Kompas.com - 10/10/2013, 10:05 WIB
EditorI Made Asdhiana

Doni membuka lowongan kursus dengan menempelkan selebaran di beberapa sudut kota. Selain tukang ojek, Doni menyasar pedagang kaki lima dan anak buah kapal. Sejumlah profesi itu, menurut dia, paling sering berhubungan dengan turis yang berkunjung ke Labuan Bajo.

Dia mengatur jadwal kursus agar tak mengganggu pekerjaan peserta. Kursus untuk pedagang kaki lima, misalnya, digelar pukul 10.30-11.30 selepas orang berbelanja di pasar. Adapun untuk tukang ojek digelar pukul 15.30-16.30 yang dinilai sebagai waktu sepi penumpang.

Pada kelas pertama, tercatat 60 pendaftar yang mengikuti kursus itu. Namun, sejumlah kendala menghambat proses belajar. Tak sedikit peserta yang berhenti kursus karena kesulitan mengatur waktu dan tak sanggup mengikuti pelajaran. Hanya sekitar sepertiga peserta yang menyelesaikan kursus.

Akibat kendala tempat, peralatan, dan biaya, kursus di kelas tak berlanjut. Sang donatur terpaksa pindah toko karena tarif sewa yang terus naik. Akan tetapi, Doni tak berhenti mengajar bahasa Inggris. Di sela-sela kesibukannya sebagai pemandu wisata, dia melayani siapa saja yang berniat belajar.

Bersama kawan dan relawan lain, Doni juga mengajar bahasa Inggris di rumah-rumah warga di Pulau Komodo. Turis biasanya berkunjung ke permukiman warga di Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK). Sayang, tidak banyak warga yang menguasai bahasa Inggris dengan baik.

Rintisan Doni terbilang ”kecil”. Namun, beberapa orang telah merasakan manfaatnya. Raisin (42), pelaku wisata dan warga Desa Komodo, mengatakan, dirinya terbantu dengan penguasaan teknik percakapan dasar bahasa Inggris. Setidaknya, dia mampu memberikan penjelasan sederhana terkait komodo atau aktivitas warga desanya.

Syahada (23), warga Desa Komodo yang sehari-hari mengoperasikan perahu penyeberangan rute Labuan Bajo-Pulau Komodo, juga pernah mengikuti kursus yang digelar Doni. Bekal dasar bahasa Inggris membuat dia lebih percaya diri berkomunikasi dengan turis asing yang diantarnya pergi-pulang TNK-Labuan Bajo.

Sejumlah tukang ojek juga mulai bisa berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris. Mereka tak hanya menyebut angka seperti ”five”, tetapi juga memperkenalkan diri dan memberikan penawaran yang jelas. Tarif sekali jalan dari bandara ke hotel di kawasan Jalan Pantai Pede, misalnya, mereka tawarkan Rp 10.000 atau 1 dollar AS.

Keramahan

Tak hanya soal bahasa, Doni mengajarkan cara melayani tamu dengan baik. Pengalamannya sebagai pegawai perusahaan penyedia jasa pariwisata di TNK menjadi bekal untuk melatih pedagang suvenir, pedagang kaki lima, tukang ojek, dan anak buah kapal dalam berinteraksi dengan pengunjung.

Doni menekankan bahwa keramahan merupakan bekal dasar pelaku wisata. Kepada para peserta didik, dia meminta untuk setidaknya memberi senyuman, bahkan ketika turis batal memakai jasa ojek atau penyeberangan sekalipun.

Di sela-sela kesibukannya, Doni bersama Lisa Dacosta (34), istrinya, memberikan perhatian pada risiko penularan HIV/AIDS yang dinilainya bertambah seiring dengan geliat pariwisata di tempat itu.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Aktivitas warga di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/6/2012). Desa terletak di Pulau Rinca yang bersinggungan langsung dengan habitat komodo. Reptil purba yang hanya berada di Flores ini tersebar di sejumlah pulau seperti Pulau Komodo, Rinca, dan Gilimotang.
Menurut dia, kesadaran warga akan penularan HIV/AIDS belum terbangun. Sementara sosialisasi dan fasilitas kesehatan pun relatif kurang. Tanpa ”pertahanan” yang baik, risiko tertular HIV/AIDS pun tinggi.

Di dalam tas punggungnya, Doni membawa beberapa bundel map yang mencatat mereka yang rentan tertular HIV/AIDS. Dia juga membawa segepok kondom bantuan dari lembaga peduli HIV/AIDS untuk dibagikan kepada pekerja seks komersial. Harapannya, risiko tertular HIV/AIDS bisa diminimalkan. (Mukhamad Kurniawan) 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.