Kompas.com - 13/09/2013, 07:58 WIB
Chef Horaguchi memasak menu chanko nabe Rikishi Japanese Restaurant di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. KOMPAS/WAWAN H PRABOWOChef Horaguchi memasak menu chanko nabe Rikishi Japanese Restaurant di kawasan Melawai, Jakarta Selatan.
EditorI Made Asdhiana
RESTORAN Jepang bernama Rikishi ini luput dari pembicaraan penikmat kuliner di Jakarta. Namun, diam-diam selama ini restoran itu menjadi oase bagi ekspatriat Jepang di Jakarta. Hanya di sini pula kita bisa menikmati chanko nabe, menu para pesumo, yang diracik sepenuh hati.

Segelintir orang yang mengenali restoran bersahaja ini menjulukinya ”restoran underground” karena tersembunyi dari gemerlapnya restoran Jepang lainnya di Jakarta. Rikishi merupakan istilah untuk menyebut pemain sumo, olahraga gulat khas Jepang.

Tidak ada informasi yang valid mengenai Rikishi di internet. Tiada muslihat pemasaran ala resto masa kini, promosi, ataupun publikasi mengenai Rikishi. Hanya sebuah media komunitas ekspatriat Jepang di Jakarta yang sempat mengulasnya secara singkat dalam bahasa Jepang. Alhasil, pelanggan setia Rikishi nyaris eksklusif datang dari kalangan ekspatriat Jepang di Jakarta saja.

Rikishi dikelola sepasang suami istri Horaguchi Kiyomasa (54) dan Nurjana Horaguchi (47). Restoran mungil ini berlokasi di Jalan Melawai Raya, kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Rikishi berada tepat di tepi trotoar sepanjang Jalan Melawai, beberapa meter dari Hotel Melawai saja.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Bahan mentah chanko nabe Rikishi Japanese Restaurant di kawasan Melawai, Jakarta.
Ketika restoran tutup saat istirahat siang, noren atau tirai khas Jepang tidak terpasang di muka pintu kayu bercat hijau itu. Noren bergambar pesumo kembali terpasang sebagai tanda bahwa restoran sudah buka kembali pada petang hari. Suasana malam yang temaram, trotoar yang sepi, dan bias sinar neon yang lembut dari papan nama Rikishi memberi aura ”underground” yang kental.

Di ruang dalam, pada salah satu sisi dinding, terpasang hiasan berupa tanda tangan dan cap tangan para pesumo dari tingkatan yokozuna, yakni peringkat (banzuke) tertinggi dan dianggap pesumo terandal. ”Tidak semua orang bisa mendapatkan cap tangan pesumo dari tingkatan yokozuna. Suami saya kebetulan kakaknya adalah pesumo,” ungkap Nurjana, yang akrab dipanggil Nana.

Horaguchi berasal dari Prefektur Miyagi yang dua tahun lalu diterjang gempa. Sekitar 25 tahun lalu, Horaguchi mulai tinggal di Jakarta sebagai karyawan di suatu perusahaan Jepang. Sejak tahun 1993, Horaguchi dan istrinya, Nana, yang orang Indonesia, membuka restoran Rikishi. Restoran ini menjadi semacam pelabuhan bagi Horaguchi untuk menyalurkan hobinya memasak.

Ketika Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yoshinori Katori menjamu para pesumo yang datang untuk mengisi acara Sumo Tournament di Jakarta beberapa waktu lalu, Horaguchi mendapat kehormatan memasak seluruh hidangan jamuan untuk para pesumo. Menu yang disantap para pesumo tersebut populer disebut chanko nabe.

Chanko nabe anko

Di Rikishi, semua menu juga dimasak sendiri oleh Horaguchi. Salah satu menu andalan di Rikishi yang tidak tersedia di restoran Jepang lainnya adalah chanko nabe. Ada dua pilihan, yakni chanko nabe ikan anko dan chanko nabe ikan salmon. Ikan anko terbilang amat jarang tersaji di restoran Jepang lainnya di Indonesia. Ikan anko hidup di laut dalam di perairan dingin.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.