Kompas.com - 05/10/2013, 09:04 WIB
Sistem pengairan subak dan terasering serta pupuk organik dari kotoran hewan diterapkan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (2/2/2011).  KOMPAS/AGUS SUSANTOSistem pengairan subak dan terasering serta pupuk organik dari kotoran hewan diterapkan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (2/2/2011).
EditorI Made Asdhiana
Di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, subak bukan sekadar sistem irigasi yang menghidupkan sawah padi. Akan tetapi, subak yang telah dinobatkan sebagai warisan budaya dunia itu juga menjadi daya tarik wisata. Jatiluwih kini menjadi salah satu tujuan wisata yang dicari turis asing ataupun lokal setiap kali menjejakkan kaki di Bali.

Berkeliling Jatiluwih, geliat pariwisata mulai terasa di desa itu. Beberapa kafe dan penginapan siap menyambut turis, sebagian lagi masih dalam taraf pembangunan.

I Nyoman Sutama, warga Jatiluwih sekaligus petani, memanfaatkan lonjakan kunjungan wisata ini dengan membuat warung makan sederhana. Yang berbeda adalah menu yang ditawarkan Sutama. Makanan dan minuman di sini rata-rata menggunakan beras merah hasil panen dari sawahnya sendiri.

”Ini beras merah organik. Bisa jadi nasi goreng yang enak. Ada juga yang disangrai dan bisa jadi teh beras merah. Jelas baik bagi kesehatan,” katanya.

Guru Besar Universitas Udayana Prof Wayan Windia menyambut baik majunya industri pariwisata di Jatiluwih. Apalagi, warga setempat berperan aktif dalam pengelolaan wisata di desa tersebut.

”Kelompok tani beras merah organik Jatiluwih bekerja sama dengan Fakultas Teknik Warmadewa mencoba mengembangkan ekowisata seputar subak. Prakarsa bertahan yang tumbuh dari petani macam inilah yang melegakan saya,” ujar Wayan.

Namun, ada yang perlu menjadi perhatian. Menurut Wayan, masyarakat Bali kini dihadapkan pada kehidupan modern. Teknik pemasaran hasil produksi padi telah masuk ke desa, sumber air baru seperti pompa dan bendungan juga sudah masuk desa. Demikian juga dengan pariwisata yang sudah hadir di desa, di kota, di pantai, di gunung, dan di mana-mana. Lahan pertanian kian tergusur.

Bagaimana anggota subak? Mereka perlu ditingkatkan kecerdasannya, kegiatannya, dan partisipasinya.

”Harapan kita, mereka dapat ikut menikmati hasil pembangunan ini. Mereka adalah manusia Bali dan mereka berhak untuk itu,” kata Wayan.

I Nengah Warta, mantan Kepala Desa Jatiluwih, mengatakan, meskipun telah menjadi warisan dunia dan harus dijaga kelestariannya, subak tetap terancam. Di Jatiluwih, menurut Warta, masyarakat masih amat memegang adat istiadat dan keyakinan mereka. Selain itu, faktor lingkungan, termasuk sumber air masih, cukup terlindungi.

”Akan tetapi, subak-subak di kawasan lain di Bali, bahkan sudah terjadi di dekat-dekat sini, sumber airnya terancam. Ini karena ada vila, hotel, obyek wisata atau apa pun yang menyedot air tanah dan mengancam sumber air subak,” katanya.

Luasan subak cenderung berkurang karena lahan pertanian beralih fungsi atas nama pariwisata atau keterpaksaan karena petani tidak bisa bertahan atas aturan pajak sawah tepi jalan Rp 7 juta per tahun. Sementara penghasilan per panen hanya Rp 700.000. Perubahan kebijakan pajak yang memihak petani mesti diupayakan.

Harga beras hasil pertanian sistem subak juga tak terjamin. ”Saat ini, harga beras merah cendana dari petani sekitar Rp 15.000 per kilogram. Di Denpasar, bisa dijual dua kali lipatnya. Terkadang dengan alasan macam-macam, harga beras dari petani semakin murah saja. Ini yang membuat petani sering tak merasa untung,” kata Sutama.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Sawah berundak-undak di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (10/4/2013).
Kepentingan politik turut memengaruhi perlindungan terhadap subak. Terkadang, jika desa yang melaksanakan sistem persawahan dengan irigasi subak tetapi berseberangan pandangan politiknya dengan pemimpin daerah setempat, bisa-bisa banyak kebijakan yang membuat subak terancam. Di sisi lain, otonomi daerah yang berujung pada pemekaran wilayah dari tingkat desa sampai kota/kabupaten ternyata justru sering memecah belah wilayah subak.

”Bayangkan saja jika sumber air berada di kecamatan lain, sementara sawah terbesar bukan di kecamatan atau desa tetangganya. Dulu ketika belum ada pemekaran, bisa diatur bersama. Sekarang, ada saja kendalanya,” tambah Warta.

Padahal, beras adalah sumber makanan pokok yang selalu dibutuhkan. Sementara pertanian masih menjadi mata pencaharian yang menjadi tempat bergantung sebagian besar masyarakat Bali.

Apakah masyarakat pendukung subak, seperti di Jatiluwih, harus terus dibiarkan sendiri berjuang? Mungkin hanya pemerintah setempat dan masyarakat Bali yang bisa menjawabnya. (NEL/OTW/HAM)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

9 Tempat Ngopi di Yogyakarta dengan Pemandangan yang Instagramable

9 Tempat Ngopi di Yogyakarta dengan Pemandangan yang Instagramable

Jalan Jalan
Omicron Meluas, Jepang Pertimbangkan Kuasi-Darurat di 13 Prefektur

Omicron Meluas, Jepang Pertimbangkan Kuasi-Darurat di 13 Prefektur

Travel Update
6 Gunung Dekat Jakarta, Cocok untuk Para Pencinta Kesegaran

6 Gunung Dekat Jakarta, Cocok untuk Para Pencinta Kesegaran

Jalan Jalan
10 Air Terjun di Yogyakarta yang Eksotis dan Wajib Dikunjungi

10 Air Terjun di Yogyakarta yang Eksotis dan Wajib Dikunjungi

Jalan Jalan
Rute Tercepat ke Jembatan Girpasang Klaten, Naik Kendaraan Pribadi

Rute Tercepat ke Jembatan Girpasang Klaten, Naik Kendaraan Pribadi

Jalan Jalan
Tips Wisata Jembatan Gantung Girpasang, Waktu Terbaik buat Datang

Tips Wisata Jembatan Gantung Girpasang, Waktu Terbaik buat Datang

Travel Tips
Harga Paket Piknik di Bromo dan Cara Pesannya

Harga Paket Piknik di Bromo dan Cara Pesannya

Jalan Jalan
Piknik Lesehan di Bromo, Sarapan Outdoor dengan Pemandangan Indah Gunung Bromo

Piknik Lesehan di Bromo, Sarapan Outdoor dengan Pemandangan Indah Gunung Bromo

Jalan Jalan
AirAsia Buka Lagi Rute Surabaya-Lombok, Permudah Mobilitas Masyarakat

AirAsia Buka Lagi Rute Surabaya-Lombok, Permudah Mobilitas Masyarakat

Travel Promo
Bandara Halim Tutup Sementara, Batik Air dan Wings Air Sesuaikan Operasional

Bandara Halim Tutup Sementara, Batik Air dan Wings Air Sesuaikan Operasional

Travel Update
20 Maskapai Terbaik Dunia Versi World Airline Awards, Ada Garuda Indonesia

20 Maskapai Terbaik Dunia Versi World Airline Awards, Ada Garuda Indonesia

Jalan Jalan
Akuarium di California Gelar Pameran Hewan Laut Dalam yang Langka

Akuarium di California Gelar Pameran Hewan Laut Dalam yang Langka

Travel Update
Wana Wisata Siti Sundari Lumajang, Tempat Makan Romantis di Tengah Hutan Damar

Wana Wisata Siti Sundari Lumajang, Tempat Makan Romantis di Tengah Hutan Damar

Jalan Jalan
Uji Coba Travel Bubble Indonesia-Singapura Dimulai 24 Januari 2022

Uji Coba Travel Bubble Indonesia-Singapura Dimulai 24 Januari 2022

Travel Update
7 Restoran di Bogor, Pas untuk Dinner Romantis Bersama Pasangan

7 Restoran di Bogor, Pas untuk Dinner Romantis Bersama Pasangan

Travel Promo
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.