Berwisata ke Desa Nglanggeran - Kompas.com

Berwisata ke Desa Nglanggeran

Kompas.com - 18/10/2013, 20:21 WIB
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Warga berkumpul sebelum mengolah lahan Kebun Buah Nglanggeran yang berada di kaki Gunung Api Purba Nglanggeran di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Kamis (25/4/2013). Gunung yang aktif sekitar 70 juta tahun lalu dan menjulang dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut tersebut dikembangkan oleh masyarakat setempat menjadi salah satu objek wisata alternatif yang menawarkan keunikan bentang alam yang tersusun dari material vulkanik tua.

BANYAKNYA obyek wisata di kota besar tak menggeser keinginan orang untuk berkunjung ke desa wisata, seperti Desa Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Benda peninggalan purbakala yang unik dan budaya tradisional yang masih kental membuat warga desa itu mampu menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri untuk belajar budaya sekaligus berekreasi.

Ada dua obyek wisata di Desa Nglanggeran, yakni gunung api purba dan embung besar. Tak sulit menemukan desa wisata di Dusun Kalisong, Desa Nglanggeran, itu.

Lokasinya hanya berjarak 22 kilometer (km) dari Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunung Kidul, atau 25 km dari Yogyakarta. Kita bisa naik bus dari Wonosari ke Nglanggeran dengan ongkos sekitar Rp 5.000 per orang.

Gunung api purba merupakan gunung batu dari karst atau kapur. Jutaan tahun lalu, gunung itu pernah aktif. Puncak gunung tersebut adalah Gunung Gedhe di ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut, dengan luas kawasan pegunungan mencapai 48 hektar.

Gunung itu berupa jajaran gunung batu yang unik. Dengan mendaki selama 1,5-2 jam kita sudah sampai ke puncak gunung. Dari puncak kita bisa menikmati pemandangan indah.

Tahun 1999, obyek wisata ini dikelola Karang Taruna Bukit Putra Mandiri yang mengenakan tarif tiket Rp 500 per orang, tetapi fasilitasnya belum lengkap. Mengingat banyaknya potensi budaya dan ekowisata di situs gunung api tersebut, tahun 2008 Badan Pengelola Desa Wisata Nglanggeran mengambil alih pengelolaannya. Mereka menambah berbagai fasilitas di sini.

Adapun embung adalah bangunan berupa kolam seperti telaga di ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut. Embung dengan luas sekitar 5.000 meter persegi itu berfungsi menampung air hujan untuk mengairi kebun buah kelengkeng, durian, dan rambutan di sekeliling embung. Pada musim kemarau, para petani bisa memanfaatkan airnya untuk mengairi sawah.

Pengunjung bisa naik ke embung dengan tangga. Sampai di sisi embung, kita bisa melihat matahari terbenam yang indah. Kita juga bisa melihat gunung api purba di seberang embung.


Program ”live in”

Pengelola Desa Wisata Nglanggeran mengembangkan kawasan wisata ini dengan membuat penginapan dan menyiapkan rumah penduduk untuk tempat live in. Program live in banyak diikuti pelajar dan wisatawan mancanegara.

Lewat program itu, wisatawan bisa berinteraksi dengan penduduk dan belajar budaya Desa Nglanggeran, seperti membatik topeng, membuat kerajinan dari janur (daun kelapa yang masih muda), belajar tari tradisional Jathilan dan Reog, ikut kenduri, menangkap dan melepas ikan di sungai, menanam padi di sawah, dan belajar memasak kuliner ala Desa Nglanggeran.

”Pengunjung dapat menikmati fasilitas berbagai kegiatan luar ruang, seperti rock climbing dengan 28 jalur, trekking, dan pengenalan budaya daerah Nglanggeran,” kata Aris Budiyono dari bagian Publikasi Badan Pengelola Desa Wisata Nglanggeran.

Menurut Aris, wisatawan bisa memilih hanya bermalam atau mengambil paket (bermalam plus ikut kegiatan luar ruang). Pihaknya juga berencana membangun Nglanggeran Mart sebagai tempat warga menjual produk suvenir dan pangan lokal. Para ibu di desa itu biasa membuat makanan seperti keripik singkong, brownies singkong, hingga dodol kakao.

Berwisata dan belajar tentang kehidupan di Nglanggeran tak butuh dana besar. Tarif menginap Rp 100.000 semalam per orang, sementara untuk pelajar Rp 60.000. Namun, jika kita ingin bermain flying fox atau mendaki gunung, kita harus membayar lagi. Selain itu juga ada paket permainan. Trekking minimal 3 orang dengan tarif Rp 25.000 per orang atau outbond (minimal 5 orang) tarifnya Rp 75.000 per orang.

Bagi mereka yang ingin live in, ada pilihan paket pelajar untuk minimal 40 siswa, mulai paket 2 hari 1 malam sebesar Rp 320.000 per orang sampai paket 6 hari 5 malam Rp 800.000 per orang.

Paket itu meliputi penginapan, belajar membuat topeng/membatik topeng, karawitan/gamelan, menari, ikut aktivitas masyarakat (induk semang), misalnya ke acara kenduri, belajar membajak dan menanam padi, sampai membuat aneka makanan lokal yang sebagian hasilnya bisa dibawa pulang.

Sudah banyak siswa live in di desa itu. Dari Januari sampai April lalu, sebanyak 660 siswa live in di Desa Nglanggeran. Nurika Anggraeni (16), warga desa, senang dengan kunjungan wisatawan. Alasannya, ”Perekonomian di sini lebih maju karena orang yang datang pasti belanja, membeli oleh-oleh, atau menginap.”

Yuk ke Desa Nglanggeran! Selain berwisata, kita juga bakal mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru.

Tim Penulis SMA Negeri 1 Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta: Dhannisa Sri Henriyana Saputri, Yulia Ardyana, Lala Taprisa Paksi Nurfahmi, dan Amalia Intan Prajati.


PenulisWisnubrata
EditorWisnubrata
SumberKOMPAS

Close Ads X