Tangan Bergoyang, Duit Pun Datang

Kompas.com - 03/09/2013, 07:58 WIB
Aneka bumbu dijual di kios bumbu masakan di Pasar Bukit Tinggi, Sumatera Barat, awal Juli lalu. Kios tersebut menyediakan berbagai macam racikan bumbu untuk masakan khas Minangkabau. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOAneka bumbu dijual di kios bumbu masakan di Pasar Bukit Tinggi, Sumatera Barat, awal Juli lalu. Kios tersebut menyediakan berbagai macam racikan bumbu untuk masakan khas Minangkabau.
EditorI Made Asdhiana

Setiap rantai produksi menyedot uang. Pemetik cabai seperti Yeti (56) diupah Rp 700 per kg. ”Sehari saya bisa petik 20 kilogram cabai. Lumayan untuk beli lauk keluarga. Kalau main sinetron seperti keponakan saya di Jakarta pasti bayarannya mahal, ya. Kenal enggak, itu lho si Aldiano,” kata Yeti.

Tidak usah jauh-jauh dibandingkan dengan artis sinetron, upah Yeti masih di bawah penggiling cabai. Setiap kg cabai yang digiling, mereka dapat Rp 4.000. Jika pelanggan ingin cabai yang lebih halus, mereka harus tambah biaya Rp 1.000 per kg.

Tak terbuang

Meski bayarannya lumayan, Upik (50) tak tertarik jadi penggiling cabai. Ia pilih jadi penggiling bawang merah. Ketika mendekati kios tempat Upik, mata langsung disergap aroma bawang sangat pedih. Air mata kami pun mengalir deras. Berbeda dengan kami, Upik sepertinya kebal aroma tajam bawang merah. ”Rahasianya, perhatikan arah angin yang menerbangkan aroma bawang,” katanya.

Pagi itu, ia menggiling beberapa kg bawang merah bercampur bawang bombay. Sambil menggoyangkan batu gilingan, ia menghibur diri dengan lagu pop Minang. Ketika bawang halus dan mengental, Upik memindahnya ke ember besar yang terisi separuhnya. Sehari, ia bisa menggiling 30 kg bawang. Setiap kg bawang yang ia haluskan, ia mendapat upah Rp 2.000. ”Lumayan hasilnya bisa nambah-nambahin biaya umrah,” katanya.

Upik bekerja di kios milik dia sendiri yang beromzet Rp 1 juta-Rp 3 juta sehari. Kios yang dijalankan bersama keponakannya, Arif (17), itu menjual aneka bumbu segar, mulai dari jahe, kunyit, lengkuas, daun salam, bawang, bawang putih, hingga asam kandis. Ia mengatakan, sepanjang hari mulai ayam berkokok hingga matahari sebentar lagi tenggelam, ia ada di kios itu.

Di sela-sela menunggu kios, ia bekerja menggiling bawang. ”Orang Minang punya istilah sambil berdiang, nasi masak. Artinya, dalam satu waktu kita bisa mengerjakan dua pekerjaan. Tak ada waktu percuma,” kata janda dengan tiga anak yang masih kecil-kecil itu.

”Lihat tangan saya, tangan bergoyang piti (duit) datang,” kata Upik. ”Kalau dulu, kaki yang bergoyang, piti datang sebab saya tukang jahit.”

Harus perkasa

Menelusuri desa-desa di Tanah Minang, kita bisa menemukan perempuan-perempuan perkasa yang rajin bekerja. Di Lintau, Tanah Datar, seorang ibu berusia 70 tahun, yang masih kuat menumbuk beras menjadi tepung, masih dijumpai. Di Nagari Pandai Sikek, banyak pula ibu tua yang masih produktif membuat kain songket nan indah dan mewah.

Puti Reno Rhaudatuljanna Thaib, ahli waris Kerajaan Pagaruyung, mengatakan, perempuan Minang memang didorong menjadi perempuan perkasa. Pasalnya, secara sosial-budaya perempuan Minang adalah bundo kanduang, setidaknya di rumah sendiri. Dialah pemegang otoritas tertinggi di rumah gadang.

Perempuan penggiling cabai itu tak pernah menyerah. Tangannya terus bagoyang agar piti terus datang. (Budi Suwarna dan Indira Permanasari)

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X