Kompas.com - 05/09/2013, 10:10 WIB
Rendang belut. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHORendang belut.
EditorI Made Asdhiana

Karena hampir semua acara penting melibatkan daging sebagai hidangan, konsumsi daging orang Minang menjadi tinggi. ”Kami itu seperti harimau, ha-ha-ha,” kata Raudha.

Beberapa laporan Belanda pada abad ke-19 menyebutkan, orang Minang merupakan pengonsumsi daging tertinggi di Nusantara. Laporan ini sedikit mengejutkan karena di masa lalu, seperti dikatakan Anthony Reid, orang-orang di Asia Tenggara umumnya mengonsumsi sangat sedikit daging. Hal ini ada kaitannya dengan kondisi geografis Asia Tenggara yang sebagian besar tertutup hutan nan rapat sehingga tidak memungkinkan munculnya tradisi menggembala ternak (Asia Tenggara dalam Kurun Waktu 1450-1680, 2011).

Saking sedikitnya ternak di wilayah Asia Tenggara, para pengelana Eropa sampai terheran-heran. Reid mencatat, ”Mereka berkata bahwa jika ada dua ribu orang Eropa di negeri mereka (Aceh), sapi dan ayam akan segera habis.”

”Begitu sedikitnya kambing di Filipina sehingga kapan saja orang 15 atau 20 orang Spanyol tiba, kambing akan lenyap semua selama dua atau tiga tahun berikutnya,” kutip Reid dari Artieda (1573:202).

Lantas, mengapa orang Minangkabau punya tradisi makan besar dengan hidangan berupa daging? Antropolog dari Universitas Andalas, Zaenal Arifin, dalam tulisannya, Makanan sebagai Simbol Budaya, menyatakan, buat masyarakat petani, daging jadi bahan yang langka. Dan, akhirnya makanan dari bahan daging menjadi jenis makanan bergengsi.

Tidak heran, dalam peristiwa-peristiwa penting, hewan dikorbankan. Semakin penting upacaranya, semakin langka hewan yang dikorbankan, baik dalam jumlah maupun jenis. Langka di sini bisa dalam artian jumlahnya yang besar (ayam dan ikan) atau hewan yang secara ekonomi sulit didapat dan dipelihara (kerbau, sapi, dan kambing).

Dalam setiap upacara, lanjut Zaenal, jenis makanan olahan dari daging tidak saja sekadar santapan belaka, tetapi juga menjadi simbol untuk menunjukkan identitas seseorang. Pandangan senada disampaikan antropolog dari Universitas Andalas, Nusyirwan Effendi. Menurut dia, di kalangan masyarakat Minang, daging dan olahannya seperti rendang menjadi penanda status sosial. Ketika seseorang diangkat menjadi ”pejabat adat”, seperti penghulu, misalnya, ia sudah pasti akan memotong kerbau atau sapi.

Semakin banyak kerbau yang dipotong, semakin terhormat dia. ”Itu untuk melegitimasi kesahihan penghulu. Semua hewan yang dipotong itu dibikin rendang dan dibagikan ke masyarakat dalam acara makan bersama,” katanya.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Daging padeh.
Tradisi makan daging dalam perhelatan adat juga terlihat di hampir seluruh wilayah Asia Tenggara. Reid menuliskan, makan daging merupakan bagian dari ritus penting yang ditandai dengan pengorbanan hewan. Momen seperti itu juga menjadi kesempatan bagi raja dan kaum bangsawan untuk memamerkan kebesarannya.

Tradisi makan daging yang terkait adat itu diturunkan dari generasi ke generasi, hingga menjadi kultur yang generik. Belakangan, tradisi makan daging rendang di kalangan orang Minang tidak selalu terkait upacara. Kapan saja orang Minang memakan rendang. Itu berarti, kapan saja ia bisa menunjukkan status sosial dan kekuatan ekonominya. (Budi Suwarna dan Indira Permanasari)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.