Kompas.com - 19/10/2013, 17:07 WIB
EditorI Made Asdhiana
TERIK matahari yang menyengat tidak lagi dihiraukan Suradi (68). Dengan bertelanjang dada, eks tahanan politik yang dibuang ke Pulau Buru, Maluku, pada tahun 1969 akibat tuduhan terlibat dalam Partai Komunis Indonesia tersebut terus membolak-balik gabah yang dijemur di depan rumahnya dengan garu.

Kebetulan, sawah Suradi baru panen. Hasilnya cukup lumayan. Sawah 1 hektar bisa menghasilkan 3 ton gabah. ”Meskipun hasilnya tak sebanyak di Jawa, ini sudah cukup bagus,” ujar pria ceking, yang wajahnya dihiasi keriput, dengan logat Jawa yang masih kental, itu.

Lelaki asal Yogyakarta itu adalah generasi pertama tahanan politik kelas B atau tidak pernah diadili, yang semena-mena dibuang ke Buru. Pulau tersebut terletak di barat laut Laut Banda, yang hanya dapat dicapai dengan kapal cepat selama empat jam dari Ambon atau semalam dengan kapal feri.

Suradi ditangkap tahun 1965 dan dijebloskan di Lembaga Pemasyarakatan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari sana, ia dipindah ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, sebelum dibawa ke Pulau Buru. Waktu itu, usianya 19 tahun, dan Suradi tak paham, bagaimana dirinya yang hanya pegawai sipil rendahan di Kesatuan Angkatan Udara Republik Indonesia Maguwo dikaitkan dengan organisasi terlarang itu.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Sisa-sisa bangunan yang dahulu digunakan untuk gedung pertemuan dan kesenian para tahanan politik di Savanadjaja, Namlea, Pulau Buru, Maluku, Rabu (19/6/2013).
Tahun 1969, Suradi bersama sekitar 300 tahanan politik (tapol) dikirim ke Pulau Buru. Mereka merupakan generasi tapol pertama penghuni Buru. Setelah berlabuh di dermaga Namlea, ibu kota Kabupaten Buru saat ini, para tahanan dibawa dengan sekoci ke Pantai Sanleko (Air Mandidih) di dekat Namlea.

Di bukunya, Tahanan Politik Pulau Buru, tahun 2001, Ig Krisnadi menulis, penangkapan besar-besaran mereka yang disangka terlibat PKI dan sayapnya membuat rumah-rumah tahanan di Indonesia sesak. Rezim Orde Baru mencoba mengatasi dengan merancang program pemukiman kembali di luar Pulau Jawa. Salah satunya di Pulau Buru, dengan nama instalasi rehabilitasi. Konon, pulau tersebut pernah diteliti sebagai lokasi transmigrasi. Pemerintah saat itu berniat menghemat biaya dengan mengembangkan lokasi lewat tenaga para tapol.

”Menyulap” bukit cadas

Saat itu, menurut Suradi, Pulau Buru benar-benar masih ”perawan”. Hutan-hutan di sekelilingnya sangat lebat. Batang pohonnya berukuran sangat besar. Pengamatan Kompas, lembah Sungai Waeapo waktu itu seperti ”penjara alam”, topografinya cekungan tanah, yang dikurung bukit karang bersambungan.

Di bawah moncong bedil tentara, para pemuda yang divonis bersalah tanpa lewat pengadilan menjalani hukuman seperti romusha pada zaman Jepang. Selain barak untuk tempat tinggal mereka, mereka juga membangun barak rumah para tentara.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Berbagai hasil bumi siap dinaikkan ke kapal perintis di pelabuhan Pulau Larat, ibu kota Kecamatan Tanimbar Utara, Maluku Tenggara Barat, Maluku, Senin (14/10/2013). Meskipun waktu kedatangannya tidak dapat dipastikan, kapal perintis menjadi alat transportasi utama warga pulau tersebut karena tidak ada alat transportasi antarpulau lainnya dan tarifnya terjangkau.
Selanjutnya, gelombang tapol lain mulai berdatangan hingga tahun 1972. Total berjumlah sekitar 10.000 orang. ”Bulan-bulan pertama, kami tidur di udara terbuka. Gigitan nyamuk jadi hal biasa. Yang tak kuat, pasti sakit,” ujar Suradi yang menikahi Sus Pujianti, transmigran gelombang pertama asal Jawa Timur. Tiga anak Suradi kini tinggal di Jawa.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Naik ke Atas Pagoda Pantjoran PIK, Indahnya Panorama 360 Derajat dari Ketinggian

Naik ke Atas Pagoda Pantjoran PIK, Indahnya Panorama 360 Derajat dari Ketinggian

Jalan Jalan
Jakarta Travel Fair Digelar 7-9 Oktober 2022 di Balikpapan

Jakarta Travel Fair Digelar 7-9 Oktober 2022 di Balikpapan

Travel Update
Bukit Scooter Dieng, Indahnya Negeri Para Dewa dari Ketinggian

Bukit Scooter Dieng, Indahnya Negeri Para Dewa dari Ketinggian

Jalan Jalan
Bangkitnya Pariwisata Flores, Ada Bayang-bayang Prediksi Resesi Global 2023

Bangkitnya Pariwisata Flores, Ada Bayang-bayang Prediksi Resesi Global 2023

Travel Update
Pengembangan SDM Pariwisata yang Berkualitas Terus Dilakukan di Labuan Bajo

Pengembangan SDM Pariwisata yang Berkualitas Terus Dilakukan di Labuan Bajo

Travel Update
Indonesia Masuk Negara Terbaik untuk Wisata Versi Readers' Choice Awards 2022

Indonesia Masuk Negara Terbaik untuk Wisata Versi Readers' Choice Awards 2022

Travel Update
10 Wisata Pantai di Banyuwangi, Ada Tempat Lihat Sunset Warna Merah

10 Wisata Pantai di Banyuwangi, Ada Tempat Lihat Sunset Warna Merah

Jalan Jalan
Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Benteng Marlborough Bengkulu Naik 61 Persen

Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Benteng Marlborough Bengkulu Naik 61 Persen

Travel Update
Rute ke Museum MACAN Jakarta Barat, Bisa Naik Transjakarta

Rute ke Museum MACAN Jakarta Barat, Bisa Naik Transjakarta

Travel Tips
Entertainment on Board, Layanan Hiburan Baru KAI Saat Naik Kereta

Entertainment on Board, Layanan Hiburan Baru KAI Saat Naik Kereta

Travel Update
Museum Marketing 3.0 Diresmikan di Museum Puri Lukisan Ubud Bali

Museum Marketing 3.0 Diresmikan di Museum Puri Lukisan Ubud Bali

Travel Update
6 Wisata Pantai Lombok Barat, Ada Pantai dengan Air Terjun

6 Wisata Pantai Lombok Barat, Ada Pantai dengan Air Terjun

Jalan Jalan
Arab Saudi Tuan Rumah Asian Winter Games 2029, Saljunya Bagaimana?

Arab Saudi Tuan Rumah Asian Winter Games 2029, Saljunya Bagaimana?

Travel Update
Hong Kong Bagikan 500.000 Tiket Pesawat Gratis, Pulihkan Pariwisata

Hong Kong Bagikan 500.000 Tiket Pesawat Gratis, Pulihkan Pariwisata

Travel Update
5  Wisata Religi di Lombok Barat NTB, Ada Makam di Tengah Laut

5 Wisata Religi di Lombok Barat NTB, Ada Makam di Tengah Laut

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.