Investor Hotel dan Kafe Masuk Kota Lama Semarang

Kompas.com - 14/11/2013, 13:09 WIB
Dua remaja menaiki sepeda kebo tandem di kawasan Kota Lama, Semarang, Jateng, Rabu, (18/9/2013). Dua sepeda karya Komunitas Oase tersebut akan disewakan pada acara Symfoni Kota Lama Sabtu (21/9/2013). TRIBUN JATENG/WAHYU SULISTIYAWANDua remaja menaiki sepeda kebo tandem di kawasan Kota Lama, Semarang, Jateng, Rabu, (18/9/2013). Dua sepeda karya Komunitas Oase tersebut akan disewakan pada acara Symfoni Kota Lama Sabtu (21/9/2013).
EditorI Made Asdhiana
SEMARANG, KOMPAS.com - Angin segar bagi pengembangan iklim bisnis di kawasan Kota Lama. Dipastikan, ada tiga investor yang siap menggunakan tiga bangunan kuno di lokasi tersebut.

Sekretaris Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Albertus Kriswandhono mengatakan, tiga investor itu melirik bangunan-bangunan bekas perniagaan masa kolonial.

Ketiga bangunan itu adalah Gedung Van Dorp Jl Branjangan yang akan dikembangkan sebagai hotel. Dulunya gedung ini dipakai penerbitan percetakan GCT van Dorp dan sekarang sebagai kantor Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Jawa Tengah.

Selanjutnya, gedung PT Perkebunan XV Jl Mpu Tantular yang akan dibuat sebagai tempat ruang publik atau komunitas berkumpul serta gedung Sekretariat BPK2L Jl Merak yang dijadikan tourist center.

“Sebenarnya masih ada beberapa bangunan lagi yang hingga kini masih proses negosiasi antara investor dan pemilik bangunan. Hanya ada tiga bangunan yang sudah deal," kata Kriswandhono saat ditemui dalam evaluasi workshop Urban Heritage di kampus Unika Soegijapranata, Rabu (13/11/2013).

Kegiatan workshop Urban Heritage bertema“Composing a Business Plan of Semarang Old Town with Steef Buijs”ini berlangsung sejak 6 November lalu.

Dipaparkannya, bangunan-bangunan lain yang juga dilirik investor berjumlah delapan unit. Kelima bangunan lainnya adalah Gedung Koperasi Batik Indonesia (GKBI) Jl Mpu Tantular sebagai pusat batik, gedung BTPN sebagai tempat kuliner, dan lahan bekas Hotel Jansen di Jl Letjen Suprapto sebagai hotel.

Kemudian, gedung eks RSB Panti Siwi Jl Ronggowarsito sebagai tempat pengobatan alami, gedung Mandiri Jl Gelatik sebagai rumah makan.

"Dari ke delapan bangunan itu, proses negosiasi yang sulit ditemui pada gedung GKBI. Gedung tersebut milik pemerintah. Sehingga untuk mengurus pemanfaatan kembali oleh swasta harus melalui proses birokrasi yang sangat rumit," keluhnya.

Kris menambahkan, rekomendasi bisnis di Kota Lama akan segera disosialisasikan. “Target kami bulan Desember mendatang sudah bisa disampaikan ke publik,” katanya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X