Kompas.com - 20/09/2013, 14:19 WIB
EditorI Made Asdhiana
Mulai Jumat (20/9/2013) ini, dengan berkendara, "Kompas" melakukan Jelajah Peradaban dari Sabang, Aceh, ke Merauke, Papua. Perjalanan memakan waktu sekitar 40 hari. Laporan diperkaya oleh tim dari hampir seluruh negeri dan diturunkan mulai Sabtu besok hingga 30 Oktober mendatang. Perjalanan dijadwalkan berakhir di Merauke pada 28 Oktober 2013 sekaligus memperingati 85 tahun Sumpah Pemuda. Selain kegiatan jurnalistik, di sejumlah kota juga digelar sejumlah kegiatan.

***

Indonesia yang cantik, membentang di khatulistiwa. Tanah Air menyajikan panorama dan keunikan yang tiada tara. Leluhur kita mewariskan tempat, budaya, dan nilai-nilai yang mengundang decak kagum penjelajah. Meskipun beragam, keunikannya justru mempererat budaya satu dengan yang lain. Ini yang disebut Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna ’meski berbeda-beda tetap satu’.

Banyak penjelajah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, bertualang di alam Indonesia. Mereka berjalan kaki, bersepeda, mengendarai mobil, menggunakan pesawat, hingga berlayar untuk melihat negeri kepulauan nan elok ini. Penjelajahan seperti itu tidak akan pernah berakhir karena negeri ini selalu saja memukau.

Sejak dahulu, Indonesia memiliki daya tarik. Indonesia didatangi orang-orang dari berbagai bangsa, antara lain, dari India, China, Arab, Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda, karena kekayaan sumber daya alamnya.

Sedikit bernostalgia ke masa lalu, Indonesia menjadi jalur perdagangan dunia yang sangat penting. Beberapa komoditas dari Indonesia laku keras di pasaran dunia. Bukan cuma wilayah Indonesia bagian barat yang ramai, pencarian sumber komoditas pun dilakukan sampai wilayah timur Indonesia.

Di Indonesia, pintu masuk itu berjajar, mulai dari barat Sumatera ke selatan Jawa hingga ke wilayah Papua. Pelayaran bangsa asing itu juga membawa misi perniagaan dan agama, yang pada perjalanannya membuat kota yang disinggahi menjadi berkembang. Tradisi yang dibawa pendatang dan relasi sosial yang terjalin dengan penduduk lokal semakin mengembangkan peradaban.

Pada masa sekarang, perkembangan sebuah kota tidak bisa lepas dari perkembangan kota lain yang berdekatan. Perkembangan itu sangat ditentukan oleh keterhubungan antarkota yang berdekatan. Ketersediaan infrastruktur jalan yang baik menjadi kunci pergerakan manusia dalam mengembangkan motif ekonomi, sosial, dan budaya. Itu sebabnya, daerah yang infrastrukturnya (jalan, jembatan) buruk akan tertinggal dari segi ekonomi dan terlambat dalam mengikuti perkembangan teknologi dan informasi.

Menapak tilas kota-kota yang dulu berkembang atau jaya karena menjadi persinggahan dalam jalur pelayaran serta kota-kota yang berkembang pada masa sekarang karena kondisi infrastruktur yang menunjang pergerakan jalur darat adalah sebuah impian. Impian inilah yang berusaha diwujudkan harian Kompas melalui Ekspedisi Sabang-Merauke: Kota dan Peradaban untuk menyingkap rahasia kejayaan masa lampau yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa ini ke depan.

Jalan darat dan laut akan kita tempuh untuk menguntai Sabang hingga Merauke. Perjalanan ekspedisi ini bukan perjalanan yang sifatnya melulu jurnalistik, melainkan juga perjalanan ilmiah dan kesejarahan. Dalam ekspedisi ini, kami menyeleksi kota dan pulau yang dinilai sebagai sumber dan pusat peradaban besar serta memiliki warisan budaya unggul, dominan, atau kegiatan ekonomi yang berpengaruh besar terhadap perkembangan kota itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harga Tiket Rengganis Suspension Bridge, Gratis untuk Warga 3 Kecamatan Ini

Harga Tiket Rengganis Suspension Bridge, Gratis untuk Warga 3 Kecamatan Ini

Travel Tips
Terus Mimpi Buruk, Pencuri Kembalikan Patung Curian ke Kuil di India

Terus Mimpi Buruk, Pencuri Kembalikan Patung Curian ke Kuil di India

Travel Update
Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Air Terjun Kapas Biru Lumajang

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Air Terjun Kapas Biru Lumajang

Travel Tips
Air Terjun Kapas Biru Lumajang yang Berselimut Kabut, Bagai di Negeri Khayangan

Air Terjun Kapas Biru Lumajang yang Berselimut Kabut, Bagai di Negeri Khayangan

Jalan Jalan
Jangan Pakai Brankas Kamar Hotel, Mudah Dibobol Hanya dengan Cara Ini

Jangan Pakai Brankas Kamar Hotel, Mudah Dibobol Hanya dengan Cara Ini

Travel Tips
Bukan di Atas Ombak Laut Lepas, Begini Keseruan Bono Surfing di Sungai Kampar Riau

Bukan di Atas Ombak Laut Lepas, Begini Keseruan Bono Surfing di Sungai Kampar Riau

Jalan Jalan
Rengganis Suspension Bridge di Bandung, Wisata Baru Jembatan Gantung Terpanjang di Asean

Rengganis Suspension Bridge di Bandung, Wisata Baru Jembatan Gantung Terpanjang di Asean

Jalan Jalan
32 Tempat Wisata Malang Raya, Banyak Tempat Bernuansa Alam

32 Tempat Wisata Malang Raya, Banyak Tempat Bernuansa Alam

Jalan Jalan
Motif Batik yang Boleh Dipakai dan yang Dilarang untuk Pernikahan

Motif Batik yang Boleh Dipakai dan yang Dilarang untuk Pernikahan

Jalan Jalan
Indonesia Turun ke Level 1 CDC Amerika, Berisiko Rendah Covid-19

Indonesia Turun ke Level 1 CDC Amerika, Berisiko Rendah Covid-19

Travel Update
Jangan Beri Uang Tip ke Pramugari, Akibatnya Bisa Merugikan

Jangan Beri Uang Tip ke Pramugari, Akibatnya Bisa Merugikan

Travel Tips
Korea Selatan Kembali Terbitkan Visa untuk Turis Asing per 1 Juni

Korea Selatan Kembali Terbitkan Visa untuk Turis Asing per 1 Juni

Travel Update
Pantai Tureloto di Nias Utara, Dikenal sebagai Laut Matinya Indonesia

Pantai Tureloto di Nias Utara, Dikenal sebagai Laut Matinya Indonesia

Jalan Jalan
Wisata ke Malaysia Kini Tidak Perlu Tes PCR, Asuransi, dan Karantina

Wisata ke Malaysia Kini Tidak Perlu Tes PCR, Asuransi, dan Karantina

Travel Update
Motif Batik Larangan Keraton yang Tak Boleh Dipakai Orang Biasa

Motif Batik Larangan Keraton yang Tak Boleh Dipakai Orang Biasa

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.