Kompas.com - 25/10/2013, 12:14 WIB
EditorI Made Asdhiana

Pendatang

Namun, sejak 1980-an ketika arus modernitas masuk dan ribuan pendatang merangsek ke berbagai pelosok Asmat seiring booming gaharu dan kayu besi, peran sungai menjadi tidak lebih dari sekadar sarana. Para pendatang menempatkan sungai sebagai halaman belakang. Sampah mereka buang seenaknya ke sungai.

Di Agats, sungai-sungai kecil yang menjadi jalur lalu lintas kota itu sebagian kotor oleh sampah plastik. Salah satu ciri lain yang menunjukkan keterdesakkan budaya asli Asmat adalah maraknya penggunaan perahu berbahan serat kaca yang mengandalkan mesin tempel sebagai tenaga pendorong.

Erick Sarkol, kurator pada Museum Kebudayaan Asmat, prihatin dengan kondisi itu. Menurut dia, sebagai bagian dari budaya sungai, perahu tradisional Asmat tidak semata-mata alat transportasi. ”Perahu Asmat memiliki ukiran yang menjadi ciri khas pemiliknya. Ukiran di muka perahu berbeda-beda seturut marga pemiliknya,” katanya.

Ketika warga berpindah menggunakan perahu tempel, ukiran itu perlahan-lahan sirna. Dampaknya, budaya sungai pun perlahan-lahan akan dipahami secara artifisial saja, tak lebih dari sekadar sarana.

Misi yang secara khusus hadir dan menetap sejak 1953 di Asmat berupaya keras mempertahankan pandangan budaya Asmat tadi. Sejak 1980-an mereka mencoba menghambat laju perubahan itu dengan menggelar Festival Budaya Asmat. Dalam kegiatan itu digelar perlombaan membuat perahu serta lomba dayung tradisional.

Awal Oktober lalu, bahkan digelar pesta perahu di mana puluhan perahu tradisional dibuat dengan iringan upacara adat sebagaimana dulu dilakukan para leluhur. Itu mengingatkan kembali pada wuramon, ukiran berbentuk perahu yang digunakan dalam beberapa upacara khusus untuk mengantarkan jiwa-jiwa menuju keabadian. (B Josie Susilo Hardianto)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.