Kompas.com - 08/11/2013, 06:49 WIB
EditorI Made Asdhiana

”Saya penasaran dan ternyata benar-benar unik. Di pulau ini kita bisa berenang bersama ubur-ubur, bahkan memegangnya, tanpa harus takut disengat,” ujar Mias TW (23), warga Jakarta Barat, sambil menggenggam ubur-ubur di tangan kanannya. Mias berlibur ke Derawan bersama lima temannya.

Pulau Kakaban ditetapkan sebagai kawasan warisan dunia (World Natural Heritage Area) tahun 2004 oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Keunikannya adalah danau dengan ubur-ubur yang tak menyengat.

Di Sangalaki ada sensasi berbeda menyaksikan fenomena langka: puluhan penyu pada malam hari menuju pantai untuk bertelur. Di perairan pulau ini pengunjung juga bisa menyaksikan parade kawanan pari manta. Sangalaki adalah pusat habitat pari manta di dunia. Ahli ekologi kelautan pun menyatakan, keindahan taman laut dengan keanekaragaman biota laut di pulau yang luasnya sekitar dua kali lapangan bola itu termasuk nomor tiga di dunia.

Di Pulau Derawan, tak kalah mengejutkan, saat rombongan melintasi dermaga kayu, seekor penyu dengan lembut dan anggun melintas di perairan, seakan memberikan ucapan selamat datang. Penyu itu tampak jelas berenang di bawah dermaga karena air lautnya jernih.

Camat Pulau Derawan Zulfikar mengatakan, kunjungan wisatawan ke kawasan itu semakin meningkat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau mencatat, pada 2010 sebanyak 15.024 wisatawan datang ke kepulauan itu. Tahun 2011 jumlah itu meningkat jadi 20.953 orang dan tahun 2012 meningkat jadi 61.195 orang. Namun, kondisi itu membawa konsekuensi volume sampah di kepulauan itu semakin tinggi.

Kepulauan Derawan memiliki sejuta pesona. Namun, untuk ke lokasi itu tidak murah. Biaya menyewa kapal dari Tanjung Redeb paling murah Rp 8,5 juta untuk pergi pulang dengan kapasitas 15 orang.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau Janje Keka dan Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Esthy Reko Astuty tidak menyangkal mahalnya biasa transportasi itu. Untuk itu, perlu dicari upaya untuk menekannya jika Kepulauan Derawan akan menjadi destinasi wisata dunia. (Samuel Oktora)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.