Kompas.com - 01/10/2013, 18:24 WIB
Para perajin menyelesaikan pembuatan batik cap di salah satu workshop toko batik di kawasan Kampung Batik Laweyan, Kota Solo, Rabu (9/4/2013). Sebagai sentra batik tertua di Solo dan kawasan heritage, Laweyan menjadi salah satu tujuan wisatawan bila mengunjungi kota ini.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOPara perajin menyelesaikan pembuatan batik cap di salah satu workshop toko batik di kawasan Kampung Batik Laweyan, Kota Solo, Rabu (9/4/2013). Sebagai sentra batik tertua di Solo dan kawasan heritage, Laweyan menjadi salah satu tujuan wisatawan bila mengunjungi kota ini.
EditorI Made Asdhiana
SEJAK ratusan tahun lalu, hingga kini, produksi kain batik laweyan terbukti telah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di salah satu Kecamatan Laweyan di Solo, Jawa Tengah. Meskipun pernah terpuruk, pengusahanya yang ikut andil mengantarkan kemerdekaan Indonesia, pada akhirnya bangkit.

Reza Murad Ali berulang kali meraba beberapa kain batik yang dipajangnya di ruang pamer Batik Puspa Hadi di Jalan Sidoluhur, Nomor 75, Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Senyuman Manajer Marketing Mydin, salah satu hypermarket raksasa di Malaysia, itu, mengembang saat melihat dan meraba daster motif bunga merah kuning dengan warna dasar kain biru langit. ”Saya yakin, batik ini akan mendapatkan hati pelanggannya,” katanya.

Reza mengakui, batik laweyan tak pernah mengecewakan. Sejak 8-10 tahun terakhir, ia selalu datang ke Laweyan saat membutuhkan baju batik. Lewat jaringan Mydin, ribuan helai baju batik laweyan ludes terjual setiap tahunnya. ”Baju atau daster batik laweyan digemari karena kainnya halus dan motifnya beragam,” tambahnya.

Pemilik Batik Puspa Hadi, Achmad Sulaeman, mengatakan, konsumen Malaysia adalah pasar potensial batik laweyan. Keberhasilan menembus Malaysia menjadi salah satu penopang bangkitnya kembali usaha batik laweyan. Negara Bagian Langkawi dipilih sebagai pasar utama karena membebaskan biaya cukai. Perajin batik di Trengganu dan Kelantan juga diajak bekerja sama untuk mengembangkannya.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Pekerja menyelesaikan pembuatan kain batik yang khusus di ekspor ke Malaysia di Kampung Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (4/7/2013).
Menurut Achmad, tidak kurang 1.200 potong produk baju atau daster batik laweyan dikirim setiap bulannya. Mayoritas dibuat dengan teknik smok, menggunakan canting dan kuas. ”Tak hanya Malaysia, konsumen Brunei dan Filipina juga menikmati batik laweyan. Ada juga juragan batik yang membuka pasar ke Amerika Serikat. Semoga ini menjadi semangat untuk mengembalikan kejayaan batik laweyan tempo dulu,” ujar keturunan generasi kelima keluarga batik laweyan.

Asal-usul

Sejarah batik laweyan memang tak bisa dipisahkan dari Desa Lawe yang dulu dikenal sebagai pusat perdagangan bahan baku kapas dan kain, sekitar abad ke-16. Nama ”lawean” diambil dari kata ’lawe’ yang artinya kain tenun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berada di tepi Sungai Kabanaran, pedagang asal Lawean membawa barang dagangannya ke Bandar Nusupan yang berada di tepi Sungai Bengawan Solo. Kiai Ageng Henis kemudian menawarkan alternatif usaha baru bagi masyarakat Laweyan tahun 1546. Sebagai keturunan Raja Brawijaya V, ia terbiasa dengan pembuatan batik di lingkungan istana. Kakek buyut Sutawaijaya, raja pertama Mataram Islam, itu, lantas mengajari masyarakat cara membatik menggunakan canting.

Perlahan, Laweyan berubah rupa. Keuntungan dagang yang lebih baik membuat banyak pembuat mori banting setir menjadi pengusaha batik. Peninggalan fisik berupa rumah dengan tembok tinggi dan besar serta berarsitektur bergaya kolonial, menjadi saksi kejayaan Laweyan. ”Penghasilan saudagar kaya saat itu lebih besar ketimbang gaji bupati. Saudagar batik bisa mendapat 800 gulden per hari. Sementara itu bupati hanya 1.000 gulden per bulan,” kata Achmad.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Nina Akbar Tandjung mengubah rumah saudagar batik Laweyan menjadi Roemahkoe Heritage Hotel. Ia mempertahankan otentisitas dan atmosfer rumah Jawa.
Bukti kejayaan itu juga terpatri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kiai Haji Samanhudi, yang dulu dikenal sebagai saudagar paling dihormati di Laweyan, jadi motornya. Pendiri Serikat Dagang Islam ini dikenal sebagai penyandang dana bagi usaha kemerdekaan.

Pemerintah Belanda yang tahu aktivitas itu, tidak tinggal diam. Raungan pesawat tempur Belanda sempat membombardir kawasan Laweyan. Tujuannya, memutus rantai ekonomi saudagar batik. Meski sejumlah rumah hancur, semangat perjuangan tidak surut.

Tak diketahui pasti berapa banyak gulden dan harta benda yang diberikan Samanhudi dan rekan-rekannya untuk membantu perjuangan Indonesia untuk diakui sebagai negara merdeka. Namun, dari cerita yang beredar di kalangan pembatik, hingga kematiannya, ia tidak meninggalkan banyak harta. (Cornelius Helmy)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

8 Tips Naik Pesawat Bersama Anak agar Tetap Aman dan Nyaman 

8 Tips Naik Pesawat Bersama Anak agar Tetap Aman dan Nyaman 

Travel Tips
Pameran Harry Potter Bakal Diadakan di Sejumlah Negara Tahun 2022

Pameran Harry Potter Bakal Diadakan di Sejumlah Negara Tahun 2022

Travel Update
Daftar 5 Desa Wisata Maju Terbaik versi ADWI 2021, Ada Desa Wisata Ngilngof

Daftar 5 Desa Wisata Maju Terbaik versi ADWI 2021, Ada Desa Wisata Ngilngof

Jalan Jalan
Pesona 5 Desa Wisata Rintisan Terbaik Versi ADWI 2021

Pesona 5 Desa Wisata Rintisan Terbaik Versi ADWI 2021

Jalan Jalan
Jepang Tambah 4 Negara yang Masuk Aturan Ketat Karantina

Jepang Tambah 4 Negara yang Masuk Aturan Ketat Karantina

Travel Update
Waktu Terbaik Berburu Tiket Pesawat dan Hotel Murah, Simak agar Hemat

Waktu Terbaik Berburu Tiket Pesawat dan Hotel Murah, Simak agar Hemat

Travel Tips
Cara dan Tips Mengisi eHAC Lewat PeduliLindungi Sebagai Syarat Wajib Perjalanan

Cara dan Tips Mengisi eHAC Lewat PeduliLindungi Sebagai Syarat Wajib Perjalanan

Travel Tips
5 Cara Mencegah Penyebaran Varian Baru Covid-19 Omicron Saat Traveling

5 Cara Mencegah Penyebaran Varian Baru Covid-19 Omicron Saat Traveling

Travel Tips
 Jerman Hapus Thailand dari Daftar Negara Berisiko Tinggi Covid-19

Jerman Hapus Thailand dari Daftar Negara Berisiko Tinggi Covid-19

Travel Update
Stasiun LRT Ampera di Palembang Terapkan Pembayaran Non-tunai

Stasiun LRT Ampera di Palembang Terapkan Pembayaran Non-tunai

Travel Update
9 Tempat Paling Kotor dan Penuh Kuman di Hotel yang Sering Digunakan Tamu 

9 Tempat Paling Kotor dan Penuh Kuman di Hotel yang Sering Digunakan Tamu 

Travel Tips
Somerset Sudirman Resmi Dibuka, Harga Kamar Mulai Rp 700.000

Somerset Sudirman Resmi Dibuka, Harga Kamar Mulai Rp 700.000

Travel Update
Kesejukan Telaga Kemuning di Tengah Hutan Bunder Gunungkidul

Kesejukan Telaga Kemuning di Tengah Hutan Bunder Gunungkidul

Jalan Jalan
Wings Air Buka Rute Manado-Balikpapan PP, Harganya Rp 1,4 Jutaan

Wings Air Buka Rute Manado-Balikpapan PP, Harganya Rp 1,4 Jutaan

Travel Promo
5 Tips Memotret Pemandangan dari Kabin Pesawat agar Hasilnya Optimal

5 Tips Memotret Pemandangan dari Kabin Pesawat agar Hasilnya Optimal

Travel Tips
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.