Kompas.com - 09/11/2013, 11:29 WIB
Pengukir dari Distrik Atsj, Kabupaten Asmat, Papua, menyelesaikan pekerjaannya untuk diikutsertakan dalam seleksi Pesta Budaya Asmat. KOMPAS/WISNU WIDIANTOROPengukir dari Distrik Atsj, Kabupaten Asmat, Papua, menyelesaikan pekerjaannya untuk diikutsertakan dalam seleksi Pesta Budaya Asmat.
EditorI Made Asdhiana

Keesokan harinya, kami melihat kegiatan warga memahat ukiran di sanggar seni Asmat. Karya ukiran itu jugalah yang membuat Michael Rockefeller, putra Gubernur New York, Amerika Serikat, Nelson Rockefeller, datang ke Asmat untuk kedua kalinya pada tahun 1961. Ia ingin melengkapi koleksi keunikan ukiran Asmat yang akan dipamerkan di Museum Primitive Art, New York. Sayang, ia tewas di belantara Asmat dalam ekspedisi tersebut. Namun, berkat jasa-jasanya, Asmat dikenal dunia dan dianggap sebagai situs warisan dunia yang harus dilestarikan.

Pagi itu, enam pematung tekun mengerjakan ukiran mereka untuk diikutkan dalam seleksi Pesta Budaya Asmat Ke-27. Pesta yang diselenggarakan pada 9-14 Oktober lalu itu untuk mewadahi dan memperkenalkan kebudayaan Asmat kepada dunia luar. Bukan itu saja, ukiran hasil seleksi akan dilelang dengan nilai fantastis.

Dari kayu yang diukir, tidak terlihat gambar pola yang biasa dibuat sebelum diukir. Pikiran, mata, dan tangan mereka menyatu dengan pisau pahat yang terus bekerja. Imajinasi mereka terus mendampingi selama mengukir. Ketekunan dan kerja keras imajinasi mereka membuahkan hasil karya yang luar biasa.

Ukiran mempunyai peran penting dalam kehidupan orang Asmat. Ukiran hadir pada tifa, tameng, perahu, bahkan dayung. Awalnya, ukiran Asmat dibuat untuk mengenang dan menghadirkan roh leluhur. Seiring perkembangan zaman, tema ukiran berkembang. Sekarang ini banyak ukiran dibuat untuk melukiskan kehidupan sehari-hari.

Sama seperti ukiran, perahu juga mempunyai peran penting dalam kehidupan orang Asmat yang tinggal di sepanjang aliran sungai. Selain sebagai alat transportasi, perahu dari satu batang pohon berukuran besar juga digunakan untuk berburu dan berperang. Bahkan, sejumlah orang menganggap perahu Asmat adalah jew (rumah adat warga Asmat) berjalan. Aspek gotong royong dalam perahulah yang membuatnya disebut demikian.

Untuk membuat perahu dibutuhkan sedikitnya lima orang. Di Distrik Sawa Erma, Asmat, kami melihat setiap orang mempunyai peranan masing-masing dalam proses pembuatan perahu. Ada yang berperan sebagai pembuat cekungan di batang pohon, menghaluskan, dan juga membuat ukirannya. Saat perahu digunakan, lima hingga enam warga mendayung bersama. Nilai kebersamaan tergambar dari perahu tradisional Asmat.

Bagi sejumlah warga, saat ini kebersamaan dan gotong royong semakin luntur dengan banyaknya bantuan perahu fiber bermesin dari pemerintah. Semangat mendayung bersama mulai digantikan dengan uang bensin. Warga menyebut pengguna perahu fiber dengan ”pantat fiber”. Ya, karena mereka tinggal duduk dan menarik gas, bukan berdiri dan mendayung bersama.

Asmat memang berhadapan dengan perubahan zaman dan gaya hidup. Semoga keteduhan dan keguyuban warga tidak berubah. (Wisnu Widiantoro)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.