Kompas.com - 03/09/2013, 07:58 WIB
EditorI Made Asdhiana
CERITA tentang keuletan bagaimana sosok perempuan Minang tecermin di kios bumbu di Pasar Ibuh Timur, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ketika pagi baru bersemi, tujuh ibu yang bekerja di kios itu telah mengulek puluhan kilogram cabai dengan tangannya. Panas? Tentu saja!

Seember kecil cabai segar selesai digiling Elma Yunis (40). Namun, pekerjaannya masih jauh dari selesai. Perempuan bertubuh ceking itu menuangkan seember lagi cabai merah segar ke sebuah ulekan sebesar tambah. Ia berdiri sedikit membungkuk dengan tangan mencengkeram anak batu ulekan yang ukurannya sebesar mangkuk. Kemudian, ia mulai menggerakkan anak batu itu dengan kecepatan konstan.

Kres...kres...tuk...tuk, batu penggilingan dengan cepat menghancurkan tumpukan cabai itu. Aroma pedas dan panas cabai memenuhi udara di sudut gang sempit tempat Elma bekerja. Namun, Elma sama sekali tidak terganggu. Ia juga tampak tidak kepanasan meski sekujur telapak tangannya memerah oleh percikan cairan cabai yang panas.

”Enggak apa-apa, saya sudah terbiasa dengan panasnya cabai. Ini yang saya ulek cabai jawa, kalau cabai medan lebih panas,” kata Elma saat ditemui awal Juli lalu. Meski begitu, beberapa kali ia tampak meringis seperti menahan perih.

Yusminar yang bekerja di sebelah Elma menyahut, ”Waktu pertama kali kerja menggiling cabai, tangan saya memang panas sekali. Saya harus cuci tangan berkali-kali. Sekarang sudah terbiasa, tangan saya tidak panas lagi. Mungkin kulit saya sudah tebal,” ujarnya, tertawa.

Seperti Elma, tubuh Yusminar kurus dan ringkih. Delapan tahun menggiling cabai dengan posisi setengah membungkuk membuat punggung Yusminar sedikit melengkung. Meski demikian, dia tetaplah ”mesin” penggiling cabai yang sangat produktif. Seember cabai yang digiling di atas cobek halus dalam waktu 15-20 menit.

Saat itu, waktu baru menunjukkan pukul 08.00 dan Yusminar mengaku telah menggiling empat kilogram (kg) cabai segar. Dia bilang, juara penggiling cabai di pasar itu adalah Elma. Sepagi ini, ia telah menggiling enam kg cabai atau dua kg cabai lebih banyak dari teman-temannya.

Elma dan Yusminar bekerja secara lepas di kios bumbu milik Haji Bakri di bagian tengah Pasar Ibuh Timur. Selain mereka, ada lima penggiling cabai lain di kios itu. Mereka bekerja berjejalan di dalam kios dan gang pasar yang sempit. Semakin banyak order menggiling cabai, semakin banyak pula ibu penggiling yang bergabung di kios itu. Mereka masing-masing bisa menggiling 15-30 kg cabai segar dari pagi sampai sore diselingi istirahat siang.

Hari itu di awal puasa, order menggiling cabai datang lebih banyak dari biasanya. Maklum, ibu-ibu Minang beramai-ramai memasak rendang untuk persediaan lauk selama Ramadhan. Mereka hampir pasti memilih cabai yang digiling tangan daripada cabai giling mesin. ”Rendang terbaik memang harus menggunakan cabai yang digiling dengan tangan meski harganya lebih mahal,” ujar Bakri.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Para ibu-ibu menjadi tenaga ojek menggiling cabai di Pasar Payahkumbuh, Sumatera Barat, Rabu (10/7/2013). Jasa penggilingan cabai (manggiliang lado) ini Rp 3500 per kilogram cabai. Dalam sehari para tenaga ojek penggiling cabai ini mengerjakan orderan sekitar 15 kilogram cabai.
Cabai giling tangan dibanderol Rp 44.000-Rp 50.000 per kg, sedangkan cabai giling mesin Rp 40.000 per kg. Cabai giling tangan lebih mahal karena cabai yang digunakan lebih bagus dan rantai produksinya lebih panjang. Cabai yang baru datang dari pemasok dipetik tangkainya dan dipilah berdasarkan kesegarannya. Cabai yang segar digiling ibu-ibu penggiling cabai, sedangkan yang layu digiling dengan mesin.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Turis Indonesia dan 97 Negara Lain Bisa Masuk Jepang Mulai 10 Juni 2022 Tanpa PCR

Turis Indonesia dan 97 Negara Lain Bisa Masuk Jepang Mulai 10 Juni 2022 Tanpa PCR

Travel Update
Waspada, Jangan Lakukan 5 Hal ini Saat Berenang di Sungai

Waspada, Jangan Lakukan 5 Hal ini Saat Berenang di Sungai

Travel Tips
Pendaki Gunung Rinjani yang Buang Sampah Sembarangan Akan Diblacklist 2 Tahun

Pendaki Gunung Rinjani yang Buang Sampah Sembarangan Akan Diblacklist 2 Tahun

Travel Update
Harga Tiket Masuk dan Rute Menuju Pantai Teluk Hijau Banyuwangi

Harga Tiket Masuk dan Rute Menuju Pantai Teluk Hijau Banyuwangi

Jalan Jalan
Pantai Teluk Hijau Banyuwangi, Surga Tersembunyi dengan Air Laut Berwarna Hijau 

Pantai Teluk Hijau Banyuwangi, Surga Tersembunyi dengan Air Laut Berwarna Hijau 

Travel Update
Harga Tiket Masuk dan Cara Melihat Penyu di Pantai Sukamade Banyuwangi

Harga Tiket Masuk dan Cara Melihat Penyu di Pantai Sukamade Banyuwangi

Travel Tips
Kosakata Bahasa Jawa untuk Tawar-menawar, Wisatawan Perlu Tahu

Kosakata Bahasa Jawa untuk Tawar-menawar, Wisatawan Perlu Tahu

Travel Tips
Kenang 16 Tahun Gempa Yogya, Bisa Kunjungi Monumen Gempa di Bantul

Kenang 16 Tahun Gempa Yogya, Bisa Kunjungi Monumen Gempa di Bantul

Jalan Jalan
5 Cara Menolong Orang yang Terseret Arus Sungai

5 Cara Menolong Orang yang Terseret Arus Sungai

Travel Update
5 Persiapan Sebelum Berenang di Sungai, Sedia Perlengkapan

5 Persiapan Sebelum Berenang di Sungai, Sedia Perlengkapan

Travel Tips
Pantai Sukamade Banyuwangi, Bisa Lihat Penyu Bertelur pada Malam Hari 

Pantai Sukamade Banyuwangi, Bisa Lihat Penyu Bertelur pada Malam Hari 

Jalan Jalan
Liburan Dekat dan Mudah, Ini 6 Negara di Asia Tenggara yang Bebas PCR

Liburan Dekat dan Mudah, Ini 6 Negara di Asia Tenggara yang Bebas PCR

Travel Update
Patung Yesus Tertinggi Ketiga di Dunia Ada di Brasil, Buka Tahun 2023

Patung Yesus Tertinggi Ketiga di Dunia Ada di Brasil, Buka Tahun 2023

Travel Update
Jepang Buka Pintu Masuk untuk Grup Turis, Mulai 10 Juni

Jepang Buka Pintu Masuk untuk Grup Turis, Mulai 10 Juni

Travel Update
Daya Tarik Baru Air Terjun Cunca Wulang Labuan Bajo, Ada Sungai Bawah Tanah

Daya Tarik Baru Air Terjun Cunca Wulang Labuan Bajo, Ada Sungai Bawah Tanah

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.