Kompas.com - 16/09/2013, 11:36 WIB
Bandara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dalam proses perluasan di bagian apron pesawat, Jumat (2/8/2013). Setelah diperluas, bandara ini akan didarati pesawat Boeing. KOMPAS/KORNELIS KEWA AMABandara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dalam proses perluasan di bagian apron pesawat, Jumat (2/8/2013). Setelah diperluas, bandara ini akan didarati pesawat Boeing.
EditorI Made Asdhiana
SEJAK ditetapkan sebagai New 7 Wonders of Nature, kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara ke Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, terus meningkat. Oleh sebab itu, untuk menampung jumlah turis yang membeludak, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat memperluas areal Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo.

Saat ini, lintasan pendaratan pesawat di Bandara Komodo baru mencapai 1.850 meter, yang akan ditambah 300 meter. Harusnya, penyelesaian pembangunannya awal September lalu, tetapi hingga kini belum bisa diselesaikan. Diharapkan, jika penambahan lintasan pendaratan bisa selesai, pesawat jenis Boeing akan bisa mendarat di Labuan Bajo. Adapun landasan parkir pesawat hingga kini masih dalam proses pengerjaan.

Sebagaimana diketahui, Bandara Komodo merupakan satu-satu akses infrastruktur sebelum pengunjung melanjutkan perjalanannya dengan perahu motor menuju Pulau Komodo dari Dermaga Labuan Bajo.

Namun, perluasan bandara ternyata tak semudah yang dikira. Masyarakat adat tak mudah menerima begitu saja kemauan pemerintah. Tak ayal, terjadi silang pendapat yang dikhawatirkan berujung pada konflik lahan antara warga versus pemerintah setempat.

Koordinator Masyarakat Adat Manggarai Barat Darius Djabat, baru-baru ini, merasa tak berdaya menghadapi kekuasaan. Lahan seluas 25.000 hektar yang diklaim sebagai tanah ulayat kini dikuasai pemerintah untuk perluasan. Warga pun melawan.

Bersama 59 anggota sukunya, Djabat mendatangi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan DPR. Namun, upaya tersebut sia-sia. Tuntutan mereka agar ada ganti rugi lahan seluas 25.000 hektar dengan harga Rp 400.000 per meter persegi pun ditanggapi dingin. Warga pun terus bertahan.

Meski demikian, pemerintah jalan terus. Akhir Agustus lalu, dua alat berat terlihat terus menggusur lahan ulayat di bagian timur dan selatan Bandara Komodo. Padahal, masyarakat memasang patok, tanda batas tanah ulayat.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Sejak nenek moyang, kami telah menguasai lahan ini, tetapi pemerintah daerah diam-diam membuat sertifikat tanah di atas lahan tanpa pengetahuan kami. Memang, kami tak punya sertifikat karena masih dalam proses karena Badan Pertanahan berlokasi cukup jauh atau sekitar 130 kilometer dari Labuan Bajo,” ujarnya.
Sebatas memantau

Kini, didampingi Sekretaris Koordinator Masyarakat Adat Agus Tutung dan sejumlah anggota, warga setiap hari memantau aktivitas perluasan Bandara Komodo oleh kontraktor. Namun, mereka tak berdaya saat bukit-bukit kecil di sekitar bandara, terutama dari arah pendaratan pesawat, diratakan. ”Kami hanya bisa memantau saja, dan tak bisa berbuat apa-apa,” ujar Djabat.

Masyarakat adat sebenarnya telah menyerahkan surat gugatan terkait penguasaan tanah ulayat tersebut. Meskipun hanya kepada Camat Labuan Bajo, sikap tersebut sudah jelas. Warga menuntut ganti rugi atas lahannya yang kini sudah digunakan untuk perluasan bandara.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Taman Langit Malang, Wisata Spot Foto Kekinian Berlatar Gunung Banyak

Taman Langit Malang, Wisata Spot Foto Kekinian Berlatar Gunung Banyak

Jalan Jalan
4 Galeri Seni Amsterdam, Kota Digelarnya Belanda Vs Ukraina Euro 2020

4 Galeri Seni Amsterdam, Kota Digelarnya Belanda Vs Ukraina Euro 2020

Jalan Jalan
5 Bangunan Sejarah Bucharest, Lokasi Tanding Austria Vs Makedonia Utara Euro 2020

5 Bangunan Sejarah Bucharest, Lokasi Tanding Austria Vs Makedonia Utara Euro 2020

Jalan Jalan
Pandemi, PNBP Kawasan Bromo dan Semeru Turun Drastis Jadi Rp 6 M

Pandemi, PNBP Kawasan Bromo dan Semeru Turun Drastis Jadi Rp 6 M

Travel Update
Kampung Mandar Fish Market Festival, Tempat Berburu Ikan di Banyuwangi

Kampung Mandar Fish Market Festival, Tempat Berburu Ikan di Banyuwangi

Jalan Jalan
5 Objek Wisata di London, Tempat Laga Inggris Vs Kroasia di Euro 2020

5 Objek Wisata di London, Tempat Laga Inggris Vs Kroasia di Euro 2020

Jalan Jalan
Apa itu Paspor Vaksin Uni Eropa? Ini Penjelasannya

Apa itu Paspor Vaksin Uni Eropa? Ini Penjelasannya

Travel Update
5 Fakta Stadion Wembley, Tempat Laga Inggris Vs Kroasia di Euro 2020

5 Fakta Stadion Wembley, Tempat Laga Inggris Vs Kroasia di Euro 2020

Travel Update
2 Paket Wisata Bali Masuk Daftar Terbaik Sedunia 2020 Versi TripAdvisor

2 Paket Wisata Bali Masuk Daftar Terbaik Sedunia 2020 Versi TripAdvisor

Travel Update
5 Fakta Menarik Kota Baku, Tempat Tanding Wales Vs Swiss di Euro 2020

5 Fakta Menarik Kota Baku, Tempat Tanding Wales Vs Swiss di Euro 2020

Travel Update
8 Tips Naik Pesawat Selama PPKM Mikro, Jangan Lupa Minta Cap!

8 Tips Naik Pesawat Selama PPKM Mikro, Jangan Lupa Minta Cap!

Travel Tips
Yadna Kasada 2021, Wisata Gunung Bromo Tutup 24-26 Juni 2021

Yadna Kasada 2021, Wisata Gunung Bromo Tutup 24-26 Juni 2021

Travel Update
Aturan Naik Pesawat Saat PPKM Mikro Lebih Banyak, Menyesal Sudah Beli Tiket?

Aturan Naik Pesawat Saat PPKM Mikro Lebih Banyak, Menyesal Sudah Beli Tiket?

Jalan Jalan
5 Fakta Menarik Roma, Kota Digelarnya Laga Pembuka Euro 2020

5 Fakta Menarik Roma, Kota Digelarnya Laga Pembuka Euro 2020

Travel Update
Pengalaman Naik Pesawat Saat PPKM Mikro, Pemeriksaan Berkas Secepat Kilat

Pengalaman Naik Pesawat Saat PPKM Mikro, Pemeriksaan Berkas Secepat Kilat

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X