Kompas.com - 26/09/2013, 08:01 WIB
Pebalap sepeda Tour de Singkarak 2013 memacu sepedanya melewati Danau Kembar, Solok, Sumatera Barat, Kamis (6/6/2013). Etape 5 balap sepeda Tour de Singkarak 2013 Sawahlunto - Muara Labuh menempuh jarak 138,5 km dengan juara 1 Amir Kolahdozhagh dari tim TPT. WARTA KOTA / ANGGA BHAGYA NUGRAHAPebalap sepeda Tour de Singkarak 2013 memacu sepedanya melewati Danau Kembar, Solok, Sumatera Barat, Kamis (6/6/2013). Etape 5 balap sepeda Tour de Singkarak 2013 Sawahlunto - Muara Labuh menempuh jarak 138,5 km dengan juara 1 Amir Kolahdozhagh dari tim TPT.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
LUBUK LINGGAU, KOMPAS.com- Perjalanan dari Bukittinggi ke Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, melalui Sawahlunto di Sumatera Barat, Rabu (25/9/2013), memang mengesankan. Jalan sempit berkelok tak terasa membosankan berkat panorama sawah dan sungai jernih di kaki Gunung Marapi memang memanjakan mata. Sebuah pelajaran dari sejarah kota ini pun bisa dipetik.

Dari kejauhan, terlihat Danau Singkarak berteman Bukit Barisan yang berselimut kabut.  
Tim Ekspedisi Sabang-Merauke: Kota dan Jejak Peradaban harian Kompas sengaja memilih jalur melalui Kota Sawahlunto untuk menyaksikan sejarah kota penghasil batubara berkualitas tinggi yang terkenal ke seantero dunia pada abad ke-19.

Tulisan Sawahlunto dalam huruf besar mirip penanda Hollywood di Amerika Serikat terpajang di puncak bukit menyambut, saat dua kendaraan kami memasuki kota. Kami juga langsung melihat tiga silo besar dari beton yang berdiri seperti raksasa menyergap mata. Tabung setinggi kira-kira gedung berlantai 10 ini dulu berfungsi sebagai tempat penampungan batubara.

Selain silo, Belanda banyak membangun infrastruktur di Sawahlunto terkait dengan pertambangan batubara. Seperti, gudang ransum, dapur umum, permukiman bagi orang China yang bekerja sebagai buruh kontrak atau pedagang, gedung tempat berkumpulnya orang Eropa (Belanda dan Jerman), gedung komedi, dan jalur kereta api hingga ke Pelabuhan Teluk Bayur di Kota Padang. Selain pelabuhan, semua infrastruktur itu kini menjadi museum dan lanskap penghias kota.

Saat waktu bergulir...

Ditemani pemandu wisata di Galeri Kotak Info dan Lubang Tambang Mbah Soero, Wilizon, kami mengunjungi tempat dahulu para tahanan dipaksa bekerja mengeksploitasi batu bara di bawah tanah yang lembab dan gelap. Para tahanan yang diangkut kapal dari berbagai penjara di Pulau Jawa tersebut kemudia dikenal dengan sebutan "orang rantai".  

Berbekal helm dan perlengkapan keselamatan, kami menapaki anak tangga turun ke terowongan sedalam 16 meter di bawah permukaan tanah. Suara hembusan udara dari kompresor dan tetesan air mengiringi perjalanan kami menyusuri terowongan utama berdinding batu bata ini.  

Waktu berjalan, kini Pemerintah Kota Sawahlunto berupaya keras membangun wisata sejarah dan gerakan menanam pohon produktif seperti karet dan kakao untuk menggairahkan kembali sektor riil. Mereka tidak punya pilihan lain karena sejak PT Bukit Asam (Persero) berhenti mengeksploitasi batu bara di Sawahlunto tahun 1998, ekonomi kota kecil tersebut melambat dan perlahan-lahan mulai ditinggalkan penduduk.  

Setelah menikmati pecal dan es buah di samping lubang Mbah Soero, kami pun melanjutkan perjalanan ke Lubuk Linggau. Seperti Sawahlunto di masa lalu, kini Lubuk Linggau sedang menikmati kemajuan ekonomi dari pertambangan minyak dan gas yang juga sudah ada sejak zaman kolonial.

Lubuk Linggau cukup strategis karena berada di jalan lintas Sumatera dari Bengkulu ke Palembang dan dilintasi pengendara yang menuju atau datang dari Sumatera Barat dan Jambi. Ratusan toko berdiri di tepi jalan lintas Palembang-Bengkulu yang menjadi pusat kota Lubuk Linggau.  

Kini, sektor migas menjadi penyumbang terbesar perekonomian Musi Rawas. Namun, Lubuk Linggau perlu belajar dari pengalaman Sawahlunto untuk mempersiapkan sumber ekonomi produktif baru agar tidak semata-mata bergantung kepada hasil tambang. Lebih baik kita mengikuti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pullman Ciawi Vimala Hills Beri Promo Menginap dan Menu Spesial Imlek

Pullman Ciawi Vimala Hills Beri Promo Menginap dan Menu Spesial Imlek

Travel Promo
Perlukah Penutup Telinga Saat Bayi Naik Pesawat? Ini Penjelasan Dokter

Perlukah Penutup Telinga Saat Bayi Naik Pesawat? Ini Penjelasan Dokter

Travel Tips
Bos Maskapai AS Ingatkan Jaringan 5G Bisa Timbulkan Malapetaka

Bos Maskapai AS Ingatkan Jaringan 5G Bisa Timbulkan Malapetaka

Travel Update
Pramugari Lebih Pilih Layani Penumpang di Kelas Ekonomi, Ini Alasannya

Pramugari Lebih Pilih Layani Penumpang di Kelas Ekonomi, Ini Alasannya

Travel Update
Wajib Tahu, 8 Cara Aman Mengemas Makeup Saat Liburan

Wajib Tahu, 8 Cara Aman Mengemas Makeup Saat Liburan

Travel Tips
Sejarah Angpau, Tradisi Memberi Koin untuk Usir Roh Jahat

Sejarah Angpau, Tradisi Memberi Koin untuk Usir Roh Jahat

Travel Update
Asal-usul Imlek dan Tujuan Perayaannya, Penting Diketahui

Asal-usul Imlek dan Tujuan Perayaannya, Penting Diketahui

Travel Update
Sejarah Perayaan Imlek di Indonesia, Dulu Sempat Dilarang

Sejarah Perayaan Imlek di Indonesia, Dulu Sempat Dilarang

Travel Update
Penonton MotoGP Mandalika Jadi 100.000 Orang, Akomodasi Masih Kurang

Penonton MotoGP Mandalika Jadi 100.000 Orang, Akomodasi Masih Kurang

Travel Promo
7 Wisata Pacitan Selain Pantai yang Wajib Dikunjungi

7 Wisata Pacitan Selain Pantai yang Wajib Dikunjungi

Jalan Jalan
Skema Bebas Karantina Thailand Akan Diterapkan Lagi Februari 2022

Skema Bebas Karantina Thailand Akan Diterapkan Lagi Februari 2022

Travel Update
3 Wisata Gunung Api Purba Gunungkidul Selain Nglanggeran dan Wediombo

3 Wisata Gunung Api Purba Gunungkidul Selain Nglanggeran dan Wediombo

Jalan Jalan
Wings Air Akan Buka Rute Ternate-Ambon PP, Tiket Mulai Rp 839.600

Wings Air Akan Buka Rute Ternate-Ambon PP, Tiket Mulai Rp 839.600

Travel Update
Pemerintah Kota Denpasar Lakukan Penataan UMKM di Pantai Sanur Bali

Pemerintah Kota Denpasar Lakukan Penataan UMKM di Pantai Sanur Bali

Travel Update
22 Negara Ini Masuk Daftar Risiko Tertinggi untuk Perjalanan akibat Covid-19

22 Negara Ini Masuk Daftar Risiko Tertinggi untuk Perjalanan akibat Covid-19

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.