Kompas.com - 26/09/2013, 18:40 WIB
Perahu tambat di Green Canyon, Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat, Sabtu (4/5/2013). Obyek wisata ini menawarkan keindahan dinding bebatuan yang ditutupi lumut dan wisatawan dapat menikmatinya dengan menyusuri sungai menggunakan perahu. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Perahu tambat di Green Canyon, Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat, Sabtu (4/5/2013). Obyek wisata ini menawarkan keindahan dinding bebatuan yang ditutupi lumut dan wisatawan dapat menikmatinya dengan menyusuri sungai menggunakan perahu.
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif WWF Indonesia Efransjah mengatakan pembangunan pariwisata berkelanjutan bukan hanya menyangkut pelestarian flora dan fauna maupun pemandangan alam, tetapi kehidupan manusia yang harmonis dengan alam.

"Sustainable tourism itu menyangkut bukan hanya flora, fauna dan pemandangan tapi manusia itu harus harmonis dengan lingkungan sekitarnya. Konsumsi lingkungan seperti air itu harus sesuai kadarnya, jangan diambil berlebihan," ujar Efransjah di Gedung Sapta Pesona, Kamis (26/9/2013).

Menurut Efransjah, kegiatan wisata yang dilakukan secara berlebihan juga bisa membahayakan. Misalnya saja menyelam. Jika suatu tempat ramai-ramai diselami oleh banyak orang, bisa mengganggu kehidupan yang ada di dalam laut.

"Diving itu sebenarnya nggak masalah kalau dia tidak mengeksploitasi ketika diving. Kemudian, yang menjadi masalah adalah jika orang ramai-ramai diving di tempat itu, makin banyak yang nyelam. Koral di laut itu kan hidup, dia bisa stres kalau banyak manusia yang datang," papar Efransjah.

Maka dari itu, lanjutnya, kegiatan menyelam di suatu wilayah perairan perlu diatur atau dibatasi.

Dok. Kompas TV Panorama bawah laut Raja Ampat yang terkenal indah.
Sedangkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pengestu mengatakan, dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah membuat masyarakat memiliki mata pencaharian melalui pariwisata tanpa perlu merusak alam.

"Bagaimana masyarakat mendapatkan mata pencaharian dari pariwisata dengan tidak merusak alam dengan illegal logging, pembakaran, dan sebagainya," kata Mari.

Karena itu, untuk mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan tersebut dilakukan penandatangan nota kesepahaman antara Menparekraf, Direktur Eksekutif WWF Indonesia, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Suryo Bambang Sulisto, dan Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat Witoelar di Gedung Sapta Pesona.

Nota kesepahaman dalam kurun waktu dua tahun (2013-2015) tersebut bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan pembangunan pariwisata berkelanjutan rendah karbon yang berwawasan lingkungan.

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Wisatawan menikmati matahari terbit dari kawah I Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, Jumat (7/10/2011). Gunung ini memiliki tiga buah kawah yang masih aktif yang terletak di kaldera Batur raksasa. Banyak wisatawan ke tempat ini hanya berolahraga dan melihat pemandangan. Padahal kawasan gunung juga menjadi laboratorium geologi yang mahakaya.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.