Kompas.com - 26/09/2013, 10:50 WIB
EditorI Made Asdhiana

Tantangan bertambah dengan kondisi aspal jalan yang terkelupas dan bergelombang. Kerusakan itu sangat parah di beberapa titik. Sebut saja ruas antara tanjakan Sedayu, Kabupaten Tanggamus, sampai Pemerihan dan Krui, Lampung Barat. Begitu pula jalan dari Kota Bengkulu menuju Mukomuko hingga Tapan, Sumatera Barat.

Di Air Punggul, sebelum Mukomuko, jalanan mirip kubangan kerbau. Lubang-lubang selebar 5 meter lebih yang dipenuhi lumpur menganga di tengah jalan. Melewati jalan rusak ini, truk- truk kerap terperosok lubang, mogok, atau malah terjungkal ke jurang.

Meredupnya Sumatera sebagai pusat peradaban pada masa lalu itu antara lain disebabkan adanya perubahan moda transportasi laut ke darat, terutama dengan pembangunan jalan oleh Belanda. Kondisi ini mendorong masyarakat beralih dari perahu atau kapal ke mobil atau kereta api. Setelah kemerdekaan, kota-kota tua itu tidak diberi peran sebagai pusat pemerintahan. Sementara para pengambil kebijakan tak punya kesadaran merawat kota-kota bersejarah itu.

Pemerintah lebih tertarik mengembangkan perdagangan di kawasan pantai timur Sumatera, khususnya di sekitar Selat Malaka, dengan pusatnya di Batam dan Medan. Dominasi pembangunan pantai timur ini bisa dilihat dari pengiriman hasil bumi dari pedalaman pantai barat Sumatera yang harus melalui jalur darat untuk kemudian dibawa dengan kapal dari pelabuhan Belawan, Medan.

Adapun untuk melayani arus perdagangan skala lokal di kawasan pantai barat Sumatera, pemerintah lebih tertarik mengembangkan pelabuhan yang lebih baru, seperti Singkil di utara dan Sibolga di selatan. Kehebatan Barus sebagai bandar internasional benar-benar dilupakan.

Masalah lain yang hingga kini jelas-jelas dirasakan masyarakat adalah timpangnya pembangunan. Perhatian pemerintah yang kurang membuat wilayah ini jauh tertinggal ketimbang kawasan tengah atau di pantai timur Sumatera, seperti Palembang, Pekanbaru, dan Medan. Padahal, kawasan barat juga berpotensi, mulai dari perkebunan, perikanan, wisata, dan seni budaya.

Bertumbuh

Sebuah kota memang bukan merupakan hasil cipta satu generasi. Sebuah kota tumbuh dari satu generasi ke generasi lainnya. Pada dasarnya bentuk kota yang ada sekarang merupakan proses interaksi antargenerasi. Bentuk kota yang ada sekarang merupakan lapisan-lapisan (layers) dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang telah mengalami perkembangan dan saling bertumpukan.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Kendaraan melintas di jalur lintas barat Sumatera di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat rusak parah akibat tanah longsor dan abrasi, Rabu (15/2/2012). Potensi gempa berkekuatan besar berikut tsunami mengancam ribuan penduduk yang tinggal di kawasan merah yang berada di pesisir Sumatera Barat.
Jadi, bentuk kota sesungguhnya merupakan kolase-kolase sejarah. Yang lebih penting dalam pemekaran sebuah kota adalah bagaimana menciptakan suatu perkembangan yang mampu memberikan kesan yang berkesinambungan bagi warga dan penghuninya.

Jarak 3.325 kilometer harus kami lewati. Cakrawala sudah berwarna jingga ketika kendaraan kami masuk dari kota satu ke kota lainnya. Mesin kendaraan kami pun terus menderu untuk melintasi jalan di perbukitan.

Dari sebuah dataran tinggi wujud Sumatera pun berangsur- angsur meredup bersamaan dengan tenggelamnya sang surya dan kendaraan pun kami pacu berlomba mengejar waktu. (Gatot Widakdo/Hamzirwan)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengibaran Bendera Bawah Laut Akan Digelar di Sea World Ancol

Pengibaran Bendera Bawah Laut Akan Digelar di Sea World Ancol

Travel Update
Festival Perahu dan 'Dokter Terbang' di Keakwa Papua untuk HUT ke-77 RI

Festival Perahu dan "Dokter Terbang" di Keakwa Papua untuk HUT ke-77 RI

Travel Update
Kereta Bandara Yogya Layani 24 Perjalanan Per Hari, Mulai 17 Agustus

Kereta Bandara Yogya Layani 24 Perjalanan Per Hari, Mulai 17 Agustus

Travel Update
Pantai Dermaga Borong Jadi Tempat Pengibaran 77 Bendera Merah Putih

Pantai Dermaga Borong Jadi Tempat Pengibaran 77 Bendera Merah Putih

Travel Update
Panduan Wisata Gembira Loka Zoo Yogyakarta: Harga Tiket dan Jam Buka

Panduan Wisata Gembira Loka Zoo Yogyakarta: Harga Tiket dan Jam Buka

Travel Tips
5 Baju Adat Jokowi Saat Pidato Kenegaraan Sidang Tahunan MPR RI

5 Baju Adat Jokowi Saat Pidato Kenegaraan Sidang Tahunan MPR RI

Jalan Jalan
5 Tips Wisata ke Pop Art Jakarta 2022 Senayan Park, Pakai Baju Putih

5 Tips Wisata ke Pop Art Jakarta 2022 Senayan Park, Pakai Baju Putih

Travel Tips
Festival Golo Koe Tampilkan The New Labuan Bajo kepada Dunia

Festival Golo Koe Tampilkan The New Labuan Bajo kepada Dunia

Travel Update
Festival Golo Koe Labuan Bajo NTT Akan Jadi Acara Tahunan

Festival Golo Koe Labuan Bajo NTT Akan Jadi Acara Tahunan

Travel Update
Meluruskan Kebijakan Tarif Masuk Taman Nasional Komodo

Meluruskan Kebijakan Tarif Masuk Taman Nasional Komodo

Travel Update
Jokowi Pakai Baju Adat Bangka Belitung Saat Pidato Kenegaraan

Jokowi Pakai Baju Adat Bangka Belitung Saat Pidato Kenegaraan

Travel Update
HUT Ke-77 RI, Simak 5 Promo Wisata Gratis untuk Pemilik Nama Agus

HUT Ke-77 RI, Simak 5 Promo Wisata Gratis untuk Pemilik Nama Agus

Travel Promo
Visa Turis Bisa untuk Umrah, Tak Berlaku bagi Jemaah Indonesia

Visa Turis Bisa untuk Umrah, Tak Berlaku bagi Jemaah Indonesia

Travel Update
7 Mobil Kepresidenan Parkir di Lobi Sarinah, Bisa Foto Bareng

7 Mobil Kepresidenan Parkir di Lobi Sarinah, Bisa Foto Bareng

Travel Update
Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata, Ritual Beri Makan Leluhur di Danau Kelimutu

Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata, Ritual Beri Makan Leluhur di Danau Kelimutu

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.