Soto Mengalir sampai Jauh...

Kompas.com - 08/12/2013, 18:46 WIB
Warga Dayak Bakumpai di Desa Bagus, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, mengarak pasangan pengantin Anton Hilman (27) dan Rima Wahyuningsih (24) yang naik naga-nagaan berkeliling kampung yang lokasinya di tepian Sungai Barito, Minggu (27/10/2013). KOMPAS/DEFRI WERDIONOWarga Dayak Bakumpai di Desa Bagus, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, mengarak pasangan pengantin Anton Hilman (27) dan Rima Wahyuningsih (24) yang naik naga-nagaan berkeliling kampung yang lokasinya di tepian Sungai Barito, Minggu (27/10/2013).
EditorI Made Asdhiana
SOTO banjar, mungkin makanan khas Kalimantan Selatan yang paling dikenal banyak orang. Di balik rasa manis dan lontong sotonya yang khas itu, tersembunyi kisah panjang persuaan orang Banjar dan orang Dayak.

Sang mempelai, Anton (27) dan Rima (24), baru saja mengikuti bausung naga (naik naga), sebuah prosesi mengarak pasangan pengantin Dayak Bakumpai di Desa Bagus, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Duduknya kedua pengantin di pelaminan menjadi awal dari mengalirnya beraneka suguhan.

Ada sejumlah menu lokal yang dihidangkan dalam pesta pernikahan itu, mulai dari lontong, ayam sambal merah, hingga ikan ampal pari. Di antara berderet-deret piring, terdapat sajian soto.

Potongan lontong di soto dan nasi pada sup, telur, bihun, serta irisan daging ayam sungguh serupa dengan soto banjar yang memang selalu disajikan bersama lontong. Rasa segarnya, juga gurihnya perkedel, menyejukkan terik siang di tepian Sungai Barito.

”Masakan kami memang sama dengan masakan banjar,” ujar Hairani, kerabat salah seorang mempelai, menjelaskan menu masakan yang ada. Menurut pihak keluarga, menu itu sudah berlangsung turun-temurun warisan pendahulu dan biasa dikonsumsi sampai sekarang.

Urang Banjar memang tetangga dekat masyarakat Dayak Bakumpai. Jarak antara Marabahan dan Kota Banjarmasin hanya sekitar 40 kilometer. Selain dihubungkan jalan darat yang bagus, alur Barito, yang menjadi kantong bermukim orang Dayak Bakumpai, juga bermuara ke Banjarmasin.

Rakyat sampai gubernur

Soto berlontong tak hanya hadir dalam hidangan pesta orang Dayak Bakumpai. Makanan ini kerap hadir di meja makan Yulinda Syaer Sua yang dibesarkan dalam tradisi kuliner Dayak Ngaju di Palangkaraya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.

”Saya pun kerap memasak soto serupa dengan soto banjar, memakai lontong dan perkedel. Bedanya, soto masakan saya tak pakai kemiri. Kunyit yang dipakai sangat sedikit sehingga kuahnya bening. Perkedelnya, perkedel kentang,” tutur Yulinda.

Gubernur Kalimantan Tengah A Teras Narang menyebutkan, soto berlontong yang kini tersebar di Kalimantan memang berakar dari Banjar. Kendati soto banjar menjadi nama generik untuk soto berlontong, cita rasa soto di sejumlah wilayah di Kalimantan berlainan

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X