Kompas.com - 03/10/2013, 10:53 WIB
Warga keturunan Tionghoa mengikuti tradisi peringatan kedatangan Kongco Sam Poo Tay Djien atau dikenal sebagai Cheng Ho di kawasan Pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/8/2013). Diperkirakan pada abad XV, Laksamana Cheng Ho dengan armada baharinya mengarungi samudra untuk mengunjungi Asia dan Afrika. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAWarga keturunan Tionghoa mengikuti tradisi peringatan kedatangan Kongco Sam Poo Tay Djien atau dikenal sebagai Cheng Ho di kawasan Pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/8/2013). Diperkirakan pada abad XV, Laksamana Cheng Ho dengan armada baharinya mengarungi samudra untuk mengunjungi Asia dan Afrika.
EditorI Made Asdhiana

Jejak Tionghoa

Pada 9 Juni 1702, Semarang—nama ini berasal dari kata asam-arang karena banyaknya pohon asam yang berdaun jarang (Jawa: arang)—menjadi ibu kota daerah Mataram.

Orang-orang Tionghoa saat itu banyak yang menjadi bandar dan memiliki tempat penggilingan gula. Gula ini banyak disukai dan kemudian dikirim ke banyak penjuru negeri.

Kelenteng Sam Poo Kong di Gedong Batu menjadi bukti keberadaan orang-orang Tionghoa di sana. Dari Gedong Batu, orang-orang Tionghoa berpindah ke wilayah Kranggan yang hingga kini menjadi kawasan pecinan sekitar tahun 1628. Di kawasan itu masih tampak deretan toko emas dan toko kain.

Arsitek Andy Siswanto mengatakan, dulu ada kota tua, pecinan, dan Kampong Melayu, yang kini sebagian sudah berubah akibat terlambat ditangani. Manajemen tata kelola yang tidak efektif serta anggapan bahwa peninggalan Belanda tidak berharga membuat kota tua Semarang tak terawat.

”Seperti kawasan pecinan yang terlambat ditangani sehingga tanahnya turun dan sedimentasinya tinggi. Pelebaran Kali Semarang tahun 1975-1980 banyak memotong rumah-rumah di pecinan. Sama halnya pelebaran jalan yang merusak morfologi kawasan tua,” kata Andy.

Semarang memang menghadapi problem utama berupa limpasan air laut atau rob yang kerap memasuki areal di utara Semarang. Belum lagi jika hujan, banjir menjadi semakin parah. Ketinggian rumah berlomba dengan ketinggian jalan yang beberapa tahun sekali ditinggikan karena permukaan tanah terus turun, sementara muka air laut terus meninggi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Semakin bergeser

Pusat kota kini bergeser ke lokasi yang bebas rob. Perkembangan Semarang kini diarahkan ke kawasan perbukitan di selatan. Tanpa perencanaan yang matang, pembangunan yang tak terkendali bakal berujung bencana bagi warga karena daerah selatan adalah daerah tangkapan air.

Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman Kota Semarang Eko Cahyono mengatakan, pekerjaan utama pemerintah sekarang adalah mengatasi rob dan banjir di kawasan itu. Saluran air yang rusak, sistem pemompaan, dan kolam retensi juga mulai dibenahi.

Pemkot juga mengupayakan komunikasi dengan Belanda untuk mengembalikan aura kota lama. Eko mengakui, kesulitan terbesar adalah gedung yang banyak dimiliki perorangan. Pemkot pun tidak mungkin membeli gedung atau bangunan tua karena membutuhkan biaya yang sangat besar.

DOK INDONESIA.TRAVEL Klenteng Gedong Batu atau Sam Po Kong di Semarang, Jateng, adalah sebuah petilasan dari tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Cheng Ho.
Eko mengakui, potensi wisata kota lama sebenarnya sangat besar, terutama karena nilai sejarah yang dikandungnya. Di masa mendatang, kota lama akan terus dikembangkan, antara lain dengan memperbaiki segala sarana dan prasarana di dalamnya.

Gedung-gedung tua sebagian sudah mulai dimanfaatkan sebagai rumah makan, kafe, atau galeri seni, tetapi sebagian lain masih terbengkalai, dibiarkan tak terawat dan kumuh. Perjalanan itu masih jauh. (Amanda Putri dan Hamzirwan)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

10 Fakta Menarik Gunung Semeru, Rumah Tertinggi Sepasang Arca Kuno

10 Fakta Menarik Gunung Semeru, Rumah Tertinggi Sepasang Arca Kuno

Jalan Jalan
Erupsi Gunung Semeru Tak Berdampak pada Wisata Bromo

Erupsi Gunung Semeru Tak Berdampak pada Wisata Bromo

Travel Update
Pendakian Gunung Semeru Bukan Tutup karena Erupsi, Tapi karena PPKM

Pendakian Gunung Semeru Bukan Tutup karena Erupsi, Tapi karena PPKM

Travel Update
Pihak TNBTS Tegaskan Tak Ada Pendaki Saat Gunung Semeru Erupsi

Pihak TNBTS Tegaskan Tak Ada Pendaki Saat Gunung Semeru Erupsi

Travel Update
Erupsi Gunung Semeru Tak Pengaruhi Bandara Malang

Erupsi Gunung Semeru Tak Pengaruhi Bandara Malang

Travel Update
Bandara Banyuwangi Masih Layani Penerbangan, Meski Gunung Semeru Meletus

Bandara Banyuwangi Masih Layani Penerbangan, Meski Gunung Semeru Meletus

Travel Update
2,92 Juta Orang Lakukan Penerbangan Domestik pada OKtober 2021

2,92 Juta Orang Lakukan Penerbangan Domestik pada OKtober 2021

Travel Update
Erupsi Gunung Semeru, Wisata Air Terjun Tumpak Sewu Tetap Aman

Erupsi Gunung Semeru, Wisata Air Terjun Tumpak Sewu Tetap Aman

Travel Update
Bandara Juanda di Sidoarjo Tak Terdampak Letusan Gunung Semeru

Bandara Juanda di Sidoarjo Tak Terdampak Letusan Gunung Semeru

Travel Update
Jembatan Gladak Perak Lumajang Hancur Kena Erupsi Semeru, Lalu-lintas Dialihkan via Probolinggo

Jembatan Gladak Perak Lumajang Hancur Kena Erupsi Semeru, Lalu-lintas Dialihkan via Probolinggo

Travel Update
6 Fakta Jembatan Gladak Perak Lumajang yang Hancur Diterjang Erupsi Gunung Semeru

6 Fakta Jembatan Gladak Perak Lumajang yang Hancur Diterjang Erupsi Gunung Semeru

Jalan Jalan
4 Benda di Kamar Hotel yang Boleh Dibawa Pulang, Ada Sabun dan Sampo

4 Benda di Kamar Hotel yang Boleh Dibawa Pulang, Ada Sabun dan Sampo

Travel Tips
Kongres JKPI ke-V di Bogor Tetapkan 8 Ibu Kota Kebudayaan di Indonesia

Kongres JKPI ke-V di Bogor Tetapkan 8 Ibu Kota Kebudayaan di Indonesia

Travel Update
5 Atraksi Menarik Desa Nglanggeran, Desa Wisata Terbaik Dunia 2021 UNWTO

5 Atraksi Menarik Desa Nglanggeran, Desa Wisata Terbaik Dunia 2021 UNWTO

Jalan Jalan
Lawson Hadir Secara Virtual di Metaverse Parareal Akihabara Jepang

Lawson Hadir Secara Virtual di Metaverse Parareal Akihabara Jepang

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.