Kompas.com - 09/10/2013, 19:38 WIB
Lokomotif uap Mak Itam menarik gerbong berisi pebalap dan ofisial yang berlaga di Tour de Singkarak 2012 menuju start etape pertama di Sawahlunto di tepian Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Minggu (3/6/2012). KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Lokomotif uap Mak Itam menarik gerbong berisi pebalap dan ofisial yang berlaga di Tour de Singkarak 2012 menuju start etape pertama di Sawahlunto di tepian Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Minggu (3/6/2012).
EditorI Made Asdhiana
NAMA Mak Itam begitu melegenda di Sawahlunto, Sumatera Barat. Jeritannya selalu membawa kegembiraan. Bersamanya, semua orang seakan langsung dibawa bernostalgia akan kejayaan masa lalu. Namun, waktu jua yang menentukan. Mak Itam kini tak lagi menjerit. Wujudnya sekarang hanya bisa dilihat dari balik jeruji besi.

Mak Itam bukanlah seorang tokoh. Dia lokomotif uap generasi terakhir yang bertugas di kota Sawahlunto. Dia saksi bisu kejayaan kota ini berkat kekayaan batubaranya. Kami mencoba ”menghidupkan kembali” Mak Itam. Ritual kami mulai sejak dini hari. Bukhari, sang masinis, dengan gesit langsung menyelinap ke kabin lokomotif. Tangannya menari lincah menyerok tumpukan batubara ke tungku pembakaran. Bara api dari tungku lokomotif bernomor seri E 1060 pun menyala, mengusir udara dingin. Sejurus kemudian, asap putih mengepul dari cerobong lokomotif.

Bukhari tersenyum lebar. Namun, dia kembali sibuk dengan tungku pembakaran untuk mendapatkan tekanan uap yang dibutuhkan untuk menggerakkan badan Mak Itam. Tak terasa, lima jam sudah berlalu. Tekanan uap yang diinginkan tidak tercapai karena adanya kebocoran pipa pembakaran. Walau sudah berusaha keras, kami pun gagal menghidupkan Mak Itam. Kerja sejak dini hari sia-sia. Rencana kami bernostalgia dengan Mak Itam berantakan.

”Maafkan saya. Mak Itam benar-benar sudah harus istirahat,” kata Buchari berupaya menghibur. Kami pun pergi meninggalkan Mak Itam dan hanya bisa menatap sambil mencoba memahami kondisi Mak Itam yang sudah 50 tahun lebih beroperasi di Sawahlunto.

Pada masanya, Mak Itam termasuk salah satu lokomotif uap yang menjadi moda transportasi penting untuk menarik gerbong batubara dari lubang tambang ke Pelabuhan Emmahaven yang kini dikenal dengan sebutan Pelabuhan Teluk Bayur di Padang.

”Mak Itam merupakan generasi lokomotif uap di masa akhir kejayaannya, yakni tahun 1965-1966. Generasi pertama jenis lokomotif ini adalah generasi tahun 1926, buatan Esslingen, Jerman. Lokomotif ini memiliki kemampuan menaiki jalur rel menanjak yang ditopang dengan gerigi khusus,” ujar Kepala Pusat Pelestari Benda dan Aset Bersejarah PT KAI Ella Ubaidi.

Operasional kereta uap di Sumatera Barat pada masa kejayaannya tidak bisa dilepaskan dari penemuan batubara kualitas terbaik di Sawahlunto. Pada abad ke-19, batubara merupakan bahan bakar penting untuk berbagai moda transportasi, termasuk kapal. Sementara kapal merupakan moda transportasi andalan untuk mengangkut rempah-rempah dan hasil bumi lain antarpulau dan benua pada masa itu.

Tidak heran, begitu batubara ditemukan di Sawahlunto, Belanda segera mengusahakan jalur pengangkutan batubara yang efektif. Jalur pengangkutan ini penting karena Sawahlunto berada di tengah perbukitan dan jauh dari pelabuhan internasional.

Untuk memperlancar pengangkutan batubara, Belanda memutuskan membangun sekitar 150 kilometer jalur kereta dari Pelabuhan Emmahaven ke Sawahlunto dengan melintasi Lembah Anai dan menyusuri Danau Singkarak. Batubara juga yang membuat Pelabuhan Emmahaven menjadi pelabuhan penting di pantai barat Sumatera pada masanya.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Kereta api wisata bertenaga batu bara, Mak Itam, dipakai untuk membawa pebalap sepeda menuju ke lokasi start etape 6A Tour de Singkarak 2011 Sawahlunto menuju Istano Basa Pagaruyung, Sumatera Barat, Sabtu (11/6/2011). Panitia sengaja mengajak peserta Tour de Singkarak 2011 menaiki kereta api Mak Itam untuk mempromosikan potensi wisata di kota Sawahlunto.
Pembangunan jalur kereta dilakukan perusahaan kereta api negara Sumatera atau Sumatra Staats Spoorwegen mulai tahun 1891 dan selesai seluruhnya pada tahun 1894. Bersamaan pembangunan jalur kereta ini, dibuat pula jalur kereta dari Padang Panjang ke Bukittinggi serta Payakumbuh. Bukittinggi juga merupakan kota penting pada masa Belanda karena daerah dataran tinggi ini menjadi salah satu lokasi peristirahatan para petinggi Belanda.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Puncak Argapura Ketep Pass, Wisata Kuliner dengan Panorama 5 Gunung

Puncak Argapura Ketep Pass, Wisata Kuliner dengan Panorama 5 Gunung

Jalan Jalan
Harga Tiket Masuk TMII Dijanjikan Tidak Naik Setelah Revitalisasi

Harga Tiket Masuk TMII Dijanjikan Tidak Naik Setelah Revitalisasi

Travel Update
Unggah Foto Perayaan Imlek di Grand Indonesia Bisa Dapat Promo, Ini Caranya

Unggah Foto Perayaan Imlek di Grand Indonesia Bisa Dapat Promo, Ini Caranya

Travel Promo
Jelang MotoGP, 226 Hotel di Gili Matra NTB Belum Dapat Pesanan

Jelang MotoGP, 226 Hotel di Gili Matra NTB Belum Dapat Pesanan

Travel Update
Panduan Cara Bikin Paspor dengan M-Paspor, Simak agar Tidak Bingung

Panduan Cara Bikin Paspor dengan M-Paspor, Simak agar Tidak Bingung

Travel Tips
5 Penginapan Dekat Nepal van Java, Bisa Ditempuh dengan Jalan Kaki

5 Penginapan Dekat Nepal van Java, Bisa Ditempuh dengan Jalan Kaki

Travel Tips
Cerita di Balik Menu Bubur Ayam Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

Cerita di Balik Menu Bubur Ayam Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

Jalan Jalan
Pemandian Alam Selokambang di Lumajang, Segarnya Mata Air Gunung Semeru

Pemandian Alam Selokambang di Lumajang, Segarnya Mata Air Gunung Semeru

Jalan Jalan
Jangan Letakkan Ponsel di Tempat Ini di Pesawat, Bisa Picu Kebakaran

Jangan Letakkan Ponsel di Tempat Ini di Pesawat, Bisa Picu Kebakaran

Travel Tips
Kenapa Tidak Ada Guling di Kamar Hotel, Ini Alasannya

Kenapa Tidak Ada Guling di Kamar Hotel, Ini Alasannya

Travel Tips
10 Kota Paling Ramah untuk Turis, Ada Nusa Lembongan di Bali

10 Kota Paling Ramah untuk Turis, Ada Nusa Lembongan di Bali

Jalan Jalan
Kapal Viking Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Kapal Viking Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Travel Update
Sulit Tidur Saat Menginap di Hotel? Pahami Alasan Ilmiah dan Solusinya

Sulit Tidur Saat Menginap di Hotel? Pahami Alasan Ilmiah dan Solusinya

Travel Tips
MotoGP Bisa Jadi Momen Kopi Robusta Lombok Gaet Pasar Internasional

MotoGP Bisa Jadi Momen Kopi Robusta Lombok Gaet Pasar Internasional

Travel Update
Banyuwangi Festival 2022 Sajikan 99 Atraksi Selama Setahun ke Depan

Banyuwangi Festival 2022 Sajikan 99 Atraksi Selama Setahun ke Depan

Travel Promo
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.