Kompas.com - 01/10/2013, 09:17 WIB
EditorI Made Asdhiana

Kini, begitu melintas di Labang, pengendara bakal disambut ratusan poster iklan bersantap bebek yang dipasang di tepi jalan. Mulai dari Bebek Bangal Tera’ Bulan, Pemadam Kelaparan Bebek Bakar Madu, Madurame, Maduratna, dan banyak lagi. Tiap tempat bersantap itu menawarkan kekhasan masing-masing.

Para pegawai Rumah Makan Jembatan Suramadu, misalnya, membangun suasana ”ini Bangkalan” dengan pakaian tradisionalnya. Selain menyediakan ”hanggar makan” seperti Warung Nasi Bebek Sinjay, rumah makan ini menyediakan pondok-pondok untuk suasana bersantap yang lebih pribadi. Sajian bebek gorengnya pun berbeda, lebih basah dibandingkan dengan sajian bebek Sinjay yang renyah.

Lain lagi dengan Bebek Songkem Pak Salim, yang menawarkan bebek kukus. Dibungkus daun pisang, bebek racikan Pak Salim empuk dan gurih oleh aneka bumbu. ”Bebeknya sepertinya biasa, namun bumbu pedasnya meresap,” ujar Saryono (47).

Para pemburu bebek di Bangkalan ternyata bukan hanya pelancong dari luar Jawa Timur. Menjamurnya bebek di Bangkalan pun disambut gempita oleh para penggila bebek dari Surabaya. Yusak (33) salah satunya.

”Saya penyuka bebek. Di Surabaya, banyak warung bebek. Saya pelanggan bebek Harisa, bebek di depan Tugu Pahlawan, bebek HT, saya berkeliling. Sekarang, sebulan sekali pasti saya mencari bebek di Bangkalan. Di Bangkalan, saya sudah punya warung favorit, tapi juga senang mencoba-coba racikan sejumlah warung lainnya,” kata Yusak.

Lain Labang, lain Kamal

Sementara Labang riuh oleh para pemburu bebek dari Surabaya, berdirinya Jembatan Suramadu juga menyisakan kisah surutnya kehidupan pelabuhan penyeberangan feri di Kamal, Bangkalan. Sebelum 2009, Kamal selalu berdenyut oleh aktivitas pelabuhan yang sibuk dengan feri penyeberangan dari dan menuju Surabaya. Kini, kota pelabuhan itu nyaris sunyi.

Akhir Agustus lalu, Fathur Rosi (21) santai duduk di jok sepeda motornya, menanti feri merapat. Tak ada antrean calon penumpang, tak ada kemacetan dan deru kendaraan yang tak sabar masuk kapal. Bahkan terminal angkutan umum di samping pelabuhan pun melompong.

Kamal kini hanya dihidupi sedikit orang, seperti Fathur, yang masih menjadikan feri pilihan utama untuk melintasi Selat Madura. Fathur bahkan mau merogoh kantong lebih dalam karena biaya menyeberangi Selat Madura dengan feri lebih mahal ketimbang tarif memasuki Jembatan Suramadu.

”Kalau naik feri, di atas kapal kita beristirahat. Pergi ke Jembatan Suramadu terlalu jauh, selisih jaraknya 25 kilometer,” kata Fathur yang tinggal di Bangkalan, sekitar 10 kilometer dari Pelabuhan Kamal. Kedekatan jarak membuat orang Bangkalan setiap saat menumpang feri.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.