Kompas.com - 17/09/2013, 08:17 WIB
Karyawan restoran Soerabi Bandung HNH sedang memanggang serabi dalam tembikar-tembikar kecil, Jumat (13/9/2013) di restoran Soerabi Bandung HNH Jalan KH Ahmad Dahlan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. KOMPAS/ALOYSIUS B KURNIAWANKaryawan restoran Soerabi Bandung HNH sedang memanggang serabi dalam tembikar-tembikar kecil, Jumat (13/9/2013) di restoran Soerabi Bandung HNH Jalan KH Ahmad Dahlan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
EditorI Made Asdhiana
MEMASUKI restoran Soerabi Bandung HNH, tampak deretan foto kenangan Haji Suheryanto (57) bersama almarhum Ustaz Jeffry al Buchori. Di tempat ini, semasa hidupnya Uje sering memesan serabi kuah polos kesukaannya.

Suheryanto, pemilik restoran Soerabi Bandung HNH, sengaja mengabadikan tulisan tangan serta tanda tangan Uje dalam sebuah pigura indah. ”Enak euy,” demikian Uje menuliskan testimoni yang dilengkapi dengan huruf Arab di bagian atas dan nama Uje di bagian bawahnya.

Sejak dibuka tanggal 27 April 2011, restoran di Jalan KH Ahmad Dahlan No 22A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini mengangkat ikon serabi Bandung sebagai produk utamanya. Menu serabi sengaja dipilih Suheryanto sebagi maskot utama restoran. Menurut dia, di tengah maraknya pertumbuhan restoran-restoran cepat saji, menu-menu lokal perlu diangkat kembali di ”panggung” yang layak. Restorannya cukup memberikan bukti bahwa penganan tradisi jika diberi sentuhan baru mampu menarik minat pembeli masa kini.

Di tempat ini, serabi Bandung disajikan dalam sekitar 30 rasa dengan variasi topping di bagian atas permukaan serabi. Bahkan, variasi rasa ini bisa dikembangkan hingga 50 macam rasa.

Serabi cokelat keju spesial, misalnya, dihidangkan dengan taburan parutan keju. Di lapisan bawah taburan keju, serabi hangat berbentuk mangkuk setengah lingkaran itu terlebih dulu diguyur cokelat hangat. Di sekelilingnya, lumeran mayones manis mengelilingi serabi menebarkan aroma gurih.

Seperti serabi Bandung pada umumnya, serabi buatan restoran ini berukuran lebih besar dibanding serabi Notosuman di Solo atau serabi di Ambarawa. Serabi ini juga tak disajikan dengan kuah, teksturnya kering dengan pantat bawah agak gosong yang kemripik.

Begitu digigit, adonan tepung beras, terigu, dan parutan kelapa yang berpadu dengan aneka macam rasa pada topping terasa lembut di mulut. Bagi mereka yang tak suka makan terlalu hangat, tersedia pula serabi dengan tumpukan es krim di atasnya.

Manis, pedas, asin

Pada umumnya, serabi tradisional atau serabi kampung hanya berasa manis dan gurih. Namun, di restoran Soerabi Bandung HNH, pengunjung bisa memasuki petualangan rasa serabi yang tak hanya manis atau gurih, tetapi juga pedas dan asin.

Dengan berbagai varian rasa, siapa pun bisa mencoba, mulai dari produk orisinal serabi kuah polos, cokelat susu, cokelat keju, pisang cokelat, pisang susu, nangka susu, ayam sosis spesial, oncom telor spesial, kurma keju es krim, hingga durian keju spesial.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.