Kompas.com - 19/09/2013, 10:53 WIB
Para turis dari kapal pesiar MV Clipper Odyssey asal Miami Amerika Serikat, disambut kedatangannya di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Senin (10/1/2011). Dalam kunjungan selama enam jam di Banda Aceh, wisatawan mengunjungi sejumlah objek wisata tsunami, sejarah, dan menyaksikan atraksi budaya Aceh. SERAMBI INDONESIA/M ANSHARPara turis dari kapal pesiar MV Clipper Odyssey asal Miami Amerika Serikat, disambut kedatangannya di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Senin (10/1/2011). Dalam kunjungan selama enam jam di Banda Aceh, wisatawan mengunjungi sejumlah objek wisata tsunami, sejarah, dan menyaksikan atraksi budaya Aceh.
EditorI Made Asdhiana
MAKAU, KOMPAS — Sejumlah negara tengah bersiap menjawab tantangan makin meningkatnya angka kunjungan wisata secara internasional. Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), sebuah badan PBB yang membawahi urusan pariwisata, memperkirakan pada tahun 2030 terdapat 1,8 miliar kunjungan wisatawan secara internasional.

Demikian sebagian yang terangkum dalam pertemuan hari pertama Global Tourism Economy Forum (GTE-Forum), Rabu (18/9/2013), di Macau Tower, Makau, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Ingki Rinaldi.

Pertemuan itu membahas sejumlah hal terkait dengan kekuatan, kelemahan, ancaman, dan peluang sejumlah negara dalam merespons makin berkembangnya industri pariwisata sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, dalam diskusi, melontarkan ide privatisasi manajemen bandara di Indonesia guna merespons makin padatnya lalu lintas lewat udara, berkenaan dengan meningkatnya kunjungan wisata ke depan. Privatisasi ini karena fakta meningkatnya kunjungan wisata cenderung membuat manajemen bandara beroperasi di atas kemampuan atau kapasitasnya.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Wisatawan dari Kanada hendak berselancar di pantai barat, Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue, Aceh, Jumat (13/4/2012). Selain berselancar, wisatawan ini juga dapat menikmati laut lepas Simeulue dengan menyelam.
Mari menambahkan, hal itu juga terkait dengan fakta bahwa saat ini sekitar 40 persen pendapatan bandara berasal dari hal-hal yang tidak terkait dengan bisnis penerbangan.

”Di antaranya seperti dari bisnis (penjualan) retail,” ujar Mari.

Ia menambahkan, privatisasi pengelolaan bandara itu tidak termasuk dengan penguasaan sejumlah aset, seperti lahan dan sebagainya.

Menurut Mari, Indonesia juga mesti memikirkan soal peluang memaksimalkan pasar wisatawan Nusantara. Ini terkait dengan kian bertambahnya jumlah kelas menengah dan bonus demografi berupa ledakan jumlah penduduk usia produktif 10 tahun hingga 15 tahun ke depan.

Wakil Ketua Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC) Su Rong dalam sambutannya mengatakan, dalam beberapa tahun ke depan industri pariwisata akan jadi pilar pertumbuhan ekonomi China. ”Hongkong dan Makau adalah prioritas kami,” katanya.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Pasangan turis dari Belanda memanfaatkan waktu singgah kapal pesiar yang membawa mereka dengan berjalan-jalan di Kawasan Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/1/2012).
Hongkong dan Makau kini berstatus administrasi khusus (Special Administrative Region/ SAR) China setelah dikembalikan dari Inggris dan Portugis.

Menteri Turisme Portugal Adolfo Mesquita Nunes mengatakan, di Portugal, industri pariwisata menyumbang 10 persen produk domestik bruto dan 8 persen dari total tenaga kerja.

Sementara itu Menteri Pariwisata Kamboja Thong Khon menyebutkan, jika dalam sepuluh tahun lalu hanya ada 20 maskapai penerbangan yang singgah, kini sudah lebih dari 30 maskapai. Ini indikasi terjadi pertumbuhan industri pariwisata di Kamboja.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.