Kompas.com - 06/10/2013, 14:17 WIB
EditorI Made Asdhiana
Oleh: Runik Sri Astuti

Desa Terunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, tak hanya memberikan pengalaman luar biasa tentang tradisi pemakaman yang unik. Desa purba di kaldera Gunung Batur ini ternyata mengesankan pula, karena memiliki lanskap menawan, sarat jejak arkeologi, dan jalur darat yang menantang keberanian, bahkan keterampilan berkendara.

Waktu menunjukkan lepas tengah hari ketika kami sampai di tepi Danau Batur di Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani. Usai bersantap di rumah makan terapung yang menawarkan menu olahan aneka ikan air tawar, kami pun bersiap melanjutkan perjalanan ke Desa Terunyan di seberang Danau Batur.

Tidak seperti umumnya wisatawan yang memilih menyeberang danau dengan menyewa perahu, kami mengambil jalur darat dengan menyusuri lembah di sisi timur. Jalan berlapis aspal tipis, dengan lebar sekitar lima meter. Medannya terjal, melewati tanjakan atau turunan tajam yang menukik, diapit kokohnya pegunungan dan cantiknya Danau Batur dengan airnya yang begitu tenang. Sekitar satu jam, sampailah kami di sebuah permukiman padat, tetapi tenang, persis di tepi Danau Batur. Itulah Desa Terunyan yang memikat turis asing maupun domestik sejak tahun 1970-an.

Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian penduduk di desa seluas 19,3 kilometer (km) persegi ini. Lazimnya petani di daerah berhawa dingin, rata-rata sekitar 17 derajat celsius, mereka menanam sayuran, seperti kubis, kentang, wortel, dan buah seperti jeruk. ”Masih sedikit warga yang bekerja di sektor pariwisata, seperti menyewakan perahu atau menjadi pemandu wisata,” ungkap Sekretaris Desa Terunyan, I Ketut Jasa.

Berbeda dengan umat Hindu umumnya, mereka tidak menyembah Dewa Wisnu, Siwa, dan Bhrahma. Ada satu pura yang sangat dihormati di desa berpenduduk 3.000 jiwa ini, yakni Pura Pancering Jagat. Di dalamnya terdapat patung Ratu Sakti Pancering Jagat.

Sejumlah arkeolog memperkirakan, Terunyan sudah ada sejak abad X Masehi. Dari Prasasti Trunyan AI, misalnya, diketahui tulisan tahun 833 Saka yang menerangkan izin pembangunan satu kuil untuk Batara Da Tonta, yang tidak lain adalah Ratu Sakti Pancering Jagat. Di Pura Terunyan, Ratu Sakti Pancering Jagat berupa batu raksasa setinggi sekitar empat meter. Batu itu diperkirakan hasil seni patung gaya megalitik.

Tiga makam

Orang Terunyan biasa disebut sebagai orang Bali Aga, Bali Mula, atau Bali Turunan. Bali Aga berarti orang Bali Pegunungan, Bali Mula berarti Bali Asli. Nama Bali Aga diperoleh dari penduduk Bali lainnya, yang menyebut diri Bali Hindu, yang adalah penduduk mayoritas di Bali. Bali Hindu adalah entitas yang terkena pengaruh kebudayaan Jawa Majapahit.

EKA JUNI ARTAWAN Desa Trunyan dari tengah Danau Batur, Kintamani, Bangli.
Daya tarik lainnya, adalah budaya penduduk Terunyan yang tak membakar mayat dalam upacara ngaben, seperti lazimnya masyarakat Bali. Sebaliknya, mereka meletakkan jenazah di atas tanah dan hanya dipagari anyaman bambu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.