Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 04/11/2013, 17:52 WIB
EditorI Made Asdhiana
TABANAN, KOMPAS.com - Jatiluwih, sebuah kawasan persawahan di Kabupaten Tabanan, Bali, semakin mencuat namanya setelah dinobatkan sebagai situs cagar budaya dunia oleh UNESCO. Sistem irigasi tradisional subak yang memang perlu dilestarikan itu sudah turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi dan telah menarik banyak wisatawan untuk melihat langsung keindahan panoramanya. Tidak itu saja, perumahan warga desa sekitar bahkan masih mempertahankan lumbung-lumbung padi yang menjajar indah, termahsyur dengan beras merahnya.

Akan tetapi, sayangnya gambaran indah ini tak selalu menjanjikan perubahan menguntungkan bagi warganya. Banyak permasalahan yang muncul seperti konversi fungsi lahan yang tidak akan sejalan dengan statusnya saat ini. Selain itu, sudah banyak warga yang beralih profesi menjadi pegawai baik di pemerintahan ataupun di swasta. Lalu siapa yang akan melanjutkan legasi Jatiluwih sebagai situs cagar budaya dunia yang memerlukan pengelolaan sawah dan irigasi subaknya?

Kamis (31/10/2013), di depan warga Kabupaten Tabanan, Dusun Gunungsari, Ketua DPR RI Marzuki Alie meyakinkan warga bahwa mempertahankan cagar budaya Jatiluwih sangat penting. Hasil bumi dan komoditi dari Jatiluwih bagi perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata di Bali menjadi krusial.

Saat ini Bali memang menjadi barometer kepariwisataan nasional dan juga bagian dari koridor 5 Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang mencakup Bali, NTB, dan NTT. Oleh karena itu, sudah pasti program tersebut akan membawa pembangunan pesat di berbagai bidang. Percepatan pembangunan ini tak selalu terwujud sebagai angin peluang, karena bagi warga Jatiluwih ataupun bagi kawasan Jatiluwih sebagai cagar budaya dunia bisa menjadi sebuah ancaman.

Direktur Pengembangan Daya Tarik Wisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Azwir Malaon juga mengutarakan hal serupa bahwa saling ketergantungan ini harus tetap seimbang, seperti keseimbangan prinsip Tri Hita Karana.

Selain itu, warga diimbau untuk tidak mengubah kawasan ini menjadi kawasan yang terlalu komersial sehingga pembangunan sporadis yang spontan dan menyalahi undang-undang tata ruang dan kepariwisataan dapat dihindari. Permasalahan pembangunan di Bali Selatan dapat dihindari sejak dini di Jatiluwih, umumnya di Kabupaten Tabanan, dengan pengawasan penegakan undang-undang.

Pembangunan vila dan hotel bukan sesuatu yang haram kecuali bila menyalahi peruntukan pemanfaatan lahan menurut undang-undang tata ruang yang sudah ditentukan. Bila memang terjadi seperti yang dikeluhkan warga Jatiluwih di Dusun Gunungsari maka ditekankan perlu ada peninjauan kembali surat izin yang memperbolehkan pembangunannya. Di samping vila dan hotel, Desa Wisata adalah alternatif yang perlu didukung dimana keberadaannya akan lebih melibatkan warga setempat.

DOK INDONESIA.TRAVEL Desa Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali.
Undang-undang selalu dibuat dalam lembar negara yang didokumentasikan dengan prinsip 'hukum tertinggi adalah kesejahteraan rakyat'. Dari prinsip itu diterjemahkanlah dalam bentuk payung hukum di setiap sektor dan berlaku untuk siapa pun. Payung hukum yang disusun ini tentunya dibina untuk kesejahteraan rakyat dan menjadi jaminan bahwa segala kepentingan warga dapat terakomodir dengan seimbang.

Jatiluwih dalam bahasa daerah Bali bermakna jati yang indah. Lokasi persawahan yang memukau ini terhampar di Kabupaten Tabanan, 40 kilometer dari Denpasar atau sekitar 2 jam perjalanan dengan kendaraan.

Salah satu tempat menarik yang dapat dikunjungi ialah Dusun Gunungsari yang berlokasi di ketinggian 640 meter di atas permukaan laut dengan hawa sejuk berbeda dengan suasana pantai yang panas. Air irigasi di antara petak sawah begitu bening dan sejuk sehingga tak jarang pengunjung membenamkan rasa penasarannya ke dalam kesegaran aliran airnya di atas bentangan panorama sawah Jatiluwih.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Target Kunjungan Wisatawan ke Kabupaten Bogor Naik Jadi 10 Juta

Target Kunjungan Wisatawan ke Kabupaten Bogor Naik Jadi 10 Juta

Travel Update
Panduan Lengkap ke Taman Gajah Tunggal di Tangerang

Panduan Lengkap ke Taman Gajah Tunggal di Tangerang

Travel Tips
Wisata ke Masjid Raya Sumatera Barat, Bisa Belajar Tahsin dan Falsafah

Wisata ke Masjid Raya Sumatera Barat, Bisa Belajar Tahsin dan Falsafah

Jalan Jalan
Harga Tiket Pesawat Lagi Murah, Ini yang Sebaiknya Dilakukan Wisatawan

Harga Tiket Pesawat Lagi Murah, Ini yang Sebaiknya Dilakukan Wisatawan

Travel Tips
Uni Eropa Setujui Rencana Visa Schengen Digital

Uni Eropa Setujui Rencana Visa Schengen Digital

Travel Update
Hong Kong Bagikan 500.000 Tiket Pesawat Gratis, Bujuk Turis Datang Lagi

Hong Kong Bagikan 500.000 Tiket Pesawat Gratis, Bujuk Turis Datang Lagi

Travel Update
Panduan ke Museum Taman Prasasti, Jam Buka, Rute, sampai Tips

Panduan ke Museum Taman Prasasti, Jam Buka, Rute, sampai Tips

Jalan Jalan
Buana Life Pangalengan: Harga Menu, Jam Buka, dan Daya Tarik 

Buana Life Pangalengan: Harga Menu, Jam Buka, dan Daya Tarik 

Jalan Jalan
Uniknya Masjid Hidayatullah di Jakarta Selatan, Sajikan Akulturasi 4 Budaya

Uniknya Masjid Hidayatullah di Jakarta Selatan, Sajikan Akulturasi 4 Budaya

Jalan Jalan
Usai Acara, Delegasi ASEAN Tourism Forum 2023 Akan Jelajah Yogyakarta

Usai Acara, Delegasi ASEAN Tourism Forum 2023 Akan Jelajah Yogyakarta

Travel Update
Ada Apa di Museum Taman Prasasti Jakarta?

Ada Apa di Museum Taman Prasasti Jakarta?

Travel Update
5 Tips Berkunjung ke Buana Life Pangalengan, Reservasi Lebih Dulu

5 Tips Berkunjung ke Buana Life Pangalengan, Reservasi Lebih Dulu

Jalan Jalan
ASEAN Tourism Forum 2023 di Yogya Dimulai, Ada Pameran Parekraf Selama 4 Hari

ASEAN Tourism Forum 2023 di Yogya Dimulai, Ada Pameran Parekraf Selama 4 Hari

Travel Update
Strategi Indonesia Pulihkan Pariwisata Pascapandemi, Luncurkan Visa sampai Pameran di Luar Negeri

Strategi Indonesia Pulihkan Pariwisata Pascapandemi, Luncurkan Visa sampai Pameran di Luar Negeri

Travel Update
Kelenteng Hok Tek Tjengsin, Tempat Ibadah 3 Agama di Kuningan Jakarta

Kelenteng Hok Tek Tjengsin, Tempat Ibadah 3 Agama di Kuningan Jakarta

Jalan Jalan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+