Wamenparekraf: Ombak Bono Aset Pelalawan

Kompas.com - 20/11/2013, 15:09 WIB
Sejumlah peselancar lokal bersaing untuk dapat berdiri paling lama saat berkompetisi di lomba selancar gelombang bono, Sungai Kampar, Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Selasa (19/11/2013). Lomba yang diikuti 30 peserta tersebut merupakan rangkaian dari Festival Bekudo Bono 2013. Acara diselenggarakan 17-23 November dengan beragam kegiatan, mulai dari lomba memancing, berselancar hingga pergelaran budaya lokal dan bazar. TRIBUN PEKANBARU/MELVINAS PRIANANDASejumlah peselancar lokal bersaing untuk dapat berdiri paling lama saat berkompetisi di lomba selancar gelombang bono, Sungai Kampar, Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Selasa (19/11/2013). Lomba yang diikuti 30 peserta tersebut merupakan rangkaian dari Festival Bekudo Bono 2013. Acara diselenggarakan 17-23 November dengan beragam kegiatan, mulai dari lomba memancing, berselancar hingga pergelaran budaya lokal dan bazar.
EditorI Made Asdhiana
PEKANBARU, KOMPAS.com - Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Sapta Nirwandar secara resmi membuka Festival "Bekudo Bono 2013" di Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, yang juga menghadirkan para peselancar lokal dan asing dari Bali, Selasa (19/11/2013).

Pembukaan agenda pariwisata yang dibalut dengan olahraga ekstrem berselancar di ombak muara Sungai Kampar itu ditandai dengan pelepasan ratusan balon ke udara.

Hadir dalam acara tersebut Pelaksana Tugas Gubernur Riau Mambang Mit, Bupati Pelalawan HM Harris dan pejabat lainnya. "Ini (ombak Bono) harus kita jaga sebagai aset Pelalawan, aset Riau dan aset Indonesia," kata Sapta.

Rangkaian Festival Bekudo Bono sebenarnya sudah dimulai sejak tanggal Sabtu (16/11/2013) dan akan berlangsung hingga Jumat (22/11/2013) atau selama sepekan.

Bono merupakan ombak di muara Sungai Kampar tercipta karena pertemuan dua arus dari sungai dan laut, yang pada akhir tahun mencapai puncak tertinggi karena pengaruh bulan purnama.

Menurut Sapta, Bono sudah termasuk dalam catatan sebagai ombak di sungai (tidal bore) terbaik di dunia melebihi yang telah ada di Inggris, Brasil, China, dan Alaska.

Pariwisata Bono memiliki keunikan yang akan selalu dicari para pencita olahraga ekstrem, sehingga festival tersebut perlu dikembangkan dengan lebih banyak melibatkan masyarakat dan budaya setempat.

Selain itu, Sapta mengatakan yang perlu diperhatikan adalah menjaga ekosistem di sekitar sepanjang aliran Sungai Kampar sebagai satu kesatuan paket wisata yang bisa dikembangkan.

Menurut Sapta, Kemenparekraf sudah berkomitmen untuk memajukan wisata Bono, yang diharapkan juga terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

"Mari kita jadikan Bono sebagai wisata yang unik yang akan menyapa dunia," katanya.

Halaman:


Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X