Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 23/10/2013, 13:25 WIB
EditorI Made Asdhiana

Sebelum tur ke lokasi, wisatawan diminta mengenakan kain yang disediakan khusus. Mereka kemudian diajak jalan menelusuri pematang sawah menyaksikan tanaman, kegiatan bertani dan berkebun, serta melihat saluran irigasi dan embung. Di salah satu embung, yaitu di Embung Dao, wisatawan bisa melihat panorama Gunung Rinjani.

Atraksi menarik bagi wisatawan adalah aktivitas petani di sawah saat musim tanam-petik. Mereka bisa mencoba mencangkul dan membajak sawah dengan alat bajak yang ditarik dua ekor sapi. Wisatawan juga bisa melihat proses belajar-mengajar di sekolah, mengunjungi kantor desa, puskesmas, sentra kerajinan anyaman, dan kegiatan usaha kerupuk.

Dengan tur tersebut, wisatawan punya gambaran riil tentang dunia pendidikan dan pelayanan di tingkat pemerintahan desa. Siswa pun dapat praktik langsung berbahasa Inggris dengan wisatawan.

”Di sini wisatawan melihat suasana, fasilitas kelas yang tersedia, berbeda dengan fasilitas sekolah di negara mereka yang serba main kenop dan touch screen,” ujar Habib.

Begitu pun aparat kantor desa yang selama ini malas-malasan bekerja menjadi lebih rajin dan betah di kantor karena tempat kerjanya pasti disambangi wisatawan.

Seusai keliling desa, wisatawan diajak ke salah satu rumah warga untuk makan siang. Mereka disuguhi lauk-pauk dan sayuran lokal. Ada juga makanan ringan, seperti ubi rebus, kacang rebus, kerupuk, dan lainnya. Warga yang menerima tamu diatur secara bergiliran.

Untuk jasa itu, warga, termasuk desa dan sekolah, kecipratan rezeki dari penjualan paket tur dengan persentase yang ditentukan. Warga desa yang merasakan manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata ini, antara lain para perajin ketak (tumbuhan jenis rumput-rumputan yang dianyam menjadi wadah buah-buahan berbentuk oval, lepekan, dan perlengkapan rumah tangga).

Tidak jarang pula peralatan rumah tangga, seperti gerabah, yang tersimpan lama justru dibeli wisatawan. Artinya, perajin bisa menjual hasil karyanya di tempat saat dikunjungi wisatawan. Biasanya hasil kerajinan itu, seperti wadah buah-buahan, dijual ke Pasar Barabali di Desa Barabali, Kecamatan Batukliang, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Desa Mas-Mas. Wadah buah itu dijual Rp 15.000 per buah, sementara ongkos transportasi pergi pulang Rp 10.000. Setelah dipotong harga transportasi, perajin hanya mengantongi keuntungan sebesar Rp 5.000. Jika dibeli langsung oleh wisatawan yang mampir ke rumah mereka, perajin paling tidak bisa mendapatkan Rp 15.000 per buah.

Perkembangan desa itu menguburkan kesan buruk tentang dunia perpelancongan. Bahkan, orangtua senang menyaksikan anak-anak berkomunikasi dengan wisatawan asing. Siswa SD hingga SMA di Desa Mas-Mas mengikuti les privat bahasa Inggris lima hari dalam sepekan, pukul 06.00-07.15, atau sebelum jam belajar di sekolah dimulai. Ruang belajarnya di Pondok Santri, melibatkan tutor dari kalangan siswa.

Banyak wisatawan yang tidak puas hanya berkunjung sehari, lalu ingin menginap di desa itu. Namun, permintaan itu tidak bisa dipenuhi karena belum ada penginapan yang memenuhi standar. Toh, Habib tidak bisa mengelak apabila satu-dua wisatawan ngotot menginap dan bersedia ”mondok” di salah satu ruangan sempit dan sederhana di Pondok Santri. Sebuah peluang untuk lebih menggiatkan pariwisata di Desa Mas-Mas. (Khaerul Anwar)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ramainya INDOFEST 2023, Pengunjung Sampai Harus Antre Masuk Toko

Ramainya INDOFEST 2023, Pengunjung Sampai Harus Antre Masuk Toko

Travel Update
Perayaan Waisak Hari Kedua, Ada Pensakralan Air Berkah di Candi Mendut

Perayaan Waisak Hari Kedua, Ada Pensakralan Air Berkah di Candi Mendut

Jalan Jalan
Desa Wisata Kreatif Terong, Punya Tempat Wisata Bekas Tambang Timah

Desa Wisata Kreatif Terong, Punya Tempat Wisata Bekas Tambang Timah

Jalan Jalan
10 Tempat Liburan di Bogor, Banyak Destinasi Baru yang HitsĀ 

10 Tempat Liburan di Bogor, Banyak Destinasi Baru yang HitsĀ 

Jalan Jalan
Hari Kedua INDOFEST 2023, Perlengkapan Mendaki Gunung Masih Diburu

Hari Kedua INDOFEST 2023, Perlengkapan Mendaki Gunung Masih Diburu

Travel Update
Jam Buka Taman Surya di Surabaya yang Bisa Dikunjungi Masyarakat Umum

Jam Buka Taman Surya di Surabaya yang Bisa Dikunjungi Masyarakat Umum

Travel Tips
Indonesia Jadi Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia 2023

Indonesia Jadi Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia 2023

Travel Update
Harga Tiket Kapal Pelni Naik hingga 100 Persen per 1 Juli 2023

Harga Tiket Kapal Pelni Naik hingga 100 Persen per 1 Juli 2023

Travel Update
4 Suku yang Menghuni Labuan Bajo, Ada yang Dijuluki Pengembara Laut

4 Suku yang Menghuni Labuan Bajo, Ada yang Dijuluki Pengembara Laut

Jalan Jalan
3 Pantai di Maluku yang Populer, Ada yang Pasirnya Terhalus di Asia Tenggara

3 Pantai di Maluku yang Populer, Ada yang Pasirnya Terhalus di Asia Tenggara

Jalan Jalan
Jepang Akan Longgarkan Syarat Jet Pribadi untuk Gaet Pelaku Perjalanan VIP

Jepang Akan Longgarkan Syarat Jet Pribadi untuk Gaet Pelaku Perjalanan VIP

Travel Update
Danau 19, Tempat Wisata Mancing di NTT yang Punya Kisah Pilu

Danau 19, Tempat Wisata Mancing di NTT yang Punya Kisah Pilu

Jalan Jalan
Harga Tiket Masuk Pantai Batu Barak Bali dan Rute Menuju ke Sana

Harga Tiket Masuk Pantai Batu Barak Bali dan Rute Menuju ke Sana

Jalan Jalan
Harga Tiket Pesawat ke Labuan Bajo dari Jakarta, per Juni 2023

Harga Tiket Pesawat ke Labuan Bajo dari Jakarta, per Juni 2023

Travel Tips
7,14 Juta Orang Terbang dari Bandara AP II Sepanjang Mei 2023

7,14 Juta Orang Terbang dari Bandara AP II Sepanjang Mei 2023

Travel Update
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+