Kompas.com - 07/09/2013, 09:03 WIB
Ibu-ibu menyiapkan bumbu dan aneka daun untuk memasak rendang belut di dapur Istana Silinduang Bulan, Batusangkar, Sumatera Barat, Kamis (11/7/2013). Rendang belut yang menjadi sajian khusus di lingkungan Kerajaan Pagaruyung ini menggunakan berbagai macam dedaunan yang diperoleh dari hutan tanaman liar dan kebun. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOIbu-ibu menyiapkan bumbu dan aneka daun untuk memasak rendang belut di dapur Istana Silinduang Bulan, Batusangkar, Sumatera Barat, Kamis (11/7/2013). Rendang belut yang menjadi sajian khusus di lingkungan Kerajaan Pagaruyung ini menggunakan berbagai macam dedaunan yang diperoleh dari hutan tanaman liar dan kebun.
EditorI Made Asdhiana
BEGITULAH, rendang menempati aspek sangat penting dalam konteks sosial-budaya orang Minang. Namun, sejak kapan tradisi itu muncul? Lebih jauh lagi sejak kapan orang Minang mengenal rendang? Pertanyaan itu sederhana, tetapi sulit dijawab. Maklum, catatan tertulis mengenai rendang terbilang minim. Maka, para sejarawan Minang yang ditanya mengenai sejarah rendang pun hanya bisa menyodorkan dugaan-dugaan ketimbang kepastian.

Muhammad Nur, misalnya, menduga, makanan serupa rendang telah disebutkan dalam sejarah lisan sejak abad kuno, yakni antara abad ke-4 dan ke-10. Namun, catatan tertulis mengenai makanan olahan daging baru muncul dalam laporan-laporan ulama Islam Syekh Burhanuddin asal Ulakan, Pariaman, pada abad ke-17.

Pendapat ini didukung Nurmatias, sejarawan sekaligus Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya yang berkantor di Kota Padang. Seiring dengan proses Islamisasi Tanah Minang, lanjut Nurmatias, Syekh Burhanuddin menjadikan makanan olahan daging sebagai media syiar Islam. Ia berusaha mengubah kebiasaan memakan makanan berbahan daging yang tidak halal.

”Jadi, sebelum Islam masuk, kemungkinan ada makanan serupa rendang yang dibuat dari daging yang tidak halal. Setelah itu ada gerakan makan daging halal,” kata Nurmatias.

Pendapat lain diungkapkan sejarawan dari Universitas Andalas, Gusti Asnan. Ia menegaskan, catatan tertulis yang paling jelas mendeskripsikan makanan serupa rendang baru muncul abad ke-19. Catatan tersebut dibuat Kolonel Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers, komandan militer dan residen di Padang (1824-1829), pada tahun 1827. Ia melaporkan, para pedagang Minang yang berdagang ke wilayah Singapura dan Malaysia melalui Sungai Kuantan dan Indragiri membawa bekal makanan berupa daging yang dimasak sampai kering dan menghitam.

”Kemungkinan masakan itu rendang. Berarti pada periode sebelumnya orang Minang sudah mengenal rendang meski belum menyebutnya sebagai rendang,” ujar Gusti.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Aneka bumbu dijual di kios bumbu masakan di Pasar Bukit Tinggi, Sumatera Barat, awal Juli lalu. Kios tersebut menyediakan berbagai macam racikan bumbu untuk masakan khas Minangkabau.
Rendang sebagai nama makanan, lanjut Gusti, relatif baru. Buku Makanan dan Permainan Orang Minang yang ditulis M Yostra dan terbit tahun 1923 bahkan belum menyebut nama rendang. Baru pada tahun 1930 istilah rendang muncul di majalah-majalah perkumpulan orang Minang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski namanya baru muncul abad ke-20, rendang diduga masakan yang lahir pada masa lalu ketika Sumatera terlibat dalam jaringan perdagangan rempah dunia. Pada abad ke-13, pedagang India Tamil yang berburu lada mulai hidup menetap di pesisir barat Sumatera. Abad ke-14 dan ke-15, mereka mulai membeli lada hingga wilayah Tiku dan Pariaman yang masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh.

Perdagangan lada di Sumatera saat itu berada dalam genggaman Kesultanan Aceh. Namun, lada yang dipasok Kesultanan Aceh ke pasar dunia sebagian besar ditanam orang Minangkabau di dataran tinggi Sumatera tengah (Anthony Reid; Menuju Sejarah Sumatera, 2011).

Lewat interaksi yang panjang dengan pedagang India, orang Sumatera, terutama Aceh dan Minangkabau, mengenal penggunaan bumbu dan rempah-rempah. Makanan Aceh seperti kari dan gulai memperlihatkan jejak India yang kuat.

Halaman:
Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Festival Indonesia Hidden Heritage Week, Upaya Memajukan Wisata Sejarah Indonesia

Festival Indonesia Hidden Heritage Week, Upaya Memajukan Wisata Sejarah Indonesia

Travel Update
Itinerary 1 Hari di Wonogiri, Bisa Nikmati Suasana ala Bali

Itinerary 1 Hari di Wonogiri, Bisa Nikmati Suasana ala Bali

Itinerary
5 Tempat Wisata di Sekitar Candramaya Pool and Resort Klaten

5 Tempat Wisata di Sekitar Candramaya Pool and Resort Klaten

Jalan Jalan
Sepeda Motor Tidak Kena Aturan Ganjil Genap di Tempat Wisata Gunungkidul

Sepeda Motor Tidak Kena Aturan Ganjil Genap di Tempat Wisata Gunungkidul

Travel Update
Rute dan Harga Tiket Masuk Candramaya Pool and Resort Klaten

Rute dan Harga Tiket Masuk Candramaya Pool and Resort Klaten

Jalan Jalan
7 Tips Wisata ke Candramaya Pool and Resort Klaten, Reservasi dari Jauh Hari

7 Tips Wisata ke Candramaya Pool and Resort Klaten, Reservasi dari Jauh Hari

Travel Tips
Mengintip Pesona Desa Penglipuran di Bali, Desa Terbersih Ketiga di Dunia

Mengintip Pesona Desa Penglipuran di Bali, Desa Terbersih Ketiga di Dunia

BrandzView
Anak Usia di Bawah 12 Tahun Diizinkan Naik Kapal, Ini Aturannya Mulai 21 Oktober

Anak Usia di Bawah 12 Tahun Diizinkan Naik Kapal, Ini Aturannya Mulai 21 Oktober

Travel Update
Syarat Baru Naik Kereta Api per 22 Oktober 2021, Tidak Wajib Bawa STRP

Syarat Baru Naik Kereta Api per 22 Oktober 2021, Tidak Wajib Bawa STRP

Travel Update
Anak Usia di Bawah 12 Tahun Boleh Naik Kereta Api Jarak Jauh, Ini Syaratnya

Anak Usia di Bawah 12 Tahun Boleh Naik Kereta Api Jarak Jauh, Ini Syaratnya

Travel Update
Anak Usia di Bawah 12 Tahun Boleh Naik Pesawat, Kereta Api, dan Kapal

Anak Usia di Bawah 12 Tahun Boleh Naik Pesawat, Kereta Api, dan Kapal

Travel Update
Bantul Terapkan Aturan Ganjil Genap Kendaraan Wisatawan hingga 24 Oktober

Bantul Terapkan Aturan Ganjil Genap Kendaraan Wisatawan hingga 24 Oktober

Travel Update
60 Persen Anggota PHRI Yogyakarta Kantongi QR Code PeduliLindungi

60 Persen Anggota PHRI Yogyakarta Kantongi QR Code PeduliLindungi

Travel Update
Aturan Perjalanan Terbaru Jadi Rujukan untuk Antisipasi Libur Nataru

Aturan Perjalanan Terbaru Jadi Rujukan untuk Antisipasi Libur Nataru

Travel Update
Pemerintah Wajibkan Tes PCR Sebagai Syarat untuk Naik Pesawat, Ini Alasannya

Pemerintah Wajibkan Tes PCR Sebagai Syarat untuk Naik Pesawat, Ini Alasannya

Travel Update

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.