Wangsit Kalimasada di Bawah Pohon Sukun

Kompas.com - 28/10/2013, 08:15 WIB
Wakil Presiden Boediono melihat patung Bung Karno duduk menghadap laut di bawah pohon sukun seusai peresmiannya di Taman Rendo, Ende, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (1/6/2013). Di lokasi itu, saat di pengasingan (1934-1938), Bung Karno menemukan nilai-nilai Pancasila. Taman Rendo direvitalisasi arsitek Andra Matin dan perupa Hanafi. Ada sembilan situs Bung Karno lain yang akan direvitalisasi. KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO Wakil Presiden Boediono melihat patung Bung Karno duduk menghadap laut di bawah pohon sukun seusai peresmiannya di Taman Rendo, Ende, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (1/6/2013). Di lokasi itu, saat di pengasingan (1934-1938), Bung Karno menemukan nilai-nilai Pancasila. Taman Rendo direvitalisasi arsitek Andra Matin dan perupa Hanafi. Ada sembilan situs Bung Karno lain yang akan direvitalisasi.
EditorI Made Asdhiana
”Mana Pater Huijtink?”Itulah satu pertanyaan spontan yang dilontarkan Presiden Soekarno ketika hendak berpidato di hadapan massa di Lapangan Perse, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tahun 1950. Lapangan itu, yang pada masa kolonial Belanda disebut ”plein”, kini disebut Lapangan Pancasila.

Kedatangan Bung Karno saat itu bukan lagi sebagai orang buangan sebagaimana 12 tahun sebelumnya, yakni tahun 1934-1938, ketika ”Putra Sang Fajar” itu diasingkan di Ende oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Soekarno rupanya tak bisa lupa pada sosok Pater Gerardus Huijtink SVD, Pastor Paroki Ende. Rohaniwan Katolik berjenggot tebal dan panjang itu, begitu mendengar namanya dipanggil oleh Presiden, langsung menyeruak di antara kerumunan massa. Huijtink berpegangan tangan berlama-lama dengan Bung Karno seakan tidak ingin lepas.

”Saya masih mempunyai utang 70 gulden Pastor, ha-ha-ha,” kata Soekarno.

Pada saat Soekarno diasingkan di Ende, pada umumnya orang-orang terpandang, seperti para amtenar Hindia Belanda dan kalangan Raja Ende waktu itu, menghindarinya. Justru Huijtink salah seorang yang pertama datang ke rumah Bung Karno. Mereka pun bersahabat.

Lewat Huijtink pula Bung Karno dapat meminjam Gedung Imakulata, Ende. Bung Karno memanfaatkan gedung tersebut untuk pementasan tonil berdasarkan 13 naskah tonil ciptaannya yang isinya membangkitkan semangat kebangsaan dan nasionalisme. Klub tonil yang dibentuknya beranggotakan sekitar 95 orang, yang semuanya berasal dari kalangan rakyat kecil.

Pada mulanya Huijtink tidak memungut biaya. Akan tetapi, Bung Karno memutuskan menyewa gedung tersebut sebagai bentuk kemandirian. Pada praktiknya, pementasan sering merugi sehingga akhirnya klub tonil Kelimutu yang didirikan Bung Karno tersebut berutang 70 gulden uang sewa gedung.

Tuan presiden

Selama bergaul dengan Bung Karno yang menjalani pengasingan di Ende, Huijtink terkadang menyapa Bung Karno dengan Excelency atau memanggilnya dengan sebutan ”Tuan Presiden”. Padahal, saat itu kemerdekaan Indonesia masih bagian dari mimpi besar Bung Karno.

Fakta ini diungkapkan Pater Lambert Lame Uran SVD dalam kesaksiannya yang tertulis di buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X