Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/11/2013, 11:58 WIB
EditorI Made Asdhiana
SORE yang hangat di Pantai Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Stefan Rafael (44) mengenakan pakaian selam, kacamata, dan alat pernapasan. Ia berenang ke tengah laut, mengawal rakit yang membawa dua bongkah pemberat pelampung atau ”mooring buoy”. Sesaat kemudian, pantai berair jernih itu punya tempat baru untuk ”parkir” perahu.

Rakit itu ditarik oleh perahu nelayan bermesin tempel. Stefan berenang di belakang rakit seolah mendorongnya. Setelah menemukan lokasi yang tepat, mesin perahu dimatikan. Dua orang di atas rakit bersiap mencemplungkan bongkahan berbentuk kotak dan silinder seberat masing-masing 250 kilogram itu.

Keesokan harinya, Stefan menjelaskan, bongkahan itu tersusun atas sampah yang mereka kumpulkan di sekitar pantai ataupun yang ”disumbangkan” masyarakat. Komponen utama menggunakan kulkas dan tong bekas. Ruang di dalamnya diisi dengan sampah plastik, pecahan kaca, dan kaleng.

Sampah-sampah itu dicampur dengan semen sehingga kulkas dan tong bekas menjadi padat. Pada sisi luar kulkas dan tong ”ditanamkan” ban bekas, biasanya ban-ban bekas mobil. Setengah lingkaran ban itu berfungsi sebagai pengait tambang, juga penahan bongkahan agar tidak bergeser. Biasanya Stefan menanam tiga hingga empat ban pada sebuah bongkahan.

Bongkahan itu terhubung dengan pelampung bulat berwarna jingga melalui tali tambang di permukaan laut. Pada pelampung itu ada simpul tali untuk mengikat tali tambang perahu yang parkir.

”Jadi, fungsi bongkahan yang dibenamkan itu menggantikan peran jangkar,” kata Stefan.

Pelampung itu membatasi wilayah pantai yang boleh dimasuki perahu, terutama perahu besar berbobot di atas 30 ton. Lokasi sekitar pelampung itu merupakan tempat parkir bagi perahu. Nelayan sekitar pun bisa mendapat tambahan uang dari pelampung yang dipakai parkir perahu.

Mooring buoy hasil rekayasa Stefan itu merupakan penyempurnaan dari penambat pelampung yang dibuat oleh pemerintah. Sebelumnya, penambat itu dibuat dari tong plastik baru dan penahannya terbuat dari besi tajam, biasanya linggis.

Oleh karena banyak memakai bahan baru, penambat itu sering dicuri orang. Selain itu, linggis yang dipakai untuk menahan penambat agar tidak bergeser justru merusak terumbu karang.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Sejumlah kapal berlabuh di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/6/2012). Dari sinilah para wisatawan menuju sejumlah pulau yang menjadi habitat alami satwa endemik komodo, seperti Pulau Rinca, Pulau Komodo, Nusa Kode, dan Gili Motang.
Stefan menyebut penambat pelampung buatannya ramah terhadap terumbu karang. Menurut dia, semen adalah medium yang bagus untuk tempat hidup terumbu karang. Ikan bisa hidup di antara terumbu karang ini. Selain itu, lobster dan tiram biasanya bersembunyi di sisi dalam ban bekas.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Main ke Boemisora Semarang, Bisa Belanja 2 Oleh-oleh Ini

Main ke Boemisora Semarang, Bisa Belanja 2 Oleh-oleh Ini

Jalan Jalan
Pelayaran Rute Kepri-Kalbar Kini hanya 24 Jam Pakai Kapal Roro Terbaru

Pelayaran Rute Kepri-Kalbar Kini hanya 24 Jam Pakai Kapal Roro Terbaru

Travel Update
Datang ke Perayaan Cap Go Meh di Bekasi, Catat 4 Hal Penting Ini

Datang ke Perayaan Cap Go Meh di Bekasi, Catat 4 Hal Penting Ini

Travel Tips
Cap Go Meh Bogor 2023: Jam Mulai dan Pengalihan Jalannya

Cap Go Meh Bogor 2023: Jam Mulai dan Pengalihan Jalannya

Travel Update
Aturan Bea Cukai yang Perlu Diketahui Saat Pulang dari Luar Negeri

Aturan Bea Cukai yang Perlu Diketahui Saat Pulang dari Luar Negeri

Travel Tips
Cap Go Meh di Bogor Digelar Hari Ini, Catat 6 Tips Berkunjung Berikut

Cap Go Meh di Bogor Digelar Hari Ini, Catat 6 Tips Berkunjung Berikut

Travel Tips
Panduan Lengkap Wisata ke Boemisora di Kabupaten Semarang

Panduan Lengkap Wisata ke Boemisora di Kabupaten Semarang

Travel Tips
Asyiknya Olahraga Sambil Nongkrong di Lapangan Sempur Bogor

Asyiknya Olahraga Sambil Nongkrong di Lapangan Sempur Bogor

Travel Promo
Wapres Ma’ruf Amin: Wisata Halal Ada di China dan Korea Selatan

Wapres Ma’ruf Amin: Wisata Halal Ada di China dan Korea Selatan

Travel Update
Penutupan Pekan Budaya Tionghoa 2023, Malioboro Dipadati Ribuan Pengunjung

Penutupan Pekan Budaya Tionghoa 2023, Malioboro Dipadati Ribuan Pengunjung

Travel Update
Jangan Salah, Wisata Halal dan Wisata Religi Ternyata Beda

Jangan Salah, Wisata Halal dan Wisata Religi Ternyata Beda

Travel Update
Surabaya Punya Lebih dari 900 Taman, Bisa Jadi Tempat Main Anak

Surabaya Punya Lebih dari 900 Taman, Bisa Jadi Tempat Main Anak

Travel Update
Situ Cipondoh, Sydney Opera House-nya Tangerang yang Harus Dijaga

Situ Cipondoh, Sydney Opera House-nya Tangerang yang Harus Dijaga

Jalan Jalan
Cara Menghitung Pajak Barang Bawaan dari Luar Negeri, Cek Simulasinya

Cara Menghitung Pajak Barang Bawaan dari Luar Negeri, Cek Simulasinya

Travel Tips
Cara Daftar dan Dokumen Apa Saja yang Diperlukan untuk Bikin Visa Jepang

Cara Daftar dan Dokumen Apa Saja yang Diperlukan untuk Bikin Visa Jepang

Travel Update
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+