Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jatim Mencoba Keluar dari Bayang-bayang Bali

Kompas.com - 29/08/2013, 15:10 WIB
INILAH nasib kawasan pariwisata di ujung timur Pulau Jawa yang dekat dengan wilayah Bali saat infrastruktur jalan belum dibangun oleh pemerintah setempat. Para peselancar internasional yang datang dari Pantai Kuta, Bali, dulu mengenalnya dengan sebutan ”G-Land”. Tanah G, begitu terjemahan secara harfiah. Jika dilihat dari atas, bentuk tanah atau garis pantainya seperti huruf G. Namun, bagi warga sekitar, karena bentuknya yang melengkung, kawasan pantai itu dijuluki ”Pantai Plengkung” atau pantai yang melengkung.

Sayangnya, meskipun terletak di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, para bule lebih mengenal G-Land ketimbang Taman Nasional Alas Purwo atau Banyuwangi. Maklum, para turis asing itu terbiasa langsung dari Bali ke G-Land dengan speedboat. Akibatnya, mereka tak menapak lebih dulu ke Banyuwangi dan Taman Nasional Alas Purwo. Ini berarti uang dollar Amerika Serikat (AS) mereka tak ikut mampir di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu.

Jangankan dollar AS, masyarakat di sekitar Taman Nasional Alas Purwo tak mencecap satu rupiah pun. Padahal, peselancar bisa menghabiskan ribuan dollar AS untuk bisa bermain ombak di pantai selatan dan menginap di resor mahal di Bali. Karena jarak tempuhnya—dengan speedboat—hanya 1-1,5 jam, banyak turis balik lagi ke Bali meskipun ada tiga resor di pantai G-Land. Tentu, dari tiga resor itu, hanya satu yang tarifnya rupiah. Itu pun sudah dikurs dengan dollar AS.

DOK INDONESIA.TRAVEL Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi, Jawa Timur.
”Waktu itu, mereka tidak ke dusun, tetapi hanya ke pantai pakai speedboat, main ombak, dan kemudian berselancar berhari-hari, lalu balik ke Bali. Ada yang naik helikopter atau lewat transportasi laut,” kata Situm (45), warga Alas Purwo, yang biasa mencari kerang di sepanjang pantai G-Land.

Kalau turis asing banyak bermain dengan ombak, sebagian besar turis lokal hanya menikmati pemandangan pantai dan kawasan Taman Nasional. Mereka tidak seperti turis asing yang royal menghabiskan dollar AS dengan makan minum di resor. Turis domestik lebih banyak makan di warung-warung warga di kawasan konservasi.

Alasan para turis asing langsung menuju G-Land adalah karena akses dari Banyuwangi ke G-Land memang tidak mudah. Butuh waktu sekitar lima jam lebih dari kota Banyuwangi menuju pintu masuk Taman Nasional Alas Purwo. Waktu lima jam itu juga belum termasuk waktu tempuh dari Taman Nasional Alas Purwo ke G-Land. Sebab, turis harus melewati hutan rimba sejauh 10 kilometer (km) dengan kendaraan gardan ganda. Tak heran banyak turis asing enggan menempuh jalur darat.

Belum dikelola serius

Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah 47.922 km persegi dan penduduk 41,4 juta jiwa sebenarnya memiliki 765 obyek wisata. Dari jumlah tersebut, yang baru dikelola secara serius oleh pemerintah kabupaten/kota sekitar 30 persen. Jadi, tidak heran pariwisata Jatim antara lain hanya dikenal dengan Gunung Bromo. Padahal, banyak yang bisa dikembangkan, seperti di Banyuwangi ada Kawah Ijen, Desa Wisata Using, hingga kuliner khas yang tidak ada di daerah lain.

AMIE ANDARI Rujak soto.
Selain itu, ada juga Jember dengan Pantai Papuma serta Pacitan yang tersohor dengan kota seribu goa bersama keelokan Pantai Klayar dan Goa Gong yang eksotik. Demikian pula Pulau Madura yang elok dengan Pantai Slopeng dan Pantai Lombang. Pun demikian dengan Kota Malang dan Batu yang sejuk.

Untuk mengambil dollar AS dari sektor pariwisata, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, selama tiga tahun terakhir ini, juga mulai menerapkan strategi untuk menarik wisatawan, terutama bagi turis yang hanya menumpang lewat. Misalnya, dengan membuka penerbangan Banyuwangi, Surabaya, dan Bali. Meskipun jalur Bali akhirnya mati, jalur Surabaya terus berkembang. Jumlah penumpang tercatat sampai 7.000 orang tahun lalu.

Dua tahun terakhir, akses wisata ke Banyuwangi juga mulai diperbaiki, termasuk menuju ke G-Land yang kini terbuka lebar. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyiapkan dana hingga Rp 9 miliar untuk membangun infrastruktur. Jalan Banyuwangi di bagian selatan yang sebelumnya rusak berat kini lebih nyaman. Waktu tempuh jadi lebih cepat.

Jalur menuju Kawah Ijen pun diperhalus. Dua tahun lalu, jalan ini tak mungkin dilewati. Turis harus naik mobil gardan ganda untuk menjangkau Pos Paltuding di kaki Ijen dari Banyuwangi. Namun, kini mobil bisa melaju kencang, bahkan jadi jalur favorit pesepeda.

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Asap solfatara keluar dari kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (7/11/2011).
Kini, jumlah wisatawan yang naik ke Ijen meningkat. Sayangnya, jumlah wisatawan tak bisa didata karena tiket masuk tak pernah diberlakukan akibat status Ijen yang masih Siaga. Setiap akhir pekan, tak kurang 400 pengunjung dari Banyuwangi menuju Ijen. Jumlah ini jauh lebih banyak daripada jumlah pengunjung sebelum jalan diperbaiki.

Dengan akses terbuka, banyak acara bisa diadakan. Sebut saja Tour De Ijen, lomba bersepeda kelas dunia, lomba berselancar kelas internasional di Pantai Merah, dan Banyuwangi Etno Carnival.

Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, pariwisata akan terus digenjot agar perekonomian Banyuwangi terus tumbuh. Ketua Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia Jatim Muhammad Soleh berharap daerah lain ikut membangun infrastruktur agar akses lebih terbuka. (Siwi Yunita Cahyaningrum/Agnes Swetta Pandia)

Kompas/Iwan Setiyawan Sejumlah warga berebut menangkap sesaji yang dilemparkan suku Tenggger ke kawah Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, pada puncak perayaan Yadnya Kasada, Minggu (6/9/2009). Yadnya Kasada merupakan ritual warga suku Tengger dengan melarung hasil bumi atau ternak ke kawah Bromo sebagai wujud penghormatan terhadap nenek moyang mereka.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

75.000 Orang Kunjungi Candi Borobudur Saat Peringatan Waisak 2024

75.000 Orang Kunjungi Candi Borobudur Saat Peringatan Waisak 2024

Travel Update
5 Kota Terbaik di Dunia Menurut Indeks Keberlanjutan Destinasi Global

5 Kota Terbaik di Dunia Menurut Indeks Keberlanjutan Destinasi Global

Travel Update
Pengembangan Kawasan Parapuar di Labuan Bajo Terus Diperkuat Penguatan Konten Budaya Manggarai

Pengembangan Kawasan Parapuar di Labuan Bajo Terus Diperkuat Penguatan Konten Budaya Manggarai

Travel Update
Ada Rencana Penerbangan Langsung Rusia-Bali pada Musim Libur 2024

Ada Rencana Penerbangan Langsung Rusia-Bali pada Musim Libur 2024

Travel Update
Indeks Kinerja Pariwisata Indonesia Peringkat Ke-22 di Dunia

Indeks Kinerja Pariwisata Indonesia Peringkat Ke-22 di Dunia

Travel Update
DIY Ketambahan 25 Warisan Budaya Tak Benda, Pokdarwis Digandeng Ikut Lestarikan

DIY Ketambahan 25 Warisan Budaya Tak Benda, Pokdarwis Digandeng Ikut Lestarikan

Travel Update
Long Weekend Waisak Jumlah Penumpang Kereta Api di Yogya Naik 41 Persen

Long Weekend Waisak Jumlah Penumpang Kereta Api di Yogya Naik 41 Persen

Travel Update
Spot Foto di Taman Sejarah Bandung, Foto Bersama Wali Kota

Spot Foto di Taman Sejarah Bandung, Foto Bersama Wali Kota

Jalan Jalan
Pembangunan Gereja Tertinggi di Dunia Hampir Rampung Setelah 144 Tahun

Pembangunan Gereja Tertinggi di Dunia Hampir Rampung Setelah 144 Tahun

Travel Update
Harga Tiket Menara Eiffel di Perancis Akan Naik 20 Persen per Juni

Harga Tiket Menara Eiffel di Perancis Akan Naik 20 Persen per Juni

Travel Update
Roma Akan Bangun Jalur Ramah Pejalan Kaki di Sekitar Area Bersejarah

Roma Akan Bangun Jalur Ramah Pejalan Kaki di Sekitar Area Bersejarah

Travel Update
Usai Turbulensi Fatal, Singapore Airlines Ubah Aturan Makan di Pesawat

Usai Turbulensi Fatal, Singapore Airlines Ubah Aturan Makan di Pesawat

Travel Update
Harga Tiket Masuk Terkini TMII, Tempat Wisata Favorit di Jakarta

Harga Tiket Masuk Terkini TMII, Tempat Wisata Favorit di Jakarta

Travel Update
Jam Buka Cibubur Garden Eat & Play di Hari Kerja atau Libur

Jam Buka Cibubur Garden Eat & Play di Hari Kerja atau Libur

Jalan Jalan
Rute ke Cibubur Garden Eat & Play, Wisata Dekat Jakarta

Rute ke Cibubur Garden Eat & Play, Wisata Dekat Jakarta

Jalan Jalan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com