Kompas.com - 08/10/2013, 16:35 WIB
EditorI Made Asdhiana
KEHADIRAN benda-benda dari masa lalu di sebuah museum kerap dipandang sebelah mata. Tidak di mata pencuri! Itulah nasib harta bangsa di ”gudang-gudang” berdebu. Meski pencuri beraksi, toh, tak tampak kegalauan yang pasti....

Sabtu siang akhir pekan lalu, beberapa keluarga dan turis asing menjelajahi bangunan baru Museum Nasional. Di lantai dasar, mereka terpesona mengamati tengkorak hitam manusia purba jutaan tahun lalu dari Sangiran, Sragen, Jawa Tengah.

Di antara koleksi tengkorak dan tulang dalam fitrin kaca serta gambar ilustrasi manusia purba, muncul wajah kekanakan Gerry (10), siswa kelas V SD di Tangerang. ”Gerry, manusia purba mana yang mirip kita? Mirip kamu,” ujar Lista (34), guru sekolah Gerry sambil bergurau. ”Itu!” ujar Gerry sambil terkikik menunjuk papan bergambar Homo erectus tipik, si manusia berjalan tegak dan berburu hewan.

Bagi Lista, bercerita tentang Indonesia paling mudah di museum terbesar di Indonesia itu. Sebanyak 141.889 item koleksi yang telah melintasi waktu tersimpan di sana. Hari itu target utama mereka ialah mengunjungi ruang arca serta ruang emas. Murid kelas V sudah belajar masa Hindu dan Buddha. Dan, berita hilangnya empat benda emas warisan Kerajaan Mataram Kuno abad ke-10 hingga ke-11 Masehi, 11 September 2013, memancing rasa penasaran.

Hanya saja, ruang emas dan arca di bangunan lama masih tertutup bagi pengunjung setelah pencurian itu. Polisi masih menyelidiki kasus itu. Ruang khazanah emas di bangunan baru juga ditutup partisi.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Kunjungan wisatawan mancanegara di Museum Nasional Jakarta, Jumat (4/10/2013). Beberapa waktu lalu, museum tersebut telah kehilangan empat artefak berlapis emas yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada abad 10 Masehi.
Penutupan ruang-ruang itulah jejak nyata aksi pencurian. Selebihnya, suasana tenang. Petugas keamanan hanya berkumpul di pintu lantai dasar dan lantai teratas yang memamerkan arkeologi bawah air. Meja yang disediakan untuk petugas di sudut tiap lantai museum pun kosong. Masuk ke ruang pajang, tak ada yang menyambut tamu.

Keresahan lebih tampak ketika berbincang dengan Kepala Museum Nasional Intan Mardiana. Bagi Intan, kasus pencurian itu tamparan keras karena terjadi ketika pihaknya membenahi museum. ”Kami sedang mendata ulang koleksi,” ujarnya.

Setelah kejadian pencurian itu, dia berencana menambah petugas pengamanan yang sekarang berjumlah 15 orang. Kamera pemantau juga akan dibuat terkoneksi sehingga memudahkan pengawasan.

Arkeolog peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, berpandangan, museum adalah aset bangsa, apalagi Museum Nasional. Gengsi bangsa ada di Museum Nasional sebagai tempat mengumpulkan karya-karya agung suatu bangsa.

”Di situlah kita akan melihat bahwa dulu itu bukan ruang hampa. Manusia masa lampau mampu membuat karya seni yang indah dengan teknologi terbatas,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.