Nasi Kapau Pengisi Lambung di Los Lambuang

Kompas.com - 06/09/2013, 07:58 WIB
Suasana Warung Nasi Kapau di Los Lambuang, Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa (9/7/2013). Masakan khas Nasi Kapau anatara lain Rendang Itik, Rendang Ayam, dan Kalio Tamusu (usus sapi isi telor). KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOSuasana Warung Nasi Kapau di Los Lambuang, Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa (9/7/2013). Masakan khas Nasi Kapau anatara lain Rendang Itik, Rendang Ayam, dan Kalio Tamusu (usus sapi isi telor).
EditorI Made Asdhiana

Asal Nagari Kapau

Masnizar sudah 25 tahun berjualan nasi kapau. ”Tidak pernah libur kecuali Lebaran,” ujarnya. Dia dan suaminya mulai memasak pukul tiga dini hari dan belasan hidangan akan tanak pukul 06.00 untuk dibawa ke pasar.

Masnizar adalah bagian dari tradisi berdagang nasi orang-orang Nagari Kapau, Kecamatan Kilatan Kamang, Kabupaten Agam. Nagari Kapau, tempat asal nasi kapau, ditempuh sekitar 40 menit berkendara dari Bukittinggi. Kendaraan yang memasuki Nagari Kapau disambut pemandangan laiknya desa-desa di Minangkabau. Sawah-sawah menghijau diselingi rumah-rumah gadang dengan gonjong-gonjong serupa tanduk kerbau.

Di nagari itu, Welti (59) sibuk memasak tepat sehari sebelum memasuki Ramadhan. Ada belasan hidangan yang dipersiapkan di atas empat tungku batu, kompor minyak, dan kompor gas. Salah satunya gulai tunjang alias kikil yang menurut Welti merupakan khas Kapau. Untuk menghasilkan gulai tunjang (tulang rawan kaki sapi) yang lezat, tunjang direbus selama empat jam sehingga lunak, kemudian baru digulai.

Ada pula hidangan khas Kapau lain seperti rendang bebek, rendang ayam, gulai nangka, dan tak ketinggalan tambusu. Tambusu berupa usus sapi diisi adonan telur dan tahu lalu digulai. Saat matang, gulai tambusu bentuknya menyerupai gulungan sosis. Gulai kapau warnanya kuning kemerahan cerah oleh kunyit dan cabai. Penggunaan rempah seperti lada, cengkeh, dan pala menambah harum masakan.

Sebagian makanan lain merupakan sajian yang sering ditemui di rumah makan minang lainnya, seperti rendang daging, dendeng balado, ayam goreng, dan gulai ikan.

Tak hanya Welti yang berdagang makanan. Nenek dan ibunda Welti pun berjualan nasi kapau. ”Dulu, nenek jualan nasi kapau berkeliling dari pasar ke pasar, menyesuaikan dengan hari pasar. Berdagangnya hanya di bawah lindungan payung. Itu namanya merantau keliling,” kata Welti yang sudah pandai memasak rendang bebek sejak berumur sepuluh tahun.

Kakak sepupu Welti, Khaerudar (71), masih melakoni berjualan keliling sesuai hari pasar di berbagai tempat. Nasi dimasak di rumah lalu diangkut dengan sebuah kijang tua ke pasar. Namun kini, sebagian pedagang berdagang menetap, antara lain di Los Lambuang, menempati kios-kios yang dibangun pemerintah daerah. Mereka buka setiap hari. Sebelum ada kios, mereka berjualan di sekitar pasar.

Tak hanya di Bukittinggi tempat perantauan dagang orang Kapau. Nama nasi kapau pun kian dikenal ketika orang-orang Kapau merantau ke kota lain di Indonesia. Warga Kapau lainnya, Andau, bercerita, kerabatnya membuka 12 lapak nasi kapau di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Di bilangan Kramat Raya, Jakarta, kita pun akan menemui jajaran kios nasi kapau. Walaupun, menurut Andau, tak semua pedagang asli orang Kapau. ”Ada saja orang yang bukan dari Kapau membuka warung dan memakai nama nasi kapau,” ujar Andau yang masih kerabat Welti.

Begitu bulan puasa, orang-orang Kapau dari segala penjuru mulai kembali ke kampungnya. Dan, sekali dalam setahun menjelang puasa, mereka mengkhususkan diri berjualan di kampung sendiri. Los Lambuang pun tutup hari itu. Saat itulah jalan-jalan di Nagari Kapau berjajar kios dadakan, termasuk kios milik Welti.

Isi Los Lambuang seakan-akan pindah ke tempat asalnya di Nagari Kapau. Dan, karena terpikat rasanya, para pelanggannya pun berbondong-bondong ikut ”mudik” ke nagari itu demi menikmati kelezatan sepiring nasi kapau. (Indira Permanasari dan Budi Suwarna) 

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X