoran, rumah tinggal, penginapan, toko oleh penduduk Siak.

BARRY KUSUMA Jembatan Siak di Provinsi Riau.
Yang terkenal yaitu Istana Siak Sri Indrapura saat ini istana ini sudah diserahkan kepada Pemerintah Daerah untuk dirawat, ketika saya berkeliling di dalamnya harus saya akui Museum Istana Siak ini sangat dirawat dengan baik dan di dalamnya pun masih banyak barang peninggalan Sultan.

Untuk dapat melihat bangunan-bangunan Melayu zaman/tempo dulu dijuluki juga sebagai ‘Istana Matahari Timur’, jarak tempuh dari sebelah timur Pekanbaru mencapai empat jam perjalanan melalui sungai hingga menuju Kabupaten Siak Sri Indrapura.

Di Siak Riau terdapat Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia.

BARRY KUSUMA Udang galah di Siak, Riau.
Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.

Jembatan Siak

Jembatan Istana Siak berada sekitar 100 meter disebelah Tenggara kompleks Istana Siak Sri Indrapura.  Jembatan ini merupakan ikon dari Kabupaten Siak. Jembatan ini sangat megah dan bagus untuk difoto. Jembatan tersebut dibuat tahun 1899. Di bawah jembatan istana terdapat sungai (parit), diduga dulu sekaligus sebagai parit pertahanan kompleks istana.

Udang Galah dan Durian Siak

Jika sudah sampai di Siak, sangat direkomendasikan untuk mencoba kuliner udang galahnya yang tersohor. Kita bisa banyak menemui udang galah ini di restoran atau Warung Melayu. Sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu karena yang memakan dan yang menjual udang galah tidak banyak.

BARRY KUSUMA Durian siak, Riau.
Mencoba rasa udang galah siak ini memang sangat spesial, selain ukurannya yang sangat besar juga sangat fresh. Harganya pun lebih murah dibandingkan membeli di Jakarta. Untuk udang sekepal tangan saya harganya mencapai Rp 50.000.

Kalau sudah makan hidangan utama pasti ada pencuci mulutnya, ya cobalah durian siak setelah menyantap udang galah. Durian siak ini juga sangat spesial. Bahkan saya bisa bilang durian siak ini durian yang paling enak dibandingkan durian di Pekanbaru. Durian ini bisa kita jumpai di sepanjang jalan sebelum memasuki Kota Siak.

BARRY KUSUMA Masjid Syahabuddin di Riau.
Masjid Syahabuddin

Merupakan masjid Kerajaan Siak, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Kasim I. Masjid berdenah 21,6 X 18, 5 m. Bangunan masjid telah berkali-kali mengalami perbaikan tetapi masih mempertahankan bentuk aslinya.

Makam Sultan Kasim II

Terletak di belakang Masjid Syahabuddin, dimakamkan Sultan Kasim II (Sultan terakhir) yang mangkat pada 23 April 1968. Jirat makam sultan berbentuk 4 undak dari tegel dan marmer berukuran panjang 305 cm, lebar 153 cm, dan tinggi 110 cm. Nisannya dari kayu berukir motif suluran–suluran. Bentuknya bulat silinder bersudut 8 dengan diameter 26 cm dan kelopak bunga teratai. (BARRY KUSUMA)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.