Kompas.com - 22/10/2013, 13:10 WIB
EditorI Made Asdhiana

Oleh karena itu ia berinisiatif meminta izin pihak penjaga LP Banda untuk ”meminjam” tahanan guna memotong rumput dan membersihkan guguran ranting-ranting pohon yang mengotori rumah museum. Para tahanan diberi upah Rp 30.000 untuk pekerjaan hingga tengah hari.

”Selain uang, beta (saya) tambah rokok dan kopi. Mereka baik-baik. Penjaga penjara juga percaya sebab mau lari ke mana mereka di pulau kecil ini?” tutur Emi.

Almarhum Des Alwi, tokoh masyarakat Banda yang merupakan anak didik Hatta-Sjahrir semasa dibuang di pulau itu, pernah berpesan kepada Emi supaya menyayangi rumah tersebut seperti anaknya sendiri. Pesan itu yang menjadi pegangan baginya kendati dia tak pernah melihat sendiri sosok Bung Hatta.

”Bung Hatta tinggal di sini sampai tahun 1942, pas saya lahir. Tetapi, dari cerita Papa-Mama, beta bisa tahu dulu Bung Hatta suka dipanggil om kacamata. Itu karena beliau pakai kacamata tebal,” ujarnya.

Saking sayangnya kepada rumah itu, Emi cukup rewel kepada pengunjung yang tak mengindahkan norma sopan santun. Ia bercerita pernah memarahi pengunjung karena memakai sepatu Bung Hatta untuk berdansa-dansa. Kebetulan saat itu dia baru datang karena ada tamu di rumahnya.

”Akibatnya sepatu itu kotor, beta marah-marah. Ada orang Banda juga waktu itu yang antar dia lihat-lihat, beta tegur juga dia karena tidak mengingatkan pengunjung itu,” ucap Emi.

Ia juga menyadari, banyak orang mengincar peninggalan bersejarah di rumah pengasingan Hatta. Bukan sekali-dua kali ada tamu yang menawar benda-benda di rumah tersebut, mulai mesin tik tua, topi, hingga jas milik Hatta.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Tempat tidur Bung Hatta di rumah pengasingan di Pulau Banda Naira, Provinsi Maluku.
Menghadapi mereka, Emi bersikap tegas. ”Jangan sekali pun punya pikiran beta mau jual barang-barang ini. Semua barang di sini beta jaga sampai mati. Begitu beta jual, beta masuk sebelah (penjara),” tutur Emi sambil menunjuk bangunan penjara di sebelah rumah pengasingan Hatta

Uang pribadi

Setelah suaminya meninggal pada 2002, Emi tinggal seorang diri di Banda Naira karena dua anaknya tinggal di luar Pulau Naira. Ia hidup dari uang pensiun Rp 1,2 juta per bulan sebagai pegawai negeri. Sementara dari upah menjaga rumah pengasingan Hatta, ia mendapat Rp 1 juta per bulan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.