Kompas.com - 01/10/2013, 08:41 WIB
Seorang anak mencoba membuka jendela kereta ekonomi Kertajaya, tujuan Stasiun Pasar Turi, Surabaya, saat mudik bersama keluarga dari Stasiun Senen, Jakarta, Sabtu (11/8/2012).  TRIBUNNEWS/DANY PERMANASeorang anak mencoba membuka jendela kereta ekonomi Kertajaya, tujuan Stasiun Pasar Turi, Surabaya, saat mudik bersama keluarga dari Stasiun Senen, Jakarta, Sabtu (11/8/2012).
Penulis Hamzirwan
|
EditorI Made Asdhiana
SURABAYA, KOMPAS - Setelah berkendara 3.753 kilometer dari tugu Nol Kilometer di Kota Sabang, Aceh, selama 11 hari, kami pun tiba di Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (30/9/2013) sore. Di sepanjang Pulau Jawa, kereta api pernah menjadi transportasi andalan setempat.

Tim Ekspedisi Sabang-Merauke: Kota dan Jejak Peradaban harian Kompas masih menemukan sisa kejayaan angkutan massal penghela ekonomi Pulau Jawa ini. Tak terelakkan, infrastruktur dan transportasi bagai dua sisi mata uang yang dibutuhkan untuk menggerakkan perekonomian satu wilayah.

Dalam perjalanan dari Solo, Jawa Tengah, hingga ke Surabaya, dengan mudah kita bisa menemukan bukti sejarah kereta api. Kami melalui beberapa daerah yang tersambung jaringan transportasi kereta api seperti Solo, Sragen, Madiun, Nganjuk, Kertosono, Jombang, Mojokerto, dan Surabaya.

Tonggak sejarah kereta api di Indonesia, menurut James Luhulima dalam buku Sejarah Mobil (2012) , bermula pada 17 Juni 1864 di Desa Kemidjen, Semarang, Jawa Tengah. Saat itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda LAJ Baron Sloet van den Beele menandai dimulainya pembangunan jalur kereta api dari Kemidjen ke Desa Tanggung, Semarang sepanjang 26 kilometer. Pembangunan ini membuat jaringan kereta api di Jawa bertambah 110 km yang menghubungkan Semarang dan Solo.

Panjang rel kereta api di Jawa membentang sepanjang 3.338 km pada tahun 1900. Saat itu, Belanda membangun rel kereta api untuk mengangkut berbagai hasil perkebunan, dan kepentingan pabrik gula. Sayangnya, jalur kereta api itu tidak berkembang. Dari 1.130 km jaringan rel di Jawa Tengah, kini tersisa 484 km yang masih digunakan.

Dalam upaya memberdayakan jalur rel di tengah kota, Kota Solo mengoperasikan kereta uap untuk wisata. Dari Solo, kami menuju Madiun melalui dataran tinggi Tawangmangu di Magetan. Kami sempat beristirahat sejenak menikmati panorama indah kaki Gunung Lawu dan Telaga Sarangan.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Petugas menyiapkan lokomotif uap B2503 yang hendak dijalankan untuk menarik gerbong kereta wisata di Stasiun Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/6/2013).
Di Madiun, sejarah perkeretaapian modern Indonesia melalui PT Industri Kereta Api Indonesia (PT INKA ) berkembang sejak tahun 1981. INKA berawal dari merupakan bengkel perawatan lokomotif uap atau balai yasa yang berdiri tahun 1884.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Keberadaan INKA dan beberapa industri pendukungnya turut memacu perekonomian Kota Madiun dan sekitarnya. Seperti juga lokomotif-lokomotif penghela gerbong kereta turut menggerakkan sektor riil di Pulau Jawa. (uti/aha/otw/ham)  



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X