"Jawa sing Ngangeni" di Penyangga Jakarta

Kompas.com - 02/09/2013, 08:48 WIB
Bebek goreng Haji Slamet, sate klathak Mak Adi, dan sate jamur Pak Gendut asli dari Solo dan Yogyakarta menyemarakkan Festival Kuliner Serpong 2013 di Summarecon Mal Serpong, mulai dari 27 Agustus sampai 22 September. KOMPAS/PINGKAN ELITA DUNDUBebek goreng Haji Slamet, sate klathak Mak Adi, dan sate jamur Pak Gendut asli dari Solo dan Yogyakarta menyemarakkan Festival Kuliner Serpong 2013 di Summarecon Mal Serpong, mulai dari 27 Agustus sampai 22 September.
EditorI Made Asdhiana
KOTA Yogyakarta dan Solo tidak hanya terkenal dengan budayanya, tetapi juga terkenal dengan kulinernya. Kelezatan rasa manisnya di lidah membuat setiap masakannya selalu dicari dan dikangeni pencinta kuliner Nusantara.

Festival Kuliner Serpong (FKS) yang diadakan di halaman parkir Summarecon Mal Serpong, Gading Serpong, Banten, bisa sedikit mengobati rasa kangen itu. Festival yang berlangsung pada 27 Agustus hingga 22 September ini mengambil tema ”Jawa sing Ngageni”.

Bagi yang kangen dengan rasa otentik sego liwet Waroeng Wong Solo, misalnya, bisa menemukannya di festival ini, tidak harus jauh-jauh pergi ke Solo.

Nasi gurih yang dimasak dengan santan ini dilengkapi lauk opor ayam yang dagingnya disuwir. Selanjutnya, nikmati pedas manis sambal gorengnya. Lengkapi sajian ini dengan sayur labu siam, telur rebus, abon, dan areh, putih telur yang dimasak dengan santan dan sejumlah bumbu dapur. Rasa gurih dan manisnya benar-benar sangat menggoda lidah.

Jika ingin mencoba masakan khas Yogyakarta, cicipilah nasi gudeg Laminten. Perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan dari nangka muda yang dimasak dengan santan itu. Warna coklatnya biasanya berasal dari daun jati yang dimasak bersamaan dengan sayur nangka muda itu.

Gudeg ini dimakan bersama nasi putih. Rasanya menjadi lengkap jika dinikmati dengan kuah santan kental, ayam kampung, telur, tahu, dan sambal goreng krecek. Penyajiannya tergantung selera. Tinggal pilih, mau gudeg kering yang disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan Padang, atau menikmati gudeg basah yang disajikan dengan areh encer.

Belum kangen dengan masakan di atas, nikmatilah sate klathak Mak Adi yang sangat terkenal di Yogyakarta. Selain potongan daging kambingnya yang cukup besar, tusuk satenya pun unik, yakni berasal dari jeruji besi sepeda. Selanjutnya, sate dibakar dengan arang membara. Masakan yang rasanya sedikit asin ini cocok sekali disajikan tanpa sambal kecap.

Berbeda dengan sate kambing pada umumnya, sate klathak Mak Adi ini satu porsinya hanya dua tusuk. Namun, jangan salah, potongan dagingnya besar dan dalam satu tusukan ada banyak potongan daging kambing sehingga penikmat sate akan puas meski hanya makan dua tusuk.

Dagingnya yang empuk dan terasa sedikit garing membuat kita ingin terus menikmatinya. Semangkuk gulai yang disajikan melengkapi kenikmatan. Benar-benar mengundang selera.

Soto Bangkong yang berdiri sejak tahun 1950-an di Jalan Bangkong (Katamso), Semarang, menjadi salah satu menu terfavorit yang dilirik pengunjung festival. Suiran daging ayam, irisan tomat, taoge segar, bihun, serta taburan bawang putih dan bawang merahnya yang harum berhasil menggoda selera penggila kuliner.

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X