Kompas.com - 20/10/2013, 09:53 WIB
Penulis Tri Wahyuni
|
EditorI Made Asdhiana
TAK banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Bahkan tak banyak orang yang percaya bahwa ia ada. Padahal letaknya berada di pusat gaya hidup di Jakarta, yaitu Kemang. Semut di ujung lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk Museum di Tengah Kebun.

Tidak ada sign board yang besar dan mencolok mata, tidak ada pula bangunan megah dengan arsitektur zaman Belanda atau arsitektur kuno ala museum kebanyakan. Yang ada hanyalah  pintu gerbang kayu yang besar, yang menutupi bentuk bangunan di dalamnya dan nama museum yang tertempel di tembok kanan, dan kiri sebagai penanda.

Untuk bisa memasuki Museum di Tengah Kebun, pengunjung tidak dikenakan biaya apa pun. Tapi, sulit sekali memang untuk bisa masuk melihat-lihat koleksi museum itu. Anda harus memiliki rombongan paling sedikit tujuh orang dan paling banyak 12 orang untuk bisa masuk museum.

Waktu berkunjung pun harus ditetapkan jauh-jauh hari dan harus dirundingkan dengan pengelola museum. Kira-kira, begitulah keterangan yang bisa didapatkan dari selembar kertas yang tertempel di pagar kayu besar museum.

KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI Fosil pohon yang berasal dari Masa Triassic di Pulau Jawa, 248 juta tahun sebelum masehi ditempatkan di halaman depan Museum di Tengah Kebun di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Apa isi Museum di Tengah Kebun? Apakah ada kebun yang besar mengelilingi museum tersebut? Seperti apa bentuk museumnya? Mengapa peraturan berkunjung begitu ketat? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam benak saya sebelum mendapatkan kesempatan berkunjung ke museum yang terletak di Jalan Kemang Timur No 66.

Memasuki Museum

Hari itu, Sabtu (5/10/2013), kesempatan saya untuk mengunjungi Museum di Tengah Kebun pun tiba. Bersama rombongan lainya yang berjumlah 10 orang, kami diizinkan menyusuri dan melihat koleksi museum tersebut.

Memasuki gerbang utama, di balik pagar kayu besar yang menutupi seluruh pemandangan rumah, saya sudah dikejutkan dengan halaman yang begitu luas. Bagunan utama menyerupai rumah terletak sekitar cukup jauh dari tempat saya berdiri. Sebelum mencapai bangunan utama, saya harus melewati kebun sepanjang 60 meter dengan lebar 7 meter.

Menurut pengelola museum, Mirza Djalil, pengunjung sering menyebut tempat ini sebagai lorong waktu. Suasana sejuk dan nyaman saya rasakan ketika melintasi “lorong waktu” tersebut. di bagian kanan dan kiri terdapat tanaman-tanaman hijau yang tertata apik dan terlihat subur. Seketika saya merasa seperti bukan berada di Jakarta.

KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI Kebun Ganesha memiliki luas 3.500 meter persegi. Di Museum di Tengah Kebun ini juga banyak koleksi barang-barang yang diletakkan di beberapa tempat, seperti di pendopo, maupun di tengah kebun. Pembuatan kebun ini ternyata lebih rumit dibandingkan dengan pembuatan rumah.
Perjalanan dalam “lorong waktu” pun akhirnya selesai. Saya telah memasuki kawasan bangunan utama. Sebutan “lorong waktu” ternyata tidak berlebihan. Baru sampai di halaman bangunan museum saja, sudah banyak benda-benda antik yang diletakkan di luar ruangan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lokasi Syuting KKN di Desa Penari: Wisata Batu Kapal di Bantul, Yogyakarta

Lokasi Syuting KKN di Desa Penari: Wisata Batu Kapal di Bantul, Yogyakarta

Jalan Jalan
Serunya Naik Bus Tingkat Wisata Jakarta Gratis, Lihat Panorama Kota dari Atas

Serunya Naik Bus Tingkat Wisata Jakarta Gratis, Lihat Panorama Kota dari Atas

Jalan Jalan
Pemerintah Dorong Maskapai Asing Tambah Penerbangan ke Indonesia

Pemerintah Dorong Maskapai Asing Tambah Penerbangan ke Indonesia

Travel Update
Bukit Golo Geleng NTT, Tempat Nikmati Matahari Terbit dari Ketinggian

Bukit Golo Geleng NTT, Tempat Nikmati Matahari Terbit dari Ketinggian

Jalan Jalan
Arab Saudi Larang Warganya ke 16 Negara, Ada Indonesia dan Turki

Arab Saudi Larang Warganya ke 16 Negara, Ada Indonesia dan Turki

Travel Update
Tips Melakukan Solo Trekking, Jelajahi Alam Sendirian Tanpa Guide

Tips Melakukan Solo Trekking, Jelajahi Alam Sendirian Tanpa Guide

Travel Tips
Bangsring Underwater Banyuwangi, Ekowisata Terumbu Karang Karya Nelayan Lokal

Bangsring Underwater Banyuwangi, Ekowisata Terumbu Karang Karya Nelayan Lokal

Jalan Jalan
Tiket Pesawat Mahal, Ini Solusi Menparekraf Sandiaga

Tiket Pesawat Mahal, Ini Solusi Menparekraf Sandiaga

Travel Update
Ancol Tutup 4 Juni 2022, Kecuali bagi Pemegang Tiket Formula E

Ancol Tutup 4 Juni 2022, Kecuali bagi Pemegang Tiket Formula E

Travel Update
Sandiaga: Diharapkan Wisata Monas Buka Lagi 2 Minggu ke Depan

Sandiaga: Diharapkan Wisata Monas Buka Lagi 2 Minggu ke Depan

Travel Update
Sandiaga Minta Tempat Wisata Wajibkan Pakai Masker Jika Ada Kerumunan

Sandiaga Minta Tempat Wisata Wajibkan Pakai Masker Jika Ada Kerumunan

Travel Update
Panduan ke Taman Gandrung Terakota, Biaya Paket Wisata dan Penginapan

Panduan ke Taman Gandrung Terakota, Biaya Paket Wisata dan Penginapan

Jalan Jalan
Tes Covid-19 Tak Lagi Jadi Syarat Perjalanan, Sandiaga Ingatkan Hal Ini

Tes Covid-19 Tak Lagi Jadi Syarat Perjalanan, Sandiaga Ingatkan Hal Ini

Travel Update
Rute menuju Taman Gandrung Terakota, 35 Menit dari Banyuwangi Kota

Rute menuju Taman Gandrung Terakota, 35 Menit dari Banyuwangi Kota

Jalan Jalan
Itinerary Sehari di Alas Purwo Banyuwangi, Lepas dari Kesan Mistis 

Itinerary Sehari di Alas Purwo Banyuwangi, Lepas dari Kesan Mistis 

Itinerary
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.