Biuk, Kearifan Kampung Naga di Hulu Ciwulan

Kompas.com - 19/10/2013, 15:35 WIB
Warga Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. BARRY KUSUMAWarga Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.
EditorI Made Asdhiana

Sejak ratusan tahun lalu, saat Kampung Adat Naga baru berdiri, mereka percaya terjaganya kualitas air Sungai Ciwulan akan membuat urat nadi kehidupan mereka tetap berjalan. Perlindungan itu diwujudkan dalam konsep pelestarian hutan lindung di hulu Sungai Ciwulan. Sebab itu, keberadaan pohon besar di hutan lindung diyakini akan terus memberikan aliran air tanpa henti bagi Sungai Ciwulan. Tak heran jika beragam pohon besar hingga variasi tanaman obat tumbuh subur di Hutan Biuk itu.

Ucu Suherman, warga Kampung Naga lainnya, menyatakan, siapa pun tidak boleh masuk ke Hutan Biuk yang terletak di kaki Gunung Karacak, termasuk warga Kampung Naga. ”Jangankan menebang pohon dan memanfaatkannya, masuk ke hutan saja, orang tidak boleh, kecuali diizinkan oleh tetua adat,” katanya.

”Karuhun” Naga juga mewanti-wanti. Jika ada pohon tumbang di Hutan Biuk, warga sama sekali tidak boleh menjamahnya. ”Biarkan batang kayu itu membusuk dengan sendirinya,” kata Ucu.

Kalaupun mendapat izin untuk mengambil tanaman obat di sekitar hutan, warga Kampung Naga harus mematuhi perintah tetua adat. ”Misalnya, hanya satu kaki yang boleh menginjak Hutan Biuk. Dan. satu kaki lainnya harus berada di luar kawasan hutan. Mereka memang seperti tidak mau hutan adat itu diberikan beban berat kaki manusia,” papar Ucu.

Untuk menjaga kelestarian air, masyarakat Kampung Naga juga dilarang mengambil ikan sembarangan. Hanya saat tertentu, adat memperbolehkan masyarakat mengambil ikan dalam jumlah besar. Saat itu dinamakan masyarakat Naga sebagai upacara adat Marak.

Tradisi marak adalah membendung sebelah Sungai Ciwulan di pinggir kampung untuk mencari ikan-ikan di sungai tersebut. Hampir semua laki-laki warga kampung ikut turun untuk membendung Sungai Ciwulan.

Setelah airnya surut, ikan- ikan pun gampang ditangkap. Warga yang mencari ikan kokolot Naga dilarang menggunakan racun kimia berbahaya. Kalaupun menggunakan ”racun”, racun itu berasal dari obat tradisional, yang ramuannya dari akar pohon tertentu yang boleh digunakan untuk memabukkan ikan. ”Jadi, kalau menggunakan racun kimia, bukan hanya ikan yang mati, melainkan kehidupan kami,” kata warga lainnya. (Helmy Herlambang dan Dedi Muhtadi)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X