Kompas.com - 19/09/2013, 09:24 WIB
Induk dan anak orangutan ini berkeliaran di area kebun warga di Kampung Selok Bugis, Kariangau, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (7/2/2013). Ini bisa memicu potensi konflik dengan warga karena satwa eksotis itu memakan buah dari pohon milik warga, dan area jelajahnya pun makin mendekati rumah-rumah.

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYAInduk dan anak orangutan ini berkeliaran di area kebun warga di Kampung Selok Bugis, Kariangau, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (7/2/2013). Ini bisa memicu potensi konflik dengan warga karena satwa eksotis itu memakan buah dari pohon milik warga, dan area jelajahnya pun makin mendekati rumah-rumah.
EditorI Made Asdhiana
KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Ilustrasi: Orangutan.

HARI masih gelap saat orangutan (Pongo pygmaeus) dan owa-owa (Hylobates spp) mulai bangun. Meskipun jam baru menunjukkan pukul 04.00, riuh rendah suara satwa-satwa yang dilindungi itu sudah bersahut-sahutan. Itulah subuh yang semarak di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah.

Suasana kian meriah seiring langit yang semakin benderang dan kicauan burung-burung yang bersahutan. Tampaklah kemudian hamparan hutan dengan hawa nan sejuk. Di Visitor Center atau Pusat Penelitian dan Informasi Kawasan Danau Punggualas, Desa Keruing, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, itu beberapa wisatawan siap bertualang.

Sebangau adalah salah satu taman nasional di Kalteng dengan luas hampir 600.000 hektar. Taman nasional itu berada di tiga daerah, yakni Kota Palangkaraya serta Kabupaten Katingan dan Pulang Pisau. Sebangau menyimpan kekayaan hayati, baik flora maupun fauna.

Selain orangutan serta owa-owa, Sebangau juga menjadi habitat antara lain bekantan (Nasalis larvatus), beruang madu (Helarctos malayanus), macan dahan (Neofelis nebulosa), dan kucing hutan (Felis bangalensis). Satwa yang paling memiliki daya tarik untuk diamati tentu saja orangutan.

Karena itu, para wisatawan tadi berkunjung ke Keruing, desa tempat kamp penelitian orangutan berada. Bangunan tersebut dikelola organisasi konservasi World Wide Fund (WWF). Setelah memasukkan barang-barang yang dibutuhkan ke dalam tas, mereka pun siap menyusuri hutan.

Perjalanan yang awalnya cukup mudah kemudian bertambah sulit ketika harus melangkah di papan kayu. Tak lama kemudian, para wisatawan berjalan di genangan air dan menggunakan tali untuk menarik tubuh dan menjaga keseimbangan. Namun, upaya itu akhirnya tak sia-sia.

Beberapa orangutan terlihat berayun lincah menggenggam dahan-dahan. Seekor orangutan menyambut wisatawan dengan memonyongkan bibirnya. Sungguh lucu sehingga membuat beberapa turis tertawa. Hampir semua wisatawan mengeluarkan kamera untuk mengabadikan momen yang amat berharga itu.

Tentunya, mereka tetap menjaga jarak yang aman dengan orangutan. Meski terlihat jenaka, pengunjung harus tetap waspada karena perilaku orangutan tak bisa diduga. Orangutan bisa saja mengejar tanpa dapat ditebak tujuannya. Alasan dibuatnya ketentuan pengunjung tak terlalu dekat dengan orangutan juga bertujuan agar satwa tersebut tak merasa terganggu.

Kini, populasi orangutan di Kalteng ditaksir sekitar 30.000 orangutan. Sebangau bisa dianggap surga orangutan karena di taman nasional tersebut, populasi hewan ini paling besar di Kalteng, yaitu 6.000-9.000 individu. Meski demikian, faktor keberuntungan sangat menentukan jika hendak melihat orangutan di Sebangau.

Sensasi petualangan

Halaman:


Sumber hhhhhhhhhh
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X